Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
18. Pamer


__ADS_3

“Siapa yang suka pamer, Pak?” tanya Kiran ketus.


“Nah itu siapa yang mau gendong-gendongan segala? Kalian jangan mengharap adegan romantis di gunung. Naik gunung itu bukan untuk romantis-romantisan.” Tema berkata tajam.


“Cih, siapa juga yang mau romantisan-romantisan di gunung? Saya kan tadi sudah bilang kalau saya tidak suka naik gunung. Si Baim saja yang ngomong seenaknya. Bapak jangan suka menuduh orang,” bantah Kiran sengit.


“Saya tidak menuduh. Saya hanya mengingatkan sebagai seorang guru.” Tema kembali berkata tajam.


“Saya heran sama cewek-cewek yang suka sama Bapak. Apa yang mereka suka dari guru julid seperti Bapak?” tanya Kiran ketus.


“Nis, kamu jangan ngomong kaya gitu,” sela Baim.


“Ini gara-gara kamu sih yang ngomong gak difilter dulu. Jadi kan kita dijulidin sama dia!” tunjuk Kiran pada Tema. Kiran berdiri dan menghentakkan kaki kesal, ia pergi meninggalkan Baim yang melongo terkaget-kaget melihat kemarahan gadis yang disukainya, sedangkan Tema tetap bersikap tenang dengan adegan yang baru saja terjadi di depan matanya.


“Maaf, Pak. Maafkan Nisa ya, Pak.  Saya ke kelas dulu mau menyusul Nisa. Maaf juga atas ketidaksopanan kami.” Baim pamit pada Tema dan ia langsung berlari menyusul Kiran.


“Dasar bocah.” Tema menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Gara-gara kejadian pagi tadi di kantin, Kiran menjadi uring-uringan. Sampai istirahat makan siang, Kiran mendiamkan Baim dan memilih untuk berjalan-jalan mengitari gedung sekolah sambil mengamati keadaan. Baim pun memahami kemarahan gadis kesayangannya dengan tidak mendekati dulu.


Kiran beruntung karena kemarahannya, bocah itu tidak menempel terus sehingga ia bisa leluasa mengamati setiap kejadian yang ia anggap mencurigakan ketika berjalan mengitari sekolahan yang sangat luas itu.


Sejak mengenal Kiran, Baim memang tidak lepas dari sisi Kiran sehingga menyulitkan Kiran untuk mulai melaksanakan tugasnya. Beruntung kali ini, Baim tidak berani mendekatinya sehingga ia lebih leluasa untuk mengamati keadaan.


Kiran merasa beruntung karena Baim tidak menempel terus padanya tapi nyatanya ia tidak seberuntung itu karena pada jarak kurang dari 5 meter, terlihat sosok guru sejarah-yang ia anggap sebagai musuh sedang berjalan mendekat ke arahnya.


“Sial… double sial.” umpat Kiran.


Ia sudah mau berbalik ketika terdengar suara Tema memanggilnya.


“Sial! triple sial,” umpat Kiran lagi.


Mau tidak mau Kiran kembali berbalik dan melihat Tema sudah berdiri tepat di hadapannya.


Kiran terkejut menyadari dekatnya jarak mereka.

__ADS_1


“Ada apa, Pak?” tanya Kiran ketus untuk menutupi kegugupannya.


“Hmm…”


“Ada apa sih, Pak? Saya mau ke kelas lagi nih. Sebentar lagi bel masuk,” tanya Kiran ketus. Ia tidak peduli lagi tentang kesopanan seorang murid kepada gurunya. Toh, ia sudah bukan anak SMA lagi. Usianya pun bisa jadi sama seperti Tema.


“Ya sudah. Kalau begitu kamu masuk kelas saja dulu. Kita bicara nanti,” sahut Tema datar.


“Cih, ngapain tadi panggil-panggil kalau tidak penting,” rutuk Kiran dalam hati.


Tema benar-benar sudah merusak mood Kiran seharian ini. Setelah sampai di kost-annya, Kiran langsung merebahkan diri di atas kasur busa.


Hari ini merupakan hari yang benar-benar melelahkan, baik fisik maupun batin. Seharian ini Kiran berkeliling di sekolah yang areanya sangat luas sambil memperhatikan sekeliling. Ia menggunakan waktu istirahatnya untuk menjalankan tugas sampai lupa untuk makan siang. Ia hanya makan roti bakar saat sarapan.


Bunyi gemuruh di perut cukup mengagetkannya. “Eh buset, ni suara perut ribut amat.” Perut Kiran memberikan sinyal lapar yang luar biasa.


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2