
“Kiran, ke ruangan saya!”
“Siap, Capt.” Xena Sasikirana Ghazali, seorang Bintara muda berdiri tegap di samping meja kerjanya. Keluarga dan teman-teman dekatnya memanggil ia Kiran, rekan kerja dan orang-orang yang baru mengenalnya memanggil ia Xena.
“Kiran…” Arnold tampak ragu untuk mengatakan hasil keputusannya.
“Siap, Capt.”
Kiran menatap atasannya penuh dengan tanda tanya.
“Ada misi buat kamu. Misi kamu sekarang menyamar jadi anak SMA.”
“Apa, Capt?” tanya Kiran masih tidak percaya dengan pendengarannya.
“Kamu jadi anak SMA.” ulang Arnold.
“Jadi anak SMA gimana urusannya, Capt? Umur saya 28 tahun, gimana jadinya saya jadi anak SMA. Capt mah ada-ada saja.” Kiran masih belum bisa percaya dengan apa yang diperintahkan atasannya.
“Ini sudah jadi keputusan dari atasan. Misi kita kali ini sedikit sensitif karena melibatkan orang-orang yang sensitif juga.”
Kiran mengangguk tanda mengerti dengan kata sensitif yang dikatakan oleh atasannya. Jika sudah keluar kata orang-orang sensitif maka sudah dipastikan misi kali ini berhubungan dengan orang-orang penting di negara ini.
“Tapi kenapa harus jadi anak SMA, Capt?” Kiran masih pura-pura belum paham dengan tugasnya kali ini.
“Karena kasus kali ini bisa jadi berhubungan dengan sekolahan.”
“Maksudnya gimana nih, Capt?”
“Ada kasus narkoba di sebuah SMA dimana anak dari seorang pejabat bersekolah.”
“Apa anak itu pengedar?” tanya Kiran.
__ADS_1
“Kita belum bisa memastikan. Tugas kamu nanti mengawasi anak itu dan tunggu arahan selanjutnya apakah kita harus mengawasi atau melindungi dia.”
“Saya masih tidak mengerti bagaimana bisa saya ditempatkan di sekolahan. Apa muka saya gak ketuaan buat jadi anak sekolahan? Bagaimana kalau menyamarnya jadi gurunya saja?” usul Kiran.
“Kalau jadi guru kamu tidak bisa mengawasi anak itu. Kita sudah menempatkan yang lain untuk menjadi guru. Nanti siang, tim kita akan rapat.”
“Jadi Kiran gak bisa nolak nih, Om?” rajuknya pada Arnold.
“Ah kamu, kalau begini sudah begini keluar manjanya sama Om.” kekeh Arnold.
“Bisa nawar gak?” Kiran masih coba untuk merayu.
“Tidak.” tegas Arnold.
“Om…..”
“Siang nanti kita rapat dengan anggota tim yang lain. Saya sudah selesai dengan kamu. Kembali ke tempat.” perintah Arnold.
Arnold terkekeh melihat keponakannya kesal.
************
"Kenapa muka ditekuk begitu?" tanya Dinda, ibu Kiran saat Kiran pulang ke rumah.
"Kiran capek, Ma."
"Anak gadis jarang pulang. Kapan Mama punya mantu laki-laki kalau anak gadisnya jarang pulang karena sibuk kerja. Punya dua anak tapi tidak ada yang sayang sama mamanya."
"Yey, memangnya rasa sayang Kiran sama Mama harus ditunjukkan dengan bawa calon mantu buat Mama?"
"Iya, dong. Mbak Indri sudah punya cucu 2, sebentar lagi punya 4. Masa Mama, calon mantu saja belum punya. Apa kata dunia?"
__ADS_1
"Ya dunia gak akan bilang apa-apa sih, Mam. He-he-he," kekeh Kiran.
"Kalau dalam waktu satu bulan kamu tidak bawa pulang calon mantu, Mama mau kenalkan kamu sama anaknya teman-teman Mama. Kamu tidak boleh menolak! Kalau kamu menolak, Mama coret nama kamu dari kartu keluarga," ancam Dinda.
"Berani sekali Mama mengancam aparat. Mama mau dipenjara?"
"Halah, lagumu mau penjarain Mama. Mama tinggal liburan aja nangis," goda Dinda.
"Ih, siapa yang nangis? Kapan pula Kiran pernah nangis karena ditinggal Mama?"
"Beneran nih, kamu gak akan nangis Mama tinggal. Kalau Mama meninggal sebelum Mama menyaksikan kamu menikah bagaimana?"
"Mama! Jangan ngomong begitu! Kiran gak suka."
"Lah, kan kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut akan menjemput kita. Mama hanya tidak mau kamu menyesal kalau menikah nanti tidak dihadiri Mama."
"Ya tapi jangan ngomong begitu dong, Mam. Kiran selalu berdoa biar Mama panjang umur dan nanti bisa menyaksikan Kiran atau Abang menikah."
"Kapan?"
"Suruh aja Abang yang menikah duluan. Umur dia udah lebih dari 30 tahun. Kalau Kiran kan masih lama 30 tahunnya. Kiran janji deh kalau sudah 30 tahun, Kiran bakal menikah. Kalaupun Kiran belum bisa bawa calon mantu buat Mama, Kiran izinkan Mama buat kenalin anak-anak dari teman-temannya Mama. Tapi tunggu Kiran umur 30 tahun dulu."
"Kenapa harus tunggu sampai 30 tahun sih?"
"Target Kiran, Ma. Kiran punya target menikah usia 30 an."
"Ah, lama-lama capek ngomong sama kamu. Ada saja jawabannya." Dinda melengos meninggalkan Kiran menuju dapur.
Kiran terkikik melihat kekesalan dari raut wajah ibunya.
**********
__ADS_1
to be continued...