Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
6. Satu Kelas


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Kiran bersekolah di tahun pelajaran baru. Rencananya ia akan bertugas menjadi siswa SMA sekitar 6 bulan saja. Jika kasusnya sudah terungkap dalam waktu 6 bulan maka ia akan ‘lulus’ sebagai siswa SMA, tetapi jika tim-nya masih belum bisa menyelesaikan misi yang diberikan, mungkin saja dia akan bersekolah lebih lama lagi.


Kiran menatap gerbang sekolah tempat ia akan ‘menuntut ilmu’ selama 6 bulan yang direncanakan.


“Hai, ngapain bengong disini?” seorang siswa menepuk bahunya.


Kiran menoleh ke arah siswa yang baru saja menepuk bahunya tadi.


“Eh?”


“Kamu murid baru? Pindahan? Kelas berapa?” tanya siswa itu beruntun.


“I-iya, saya murid baru. Kelas sebelas.” jawab Kiran gugup berhadapan dengan seorang siswa ganteng mirip idola-idolanya di grup k-pop.


“Sialan, kenapa aku bisa deg-deg-an begini liat cowok ganteng. Please, deh Xena Sasikirana Ghazali. Bisa-bisanya kamu naksir cowok modelan seperti gini yang umurnya jauh dibawah kamu. Dasar otak ngeres” rutuk Kiran dalam hati.


“Mau saya antar ke ruangan administrasi biar kamu bisa lapor?” tawar siswa itu.


“Tidak merepotkan kamu?” tanya Kiran.


“Ya enggak lah. Oh iya nama kamu siapa? Namaku Muhammad Ibrahim, kamu bisa panggil aku Baim. Aku juga kelas sebelas.” jelas siswa ganteng itu.


“Namaku Annisa Fauziah, kamu boleh panggil aku Nissa.” Kiran mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Baim.

__ADS_1


Annisa Fauziah adalah nama yang disiapkan oleh Kiran sebagai bagian dari misinya. Ia tidak mungkin menggunakan nama aslinya.


“Annisa, nama yang cantik untuk perempuan yang cantik,” puji Baim.


Kiran tersipu mendengar pujian Baim.


“Sial…sial…kenapa aku bisa tersipu malu-malu seperti ini. Wake up Kiran! Jangan mengkhayal di siang bolong!” Kiran kembali merutuk pelan.


“Ayo, aku antar kamu ke ruang administrasi.” Kiran mengikuti langkah Baim menuju ruang administrasi.


Kamu kelas apa? Kalau aku kelas IPS,” tanya Baim dalam perjalanan menuju ruang administrasi.


“Kelas IPS,” jawab Kiran.


Pertama kali Baim melihat perempuan cantik yang termenung menatap gerbang sekolah, jantungnya berdegup kencang. Sepertinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini pertama kalinya Baim merasakan jantungnya bekerja tidak normal saat melihat lawan jenis.


“Aku akan berusaha agar Nisa masuk ke kelas yang sama denganku.” Baim bertekad dalam hatinya.


“Assalamualaikum Bu Rini.” Baim menyapa petugas administrasi yang sedang duduk melamun di meja kerjanya.


“Eh, waalaikumsalam Baim,” jawab Bu Rini.


“Saya mengantarkan murid pindahan. Namanya Annisa Fauziah,” kata Baim sambil menarik tangan Kiran agar maju lebih dekat.

__ADS_1


“Kamu sudah bawa berkas-berkasnya, Annisa?” tanya Bu RIni ramah.


“Sudah, Bu. Ini berkas-berkas yang diperlukan dan juga bukti penerimaan di sekolah ini.” Kiran memberikan satu map berisi berkas persyaratan.


Bu Rini menerima map tersebut dan memeriksannya.


“Baiklah, berkas-berkas persyaratannya sudah lengkap. Ibu cek dulu kelas yang masih ada kuota untuk menerima murid baru pindahan.” Bu Rini menyalakan komputernya.


“Bu, kalau bisa, dia satu kelaskan sama saya,” bisik Baim sambil mengedipkan sebelah matanya.


Bu Rini mendelikkan mata mendengar permintaan dari Baim yang sebenarnya adalah siswa favoritnya.


“Please, Bu Rini yang cantik, calon tante kesayanganku.” Sebenarnya Bu Rini adalah calon istri dari paman Baim yang juga bekerja sebagai guru di sekolah ini.


Bu Rini mencubit gemas lengan Baim.


“Makasih Tante Rini yang cantik dan baik hati.” Baim memberikan senyum mematikan.


“Dasar calon keponakan tidak tahu diri” rutuk Bu Rini pelan tapi masih terdengar Baim. Baim pun terkekeh mendengar rutukan calon tantenya.


**********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2