
“Siapa nama kamu?” seorang siswa cantik yang tadi mencibirnya datang mendekat.
“Annisa,” jawab Kiran santai.
“Aku peringatkan ya, jangan berani-berani dekat sama Baim. Dia itu milik gue.”
Priska Novella
Kiran membaca badge nama di kameja putih perempuan di hadapannya.
“Kalau menuruti emosiku, sudah pasti aku akan membalas perlakuan dia kepadaku. Tapi aku harus mengingat bahwa aku disini untuk menyelesaikan misi. Aku harus bersikap low profile agar tidak terlalu mengundang perhatian banyak pihak,” ucap kiran dalam hati. Kiran mengingat misi yang harus dijalaninya di sekolah ini dan dia harus bersikap hati-hati.
Kiran berusaha menahan emosi dan bersikap santai, tapi sikap santainya malah membuat Priska emosi. “Kenapa diam? Kamu mengejekku, hah?”
“Maafkan saya, tapi saya tidak bermaksud untuk dekat, mendekati ataupun menggoda Baim,” ucap Kiran tegas. “Dasar cewek gila. Orang diam disebut ngejek, gimana kalau ngejek beneran, dia sebut apa?” rutuk Kiran dalam hati.
“Awas kalau kamu berani mengingkari perkataan kamu. Kamu tidak akan bisa membayangkan hal apa yang akan kamu alami kalau kamu berani melawan Priska Novella,” ancamnya.
Kiran pura-pura patuh dengan apa yang diucapkan Priska dengan menundukkan kepala.
Priska mendorong bahu Kiran hingga sedikit terhuyung. Untuk mendramatisir keadaan, Kiran menjatuhkan diri hingga tersungkur akibat dorongan Priska. Padahal dengan kekuatan yang dimiliki Kiran yang rutin melakukan latihan fisik setiap hari, tidak akan menyebabkannya terjatuh hanya karena dorongan lemah.
Kiran berusaha berdiri dan duduk di kursi, memperlihatkan ekspresi wajah kesakitan. Ia sedang mengelus-ngelus siku tangannya yang tadi terkena ujung meja saat jatuh ketika Baim masuk ke dalam kelas.
“Kamu kenapa, Nis?” tanya Baim khawatir melihat ekspresi wajah Kiran yang terlihat kesakitan.
“Eh, tadi siku aku terkena ujung meja,” jawab Kiran dengan ekspresi kesakitan.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak hati-hati?” tanya Baim.
“Tadi si Priska mendorong dia sampai jatuh,” bisik salah seorang siswi.
“Sialan si Priska. Apa maksudnya dia maen dorong segala?” Baim menggebrak meja karena emosi.
“Sudah, tidak apa-apa. Mungkin dia tidak sengaja melakukannya,” ujar Kiran menenangkan Baim yang emosi. Kiran tidak menyangka bahwa akan ada siswa lain yang melaporkan kejadian tadi pada Baim.
Kiran mulai menyesal dengan drama yang dibuatnya. Ia khawatir kalau Baim akan melabrak Priska dan membuat semuanya jadi runyam. Ia yakin jika latar belakang keluarga Priska tidak sembarangan. Seperti teman-temannya dulu semasa SMA, beberapa siswa yang sok jagoan di sekolah, berlatar belakang keluarga yang tidak biasa.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Nis. Priska gak bisa semena-mena nge-bully kamu,” ujar Baim emosi, lalu keluar untuk mencari Priska.
Beberapa saat kemudian Baim kembali ke kelas diikuti oleh Priska dan kedua temannya.
“Cepat minta maaf!” perintah Baim tegas.
“Lu gak denger?” bentak Baim.
“Gue minta maaf.” Priska tidak mengucapkannya dengan tulus.
“Yang bener kalau minta maaf,” bentak Baim lagi.
“Bodo amat!” Priska langsung berbalik dan kembali ke bangkunya.
“Dasar cewek kurang ajar!” Baim bermaksud untuk melabrak Priska lagi.
“Sudah, Im.” Kiran menarik lengan Baim.
__ADS_1
“Gak bisa begitu, Nis.”
“Sudah tidak apa-apa. Toh, aku juga gak kenapa-napa. Sudah jangan bikin masalah ini jadi lebih besar,” pinta Kiran.
“Ya sudah. Karena ini permintaan kamu, aku tidak akan melabrak si Priska itu, tapi kalau nanti terjadi lagi hal seperti ini, jangan halangi aku,” ujar Baim sambil menatap Kiran.
“Terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah menolong dan membela aku,” ucap Kiran tulus.
“Duuuuh, kok ini anak manly banget. Udah ganteng, pintar, baik juga. Fix ini, dia jadi idolaku.” Hati Kiran melayang.
“Stop, Xena Sasikirana. Dia masih bocah. Kamu tidak bisa bersikap seperti ini pada laki-laki yang masih bocah. Jangan biarkan diri kamu melambung ke angkasa. Kalau jatuh nanti sakit.” Sisi kanan Kiran mengingatkannya.
“Tidak apa-apa, Xena Sasikirana. Walau bocah, dia kan ganteng dan pintar. Tidak apa-apa kalau kamu memang suka sama dia.” Sisi kiri Kiran membujuk.
“Eeeh, tidak boleh. Kamu tidak boleh jatuh cinta sama bocah. Kalau kamu memang mau mencari pacar, cari saja guru muda di sini. Jangan main-main dengan bocah.” Sisi kanan Kiran kembali mengingatkan.
“Kalau main-main saja kan tidak apa-apa. Lumayan bisa buat mood booster. Jadi kamu bisa lebih semangat menjalankan misi,” bujuk sisi kiri Kiran.
“Fokus sama misi kamu. Jangan biarkan bocah ini mengganggu fokus kamu,” ujar sisi Kanan Kiran terus mengingatkan.
“Tapi kan…” Sisi kiri Kiran mulai mendebat.
Teeeeet…..
Kiran tersadar dari lamunannya mendengar bunyi bel masuk.
***********
__ADS_1
to be continued...