
“Kata Bu Rini, kamu masuk ke kelas IPS 3. Saya akan antar kamu ke kelas,” tawar Baim.
Kiran mengikuti langkah Baim setelah sebelumnya berterima kasih pada Bu Rini.
Setelah mereka sampai di pintu kelas, Baim mengedarkan pandangan untuk mencari bangku yang kosong. Beruntung ada bangku di deretan belakang yang masih kosong.
“Ayo ikut aku!” perintah Baim.
Kiran pun mengikuti langkah Baim dengan patuh.
“Kamu duduk di situ?” Baim menunjukkan sebuah bangku kosong.
Kiran meletakkan tasnya di atas meja.
“Penglihatan kamu normal, kan?” tanya Baim lagi.
“Memangnya kenapa kalau mata aku tidak normal?” tanya Kiran heran.
“Takutnya kamu kurang jelas melihat ke papan tulis kalau duduk di bangku paling belakang,” jelas Baim.
“Mata aku normal kok.” jawab Kiran
“Bagus.”
“Eh, kenapa kamu masih disini?” tanya Kiran yang heran melihat Baim masih diam di kelas, padahal bel masuk sudah berbunyi.
__ADS_1
“Aku duduk di sini,” jawab Baim santai.
“Oh, jadi aku satu kelas sama kamu?” tanya Kiran terkejut. Ia tidak menyangka jika satu kelas dengan cowok ganteng yang telah menolongnya itu.
“Iya,” jawab Baim sambil terkekeh.
“Dasar bocah sialan. Seenaknya ngerjain aku,” rutuk Kiran dalam hati.
Pelajaran pertama adalah pelajaran ekonomi. Pelajaran yang cukup disukai oleh Kiran sehingga ia cukup menikmati materi yang disampaikan oleh guru.
Pada dasarnya Kiran adalah seorang pembelajar. Sejak kecil ia sudah suka belajar. Mungkin karena keluarganya adalah keluarga yang erat hubungannya dengan dunia pendidikan.
Ayahnya adalah mantan petinggi TNI yang pensiun dini dan mengabdikan dirinya menjadi dosen di sebuah lembaga pendidikan milik pemerintah yang bergerak di bidang kepamongprajaan dimana tujuan dari lembaga itu untuk menghasilkan kader pemerintahan yang berkompetensi, berkarakter, dan berkepribadian. Sedangkan ibunya adalah seorang guru SMA. Kakak laki-lakinya berprofesi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pendidikan maupun militer. Kakak laki-lakinya adalah seorang pengusaha muda. Mungkin darah dari kakek pihak ibu mereka mengalir deras di dalam diri kakak laki-lakinya itu. Adik laki-lakinya masih menjalani pendidikan militer di Magelang. Setelah lulus kuliah jurusan jurnalistik, adiknya langsung mandaftarkan diri untuk menjadi anggota TNI, ia berhasil lulus tes masuk dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan perwira prajurit karir di Akmil.
“Nis, kita ke kantin yuk!” ajak Baim.
“Aku di sini saja. Aku belum lapar,” tolak Kiran.
“Ya sudah, aku kenalkan kamu sama teman-teman sekelas.”
Sebelum Kiran sempat memberikan respon, Baim sudah berteriak-teriak memanggil semua teman sekelasnya.
“Woooi, kenalin nih, temen baru kita. Namanya Anissa Fauziah. Anak pindahan dari… eh, Nis kamu pindahan dari mana sih?” tanya Baim.
“Pindahan dari Garut,” jawab Kiran asal.
__ADS_1
“Ooooh anak pindahan dari Garut,” cibir beberapa siswa perempuan yang pastinya di setiap sekolah ada saja jenis siswi cantik, populer, dan berkelas seperti mereka.
“Kenalkan, nama saya Anissa Fauziah. Saya pindahan dari SMA Garut. Senang bisa satu kelas sama kalian. Terima kasih.” Kiran memperkenalkan diri di depan teman-teman sekelasnya.
Dia tidak peduli dengan cibiran dari teman sekelas popular yang bentukannya mirip dengan siswa popular dari zaman ke zaman. Dari dulu, tipe siswi popular akan tetap eksis, seperti halnya tipe siswa yang cupu dan pendiam layaknya siswa tipe kutu buku.
Kiran menyadari bahwa Baim merupakan salah satu siswa populer karena ketampanan di atas rata-rata. Tipe siswa ganteng seperti Baim dan populer karena wajah dan sifatnya yang friendly juga pasti ada di setiap masanya. Kiran belum mengetahui isi otak cowok ganteng itu, tapi sepertinya Baim juga termasuk siswa yang pandai. Kiran akan menyukai bocah ganteng dan pintar seperti Baim.
“Im, ke kantin yuk!” ajak salah satu siswa.
“Hm…” tampak Baim sedikit ragu-ragu untuk mengiyakan ajakan temannya karena ia masih ingin bersama dan mengenal gadis yang sudah mengisi ruang hatinya itu.
Tidak mendengar respon yang diberikan, siswa itu pun menarik tangan Baim untuk mengikutinya ke kantin.
“Sialan, Leo. Gue gak mau ke kantin.” Baim berusaha untuk menolak tapi tarikan tangan Leo mampu menyeret Baim.
Kiran hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-teman sekelasnya.
“Nis…aku ke kantin dulu…baik-baik di kelas yaaa….” teriak Baim.
“Siapa nama kamu?” seorang siswa cantik yang tadi mencibirnya datang mendekat.
********
to be continued...
__ADS_1