Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 70: Kedatangan William


__ADS_3

Sinar mentari telah bekerja sejak tadi, tetapi seorang gadis yang menyukai kehidupan malam masih bergumul di bawah selimut dengan sangat nyenyak. Sebuah ketukan di luar pintu kamar seolah menjadi alarmnya pagi ini. Panggilan dari sang pelayan bukannya membangunkan seorang Jessica, tapi gadis itu malah semakin rapat menutup telinga dengan bantalnya.


Setengah jam lamanya Jessica enggan membuka mata, tetapi semakin lama gedoran pintu bertambah kuat. "Jessica, buka pintunya sekarang atau Mommy akan merusaknya."


Teriakan di luar seolah menarik Jessica dari mimpi. "Mampus aku!" Dia langsung beranjak sebelum singa betina benar-benar memakannya sebagai sarapan.


Sebelum membuka pintu Jessica terlebih dulu mengacak-acak rambutnya agar terlihat lelah. Dia menatap cermin sejenak dan berekspresi memelas supaya sang ibu tidak marah nantinya.


Setelah semua sandiwara siap, dengan berpura-pura lemas Jessica membuka pintu. Selimut tebal masih membalut tubuhnya saat itu supaya semakin meyakinkan sang ibu. "Kenapa membangunkan aku pagi-pagi, Mom? Aku sedang tidak enak badan."


"Benarkah?" Jessi segera meletakkan punggung tangannya di dahi sang anak. Namun, bukannya bersimpati malah sebuah sentilan mendarat di dahi gadis itu. "Berhentilah berpura-pura! Ini sudah siang bukan lagi pagi. Makanya anak gadis jangan suka keluyuran malam-malam! Di bawah ada seorang pria menunggumu, kalau kau masih mau tidur. Mommy, akan mengusirnya saja."

__ADS_1


"Apa?" Selimut di tubuh Jessica langsung terlepas saat itu juga. Rasa penasaran membuatnya lupa akan penampilan dan mendahului sang ibu untuk melihat siapa yang datang.


Kedua bola mata Jessica hampir saja keluar dari tempatnya melihat sosok tampan yang kini duduk di seberang sang ayah. "Paman, kenapa kau di sini?" ucap Je tanpa sadar.


Sebuah senyum melengkung di wajah Liam. Mungkin Jessica juga melupakan apa yang terjadi sebelumnya sama seperti Jennifer. Akan tetapi, panggilan barusan jelas membuktikan jika keduanya memang pernah mengenal di bawah alam sadar Jessica.


"Je, kenapa berpenampilan seperti itu?" tanya Nicholas melihat putrinya.


"Tidak. Aku sehat." Dengan segera Jessica menyanggah dan duduk di samping Liam tanpa tahu malu. Nyawanya sedang dipertaruhkan kali ini kalau memang pria itu sampai meminta kasino milik ibunya. "Apa yang kau lakukan di sini?" bisiknya.


"Hei! Kenapa malah menempel padanya! Dasar gadis tak tahu malu. Lihat air liurmu yang mengering bahkan masih menempel di bibirmu! Mandi sana! Baru temui kami di sini. Bikin malu saja," bentak Jesslyn lantas duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Ish, Mommy. Ini 'kan air liur pembawa berkah. Bisa mencetak pulau sebanyak-banyaknya di atas bantal. Lagi pula aku masih tetap cantik meskipun baru bangun tidur."


"Mandi dulu sana! Napasmu terlalu bau kalau kau berbicara sedekat itu dengannya. Lagian lihat rambutmu! Bahkan sarang burung lebih bagus dari itu."


Kedua orang pria hanya tersenyum kecil sambil menggeleng melihat tingkah ibu dan anak tersebut. Kini Liam mengerti dari mana asal mulut pedas Jessica selama ini. Hak itu tidak lain berasal dari sang ibu yang bahkan lebih menyeramkan dari induk ayam yang baru saja menetaskan anaknya.


Dengan kesal Jessica beranjak, tetapi sebelum itu dia kembali berbisik pada Liam. "Jangan mengatakan apapun kepada kedua orang tuaku tentang apa yang kita pertaruhkan semalam. Atau kau akan mati hari ini juga di tangan ibuku."


"Apa bisik-bisik? Cepat mandi sana!" Bentak Jesslyn.


"Ish, Mommy ini. Tak sabaran. Iya-iya aku mandi."

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2