
“Darimana kamu jam segini baru pulang?” suara tajam Tema menyambut Kiran.
“Eh, ngapain Pak Tema disini?” tanya Kiran kaget melihat Tema sudah berdiri di hadapannya sambil bersedekap dada.
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya?” suara Tema masih terdengar tajam.
“Dari sekolah lah,” jawab Kiran santai.
“Jam pulang sekolah itu jam 3. Sekarang hampir magrib, hampir jam 6,” ujar Tema tegas.
“Nonton dulu Baim main basket. Lagian kenapa sih Pak Tema marah-marah sama saya? Perasaan kalau saya pulang tengah malam juga gak ada urusannya sama Bapak,” jawab Kiran kesal.
“Tentu saja jadi urusan saya. Saya adalah guru kamu. Kewajiban saya untuk tidak membiarkan murid-murid saya bertindak seenaknya.” Suara Tema tajam menghujam.
__ADS_1
“Iiiiih…siapa juga yang bertindak seenaknya? Saya gak ngapa-ngapain juga. Cuma nonton anak-anak cowo main basket. Emang ada larangan tidak boleh nonton teman sendiri main basket. Tadi juga masih banyak anak-anak yang belum pulang,” protes Kiran.
“Tapi kamu tinggal sendiri di sini. Kamu tidak tinggal bersama dengan orangtua kamu dan jauh dari pengawasan mereka. Saya, sebagai guru kamu berperan sebagai orangtua kamu di sini. Saya berkewajiban mengawasi kamu. Saya tidak ingin murid-murid saya salah bergaul.” Tema mulai merendahkan nada suaranya, tidak begitu tajam seperti tadi.
“Dasar Tema sialan. Aku ini bukan anak-anak lagi tapi udah dewasa. Dasar sialaaaaan, Tema cowok paling menjengkelkan sejagat raya!” rutuk Kiran dalam hati. Tentu saja, ia hanya berani merutuk dalam hati. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tema jika tahu seberapa sering Kiran merutukinya dalam hati.
“Kamu mengerti perkataan saya?”
“Kamu itu kalau dibilangin sama orangtua ja-”
“Baik, Pak. Saya tidak akan membantah. Saya mengerti, sangat mengerti apa yang Bapak katakan. Terima kasih atas nasihat Pak Tema. Saya masuk dulu ke kamar saya,” pamit Kiran sambil berlari meninggalkan Tema.
“Dasar anak zaman sekarang.” Tema menggeleng-gelengkan kepala. Memang lebih sulit mendidik remaja sekarang dengan segala pergaulan dan perubahan yang terjadi dengan sangat cepat pada zaman sekarang ini.
__ADS_1
Tema duduk bersandar pada dinding kamarnya. Tidak ada sofa yang nyaman ataupun karpet yang tebal di kamar berukuran 4x4 meter ini. Memang kamar ini tidak terlalu sempit tapi jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kamar pribadinya di rumah.
Walaupun rumah orangtuanya bukan di kota besar tapi fasilitas di rumahnya lebih dari cukup bahkan mewah jika dibandingkan dengan kamar kost-annya ini. Ada pendingin ruangan, televisi, ranjang yang empuk, karpet tebal juga sofa yang nyaman di kamarnya dulu. Namun, Tema memutuskan untuk meninggalkan segala kenyamanan yang dulu dinikmatinya. Ia ingin mandiri dan berpijak di atas kakinya sendiri.
Memang sekarang ini ia belum bisa dianggap sukses seperti harapan orangtuanya. Ia masih dalam proses menggapai mimpinya. Ia berusaha untuk menghemat dan menabung untuk membeli rumah sendiri. Ia kumpulkan setiap rupiah hasil ia mengajar dan mengisi seminar ataupun menulis jurnal penelitian dan buku.
Tema menyadari profesi yang ia tekuni ini tidak menghasilkan banyak uang. Ada pengabdian dalam profesi yang digelutinya sekarang ini. Ayahnya memang rutin mentransfer uang setiap bulannya hasil dari usaha keluarga mereka, tetapi Tema tidak pernah menyentuh barang satu rupiah pun uang yang rutin setiap bulan ditransferkan oleh ayahnya.
Pernah Tema melayangkan protes pada ayahnya untuk tidak mentransferkan uang tersebut, tetapi ayahnya tidak terima dengan protes yang dilayangkan oleh anak sulungnya. Ayahnya berkeras untuk tetap mentransfer uang bulanan karena berpikir bahwa uang tersebut adalah hak Tema. Ada kontribusi Tema dan adik-adiknya dalam memajukan usaha keluarga mereka. Oleh karena itu, ayahnya selalu memberikan bagi hasil kepada semua anak-anaknya.
**********
to be continued...
__ADS_1