
“Hai, Nisa! selamat pagi. Bagaimana tidurnya tadi malam? Sudah nyaman tidur di tempat yang baru?” Tema memberi salam pada Kiran ketika berpapasan di pintu gerbang kost-an mereka.
“Met pagi juga, Pak Tema. Alhamdulillah, saya bisa tidur nyenyak. Nyenyak banget malah.” Kiran menjawab salam Tema.
“Saya duluan, Pak.” Kiran bergegas saat melihat Tema sedang membuka kunci sepedanya di tempat parkir.
“Hati-hati di jalan, Nis!” seru Tema.
Kiran pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan menuju sekolah dengan langkah cepat.
Beberapa menit kemudian, sepeda yang dikayuh oleh Tema melewati Kiran yang masih berjalan.
Tidak ada sapaan dari Tema ketika ia melewati Kiran yang sedang berjalan. Kiran melihat banyak juga siswa yang berjalan seperti dirinya. Mereka semua memberikan sapaan kepada Tema yang sedang mengayuh sepeda.
“Cih, tadi saja sok kenal sok dekat menyapa aku di pintu gerbang kost-an. Sekarang pura-pura gak kenal. Dasar guru menjengkelkan,” gerutu Kiran.
Kiran berjalan lebih cepat agar lebih cepat sampai juga karena setelah melihat jarum jam di jam tangnnya, sepertinya ia akan terlambat jika tidak berjalan dengan cepat.
__ADS_1
“Huh, sepertinya besok aku harus pergi lebih pagi lagi,” tekad Kiran. “Selain biar santai jalannya, aku juga tidak harus berpapasan dengan si Tema.”
“Nisa! Tunggu!” Kiran mendengar suara Baim yang memanggilnya.
“Hai, kamu telat juga?” tanya Kiran.
“Gak telat kok,” jawab Baim.
“Ini udah jam tujuh lebih. Kita telat kan?” tanya Kiran heran kenapa mereka tidak telat masuk.
“Bel-nya jam setengah delapan. Malah kita datang awal banget,” balas Baim menjawab keheranan Kiran.
“Ini sih di sekolah kita saja. Kalau di sekolah lain mungkin bel masuknya jam tujuh. Sekolahan sepupu aku aja masuknya jam tujuh,” jelas Baim lagi.
“Kamu udah sarapan?” tanya Kiran.
“Udah.”
__ADS_1
“Aku belum sarapan. Aku ke kantin dulu ya mumpung masih ada waktu,” pamit Kiran.
“Eh, Nis. Aku temenin kamu sarapan.” Baim mengejar Kiran yang sudah berjalan menuju kantin sekolah.
Dalam perjalanan menuju kantin, Kiran melihat Adam yang sedang menyapu halaman sekolah.
Rajin juga si Adam, pagi-pagi udah nyapu halaman. Kiran membatin menatap Adam dengan pandangan iba.
“Ah tapi masih mending sih jadi tukang bersih-bersih, dulu aku pernah jadi orang gila yang mengais-ngais makanan dari tong sampah. Hiiii…” Kiran bergidik tatkala mengingat misi pertamanya dulu yang mengharuskan dia menyamar jadi orang gila.
Pagi ini masih banyak stall yang belum buka di kantin dan belum banyak juga siswa yang mampir ke kantin. Hanya ada beberapa siswa saja termasuk dirinya dan Baim. Kiran melihat hanya ada tukang roti bakar dan lontong kari. Kiran memilih untuk memesan roti bakar saja.
Kiran berjalan menuju stall roti bakar diikuti oleh Baim. Ketika ia hendak memesan roti bakar, ujung matanya melihat Tema yang sedang menikmati secangkir kopi dan roti bakar hangat tidak jauh dari tempat ia dan Baim berdiri.
“Duuuh, sial banget aku pagi ini. Baru juga jam tujuh pagi tapi udah ketemu sama si Tema dua kali. Double sial sih ini namanya,” gerutu Kiran dalam hati.
******
__ADS_1
to be continued...