Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
17. Sarapan


__ADS_3

“Mau pesan apa, Neng?” tanya penjual roti bakar.


“Roti bakar isi selai stroberi sama coklat, Mang,” jawab Kiran.


“Selamat pagi, Pak Tema!” sapa Baim.


“Hai, Baim. Selamat pagi juga. Kamu mau sarapan juga?” tanya Tema ramah.


“Gak, Pak. Saya cuman nganter Nisa. Katanya dia belum sarapan,” jawab Baim.


“Oh.” Respon Tema membuat Kiran makin meradang.


“Bener-bener menjengkelkan,” rutuk Kiran pelan.


“Duduk sini, Nis!” panggil Baim.


“Triple sial sih ini. Masa aku harus duduk semeja dengan si Tema itu.” Kiran menyesali keputusan untuk sarapan di kantin. Kalau dia tahu Tema juga akan sarapan di sini, lebih baik dia tidak sarapan. Mending menahan lapar daripada harus bertemu dengan guru yang tidak dia suka.


“Im, aku makan rotinya di kelas saja deh,” ujar Kiran.


“Eeeh, ngapain makan di kelas. Disini saja. Kita ngobrol-ngobrol sama Pak Tema.” Baim tidak mengetahui apa yang berkecamuk di dalam hati dan otak Kiran.


“Duduk sini, Nis!” panggil Tema santai.


Dengan terpaksa Kiran duduk di kursi depan Tema sehingga otomatis dia berhadapan langsung dengan Tema.


Kiran menatap wajah Tema sekilas.


“Apa bener dia normal?” batin Kiran bertanya-tanya. “Karena sayang aja orang seganteng dia ini kalau bengkok. Kasian kan cewek-cewek yang suka sama dia kalau tau dia gak lurus.”

__ADS_1


“Rotinya sudah jadi, Neng,” seru si penjual roti.


Kiran beranjak dari duduk untuk mengambil pesanannya. Dia juga mengambil sekotak susu dari lemari pendingin yang terletak di samping stall penjual roti bakar.


Tema melihat Kiran minum susu dingin.


“Pagi-pagi begini kamu minum minuman dingin?” tanya Tema.


“Sudah biasa, Pak,” jawab Kiran asal.


“Sebaiknya kalau pagi-pagi kamu minum yang hangat-hangat.”


“Gak suka.”


Kiran kembali duduk di kursinya sambil mulai memakan roti bakarnya.


“Kalau tidak suka minum susu hangat, mungkin kamu bisa minum teh manis hangat,” usul Tema.


“Memangnya yang suka minum teh manis hangat itu nenek-nenek saja?” tanya Tema terkekeh dengan jawaban yang diberikan oleh Kiran.


“Nenek saya tiap hari minum teh hangat,” jawab Kiran.


Tema kembali terkekeh mendengar jawaban Kiran.


“Jadi minggu depan nanjak lagi, Pak?” tanya Baim pada Tema.


“Rencananya sih begitu. Saya mau nanjak bareng teman-teman komunitas,” jawab Tema, lalu menyeruput kopi panasnya.


“Boleh ikut gak?” harap Baim.

__ADS_1


“Kita mau muncak ke gunung Slamet. Gak cocok buat pendaki pemula. Bulan depan saya ajak kamu nanjak.”


“Ke gunung mana? tanya Baim antusias.


“Ke gunung cikuray? jawab Tema. “Kamu mau ikut?”


“Mau!” seru Baim semangat.


Tema tersenyum melihat antusiasme Baim dan di mata Kiran, hal itu menyebalkan sekaligus membuat jantungnya berdebar-debar.


“Kamu mau ikut gak, Nis?” tawar Baim dengan semangat dan sukses menyadarkan Kiran dari pikirannya yang sedang merutuki Tema.


“Gak!” jawab Kiran tegas.


“Ikut yuk!” rayu Baim.


“Aku gak suka naik gunung. Capek,” jawab Kiran.


“Nanti aku gendong kalau kamu capek.” Baim masih belum menyerah.


“Mana kuat kamu gendong aku,” cibir Kiran.


“Pasti kuat dong kalau cuma gendong kamu. Yuk!” bujuk Baim tak putus semangat mengajak Kiran agar mau ikut.


“Jangan suka memamerkan kemesraan di depan guru,” sindir Tema mengagetkan Baim dan dan Kiran. Wajah Baim terlihat memerah karena malu sedangkan Kiran memerah karena marah.


“Siapa yang suka pamer, Pak?” tanya Kiran ketus.


********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2