
“Saya pamit mau ke kamar duluan.” Kiran segera bangkit dari duduknya dan membuang kotak yang sudah habis ke dalam tempat sampah yang ada di bawah tempat cuci piring. Ia merasa sangat tidak nyawan duduk berdekatan dengan Tema. Beberapa hari ini, Kiran merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Tema. Entah kapan, jantungnya mulai berdegup tidak normal saat berbicara pada Tema, bahkan saat berpapasan tak sengaja.
“Fokus, Kiran! Fokus sama misi kamu. Jangan biarkan laki-laki menyebalkan itu membuat kerjamu berantakan. Wake up, Kiran!” rapal Kiran berulang-ulang di dalam hatinya.
Tema memandang Kiran yang sedang komat kami tidak jelas tanpa berkedip. Ia tidak menyadari jika tatapannya itu membuat jantung Kiran berdegup dengan kerasnya.
“Terima kasih salad buahnya.” Kiran langsung kabur dari hadapan Tema sebelum sempat Tema menjawab ucapan terima kasihnya.
“Duh, bahaya nih kalau aku deket-deket sama si Tema. Bisa-bisa aku jantungan.” Kiran berlari kecil untuk sampai ke kamarnya di lantai dua.
Tema masih termenung di kursi dapur setelah Kiran menghilang dari hadapannya beberapa saat yang lalu. Bibir Kiran yang memerah masih terbayang dalam kepalanya.
“Bahaya ini. Seharusnya aku tidak boleh terlalu dekat dengan muridku. Apa kata dunia kalau seorang guru memiliki perasaan yang lebih pada seorang murid.” Tema berusaha menghilangkan bayangan wajah perempuan muda yang secara kurang ajar menyelinap ke dalam hatinya. Namun, semakin dilarang untuk muncul, bayangan wajah muridnya itu semakin sering hadir dalam pikirannya.
Tema bergegas kembali ke kamar dan langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiram kepala dengan air dingin. Tema berharap guyuran air dingin pada kepalanya akan mengusir bayangan wajah Kiran yang terus menerus muncul seenaknya.
Tema bertekad untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Kiran, tetapi dunia seperti sedang melawannya. Besok ia harus masuk ke kelas XI IPS 3 dan mau tidak mau, suka tidak suka, ia akan bertemu dengan murid yang wajahnya kerap mengganggu.
__ADS_1
Setelah mengeringkan rambut dengan handuk, Tema membaringkan tubuh di atas lantai tanpa karpet. Sepertinya ia ingin mendinginkan juga kepala dan tubuhnya dengan berbaring di atas lantai dingin. Ia membuang nafas dengan kasar saat mengingat besok ia akan bertemu Kiran di kelas.
Sengaja Tema berangkat bakerja pagi-pagi, ia tidak mau berpapasan dengan Kiran. Namun, keputusan untuk berangkat lebih pagi juga dipikirkan oleh Kiran sehingga keduanya tetap berpapasan di depan gerbang kost-an mereka.
“Pagi, Pak Tema!” sapa Kiran.
“Pagi,” balas Tema dingin sedingin cuaca pagi itu.
“Dingin banget sih jawab salamnya,” protes Kiran pelan. Ia memang menghindari pertemuan dengan Tema dan tidak ingin banyak berinteraksi, tetapi saat ia diperlakukan dingin oleh Tema, rasanya tidak mengenakkan juga.
Mendengar jawaban dingin Tema, tiba-tiba Kiran ingin menjahilinya.
“Pak Tema!” panggil Kiran saat Tema membuka kunci sepedanya.
Tema pura-pura tidak mendengar panggilan dari Kiran.
“Pak Tema!” Kiran kembali memanggil seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Tema.
__ADS_1
“Astaghfirulloh.” Tema kaget mendapati wajah yang sejak semalam kerap menghantuinya sekarang berjarak kurang dari 30 centimeter dari wajahnya sendiri.
Kiran terkekeh melihat ekspresi wajah kaget dari guru sejarahnya itu.
Setelah kunci sepedanya terlepas, Tema langsung mengeluarkan sepeda melewati gerbang dan saat akan mengayuh, Kiran menarik sadel sepeda.
“Eh, kamu ngapain?” Tema membentak Kiran.
“Gak ngapa-ngapain.” Kiran melepaskan tangannya dari sadel sepeda.
Setelah Kiran melepaskna sadel sepedanya, Tema langsung mengayuh sepeda cepat-cepat, ingin segera menjauh dari Kiran.
Kiran tertawa lepas melihat ekspresi kesal Tema. Tentu saja tawa itu untuk menutupi suara debaran jantungnya.
************
to be continued...
__ADS_1