
Sebelum kecelakaan terjadi Su Man To menghubungi Richard terlebih dahulu. Dia baru menyampaikan pesan agar menjaga Jenni tiba-tiba saja kecelakaan itu terjadi.
Hal itu pula yang membuat Richard bergegas mencari lokasi Su Man To dan benar adanya pria paruh baya tersebut terlibat dalam kecelakaan hebat, serta berakhir masuk ke dalam jurang. Beruntungnya nyawanya masih tersisa sehingga seketika setelah diselamatkan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Sementara itu, Je yang mendapatkan kabar bergegas bergerak. Setibanya di rumah sakit, dia langsung berlari menuju tempat di mana Su Man To ditangani. Tampak Richard sudah ada di sana karena memang sebelum terjadi kecelakaan pria tersebut tengah menghubunginya.
"Di mana Ayah?" tanya Je dengan raut kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Meskipun bukan ayah kandung baginya, tetapi perasaan Jenni terasa jelas dalam diri wanita tersebut.
"Dia sedang di operasi," ujar Richard.
Untuk sejenak Je hanya menatap ruangan di depannya, sedangkan Jenni entah pergi ke mana setelah mendengar ayahnya terluka. Mungkin sudah menyelinap ke ruang operasi sambil menangis sesenggukan di samping pria itu. Atau malah menyusul, membukakan pintu agar Su Man To lebih cepat ke alam baka.
Je duduk di kursi yang tersedia sambil mengusap kasar wajahnya. Sungguh menyebalkan rasanya jika mengkhawatirkan kondisi seseorang, padahal sebelumnya dia tak pernah merasakan hal itu karena keluarganya di sana memang tak pernah membuatnya khawatir.
Sejenak dia menutup wajah dengan telapak tangan sambil menunduk, sedangkan Richard duduk di sampingnya sambil mengusap punggung gadis itu agar merasa tenang. "Tenanglah! Semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut gadis itu. Hingga beberapa saat kemudian barulah dia menyadari sesuatu yang ganjal di sini. "Tunggu, bagaimana bisa kau tahu ayahku kecelakaan?" tanya Je dengan tatapan tajam ke arah Richard.
"Em, itu." Richard ragu untuk menjawab, tetapi tatapan Je yang tampak begitu menakutkan membuatnya juga tak bisa menahan diri berbohong lebih jauh.
Sejenak Richard menghela napas panjang. "Sebenarnya aku menjadi dokter di kesehatan sekolah karena Ayahmu."
"Ayah?" Je mengernyitkan dahi dan bingung dengan apa yang dimaksud Richard.
"Ayahmu mengirimku ke sana untuk menjagamu dari kejauhan tanpa dicurigai orang lain," jelas Richard.
"Entah kenapa dia melakukan hal itu. Tapi sebenarnya dia sangat menyayangimu," ujar Richard sambil menepuk bahu Je perlahan.
"Bagaimana bisa kau mengenalnya?"
"Apa kau masih amnesia sampai sekarang?" Jessi hanya mengernyitkan dahi dan sukses membuat Richard gemas hingga menyentil dahi berponi Je. "Apa kau bahkan lupa jika kita pernah bertetangga?"
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Richard, Je dengan pukulan kuat mengayunkan tangan ke kepala Richard hingga membentur tembok. "Kenapa kau menyentil dahiku, hah? Bagaimana kalau aku gegar otak?" teriak Je dengan kesal karena teringat akan sang kakak yang selalu memperlakukannya seperti itu.
Sementara itu, Richard hanya bisa mencebikkan bibir mendengar ocehan Je sambil memegang kepala yang sudah sakit dipukul masih terbentur dinding pula. "Seharusnya aku yang marah bukan kau," gumamnya lirih, tetapi Je masih mendengar dengan jelas.
"Apa kau bilang tadi?"
"Tidak!"
Suara pintu dibuka dari ruang operasi berhasil menghentikan perkelahian keduanya seketika. Je dan Richard segera mendekati dokter tersebut dan mencerca berbagai pertanyaan.
"Bagaimana kondisi Ayah saya, Dok? Apa dia sudah mati?" tanya Je sontak lengkap dengan kebodohannya.
"Sembarangan kalau bicara! Kualat jadi anak baru tahu rasa kamu, Je." Potong Richard dengan cepat dan bertanya baik-baik pada sang dokter.
TO be Continue ...
__ADS_1