
Sesampainya di ruang guru, Tema menyampirkan tas ransel di kursi. Tidak lama setelahnya, Amartya menghampiri seraya membawakan satu kotak berisi nasi uduk lengkap.
“Pak Tema, ini ada sarapan buat Pak Tema.” Amartya menyodorkan kotak nasi tersebut.
“Apa ini, Bu?” tanya Tema.
“Sarapan buat Pak Tema. Saya yang memasaknya sendiri. Mudah-mudahan Pak Tema suka.” Amartya meletakkan kotak berisi nasi uduk lengkap itu di meja karena Tema tak kunjung menerima dengan tangannya.
“Jangan merepotkan begini, Bu. Jangan repot-repot bawa sarapan buat saya. Tadi saya sudah minum kopi.” Tema mencoba menolak pemberian dari Amartya secara halus.
“Tadi kan baru kopi. Ini saya bawakan nasi lengkap dengan lauknya supaya Pak Tema bisa sarapan dengan lengkap.” Amartya memaksa agar Tema mau menerima sarapan yang dibawakannya.
“Kalau pagi-pagi, saya cukup minum kopi, Bu,” tolak Tema.
“Tapi saya sudah capek-capek buat dari subuh tadi loh, Pak. Khusus untuk Pak Tema.” Amartya masih mencoba agar Tema mau menerima pemberiannya.
“Terima kasih. Tapi lain kali jangan repot-repot membuatkan sarapan untuk saya.” ucap Tema tegas dengan suara dinginnya.
Amartya sangat kecewa karena Tema engan menerimanya, tapi ia bertekad untuk tidak menyerah. Ia akan terus membuatkan makanan untuk Tema. Ia pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa untuk menaklukkan seorang pria, puaskan perutnya. Amartya akan terus berkarya membuatkan makanan yang enak-enak untuk Tema.
“Untuk kali ini, saya terima. Tapi tolong jangan seperti ini lagi.” dingin Tema berkata sambil mengambil kotak di atas mejanya.
Amaryta kembali ke kursinya, membawa serta kekecewaan dalam hati.
Tema keluar dari ruangan guru sambil membawa kotak makanan pemberian Amaryta. Ia melihat Baim yang baru saja muncul dari gerbang depan.
“Im!” panggil Tema.
__ADS_1
Mendengar panggilan Tema, Baim segera mendatanginya.
“Ada apa, Pak?” tanya Baim.
“Kamu sudah sarapan belum?” tanya Tema.
“Nih. Buat kamu.” Tema menyodorkan kotak makanan pemberian Amaryta.
“Apa nih?” Baim menerima kotak makanan dari Tema.
“Sarapan buat kamu.”
“Makasih, Pak.” Baim sudah terbiasa mendapatkan jatah sarapan dari Tema. Bukan sekali ini saja ia menerima makanan atau minuman hasil dari pemberian para fans Tema.
“Nis, kamu sudah tidak marah sama aku, kan?”
“Kemarin, kamu marah kan sama aku?”
“Oh, aku marah ya?”
“Jadi gak marah?”
“Sedikit.” Kiran menjawab seraya tersenyum jahil.
“Aku udah khawatir aja kamu marah terus sama aku.”
“Enggaklah. Aku mah anak baik, gak suka marah-marah.”
__ADS_1
Baim meletakkan kotak makan pemberian Tema tadi di atas meja Kiran.
“Apaan nih?” tanya Kiran.
“Sarapan buat kamu.” jawab Baim. Sebenarnya Baim sudah sarapan di rumah, tapi dia merasa tidak enak menolak pemberian Tema. Baim memang sudah berencana akan memberikan makanan pemberian Tema kepada orang lain.
“Wiiiih…makasih nih. Kebetulan aku belum sarapan.” Kiran kegirangan mendapatkan makanan gratis.
“Kamu bawa dari rumah atau beli? Tanya Kiran sambil membuka kotak makan dan bersiap untuk memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut.
“Dikasih Pak Tema.”
“Uhuk…” jawaban dari Baim membuat Kiran tersedak.
“Kamu kenapa sih, Nis?” tanya Baim khawatir melihat Kiran yang terbatuk-batuk.
“Keget denger jawaban kamu,” jawab Kiran sekenanya.
“Pak Tema juga dapat itu dari fansnya.”
“Wow, kasian banget ini yang ngasih sarapan ke Pak Tema. Ini sih auto ditolak. Dasar emang Pak Tema itu dingin banget ya.” Kiran mengasihi fans-nya Tema.
Kemarin Kiran menikmati salad buah dari salah satu fansTema dan sekarang dia juga sedang menikmati makanan pemberian fans Tema yang lainnya atau mungkin fans yang sama. Sepertinya di hari-hari berikutnya, ia akan mendapatkan banyak makanan dari Tema.
Kiran terkikik membayangkan hal itu.
******
__ADS_1
to be continued...