Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
2. Tema


__ADS_3

“Bagaimana dengan tawaran dari Pak Camat? Kamu mau menerimanya?” tanya Adjat Mursadat, ayah dari Ahmad Tema Mursadat.


“Tema masih mau melanjutkan kuliah, Bah,” jawab Tema, panggilan dari Ahmad Tema Mursadat.


“Tapi Kang, tawaran dari Pak Camat ini mungkin tidak akan datang dua kali,” bujuk Mimin Mintarsih, ibu dari Tema.


“Tema ngerti, Mbu. Tapi Tema punya impian sendiri yang ingin Tema raih.”


“Tawaran menjadi PNS dari Pak Camat itu bukan tawaran yang main-main, Kang. Kalau kamu jadi PNS, Ambu bisa tenang.” Mimin masih membujuk anak pertamanya yang cukup keras kepala itu.


“Usia kamu sudah 33 tahun, kedua adik kamu saja sudah menikah, punya keluarga dan karir sendiri. Abah inginnya kamu menetap di sini, jadi PNS dan mengelola sawah milik keluarga kita. Abah sudah tua, sudah ingin istirahat saja sambil ikut mengurus cucu-cucu Abah, anak-anak dari kamu,” ujar Adjat penuh harap pada anak pertamanya itu.


“Tema masih belum kepikiran tentang menikah, Bah. Masih ada cita-cita yang ingin Tema raih dan sedikit lagi langkah Tema untuk bisa mencapai cita-cita Tema.”


“Memang kamu mau jadi apa, Kang? Kalau harapan Ambu sih, kamu tinggal di sini, jadi PNS di kecamatan sambil mengurus sawah dan kebunnya Abah.” Mimin terus membujuk anak sulungnya.


“Tema tidak tertarik menjadi PNS di kecamatan. Tema ingin mengerjakan sesuatu yang menantang, bukan hanya mengurusi dokumen saja di kantor kecamatan.” Tema tetap teguh dengan pendiriannya.


“Minggu lalu, Abah ngobrol dengan Pak Camat. Beliau bilang anak perempuannya yang kedua baru saja lulus kuliah dan akan kembali ke sini untuk bekerja di kantor kecamatan. Pak Camat berharap untuk menikahkan anak perempuannya itu dengan kamu. Bagaimana, Tem?” tanya Adjat.

__ADS_1


“Kan sudah Tema bilang tadi, Bah. Tema masih fokus sama pendidikan dan pekerjaan, belum berpikir ke arah menikah. Kalau soal cucu, Abah kan sudah punya cucu-cucu dari Jaka dan Tari.” Ucapan Tema membuat Adjat dan Mimin menghela nafas.


“Ya sudah kalau kamu memang berkeinginan seperti itu. Abah dan Ambu hanya bisa mendukung saja. Abah tidak ingin seperti orang tua yang suka memaksakan kehendaknya pada anak demi pandangan dari orang lain. Biarlah nanti Abah akan bilang sama Pak Camat kalau kamu sudah punya calon di kota. Abah tidak enak menolak tawaran Pak Camat dengan alasan seperti yang kamu bilang tadi,” ujar Adjat menyerah.


“Ya jangan bilang seperti itu juga, Bah. Tema belum punya calon istri sama sekali. Abah bilang saja kalau Tema masih kuliah dan belum punya pekerjaan tetap. Tema masih jadi guru honorer di SMA.”


“Mungkin Pak Camat tidak akan menerima alasan seperti itu, Kang. Kalau Akang belum punya pekerjaan tetap, Pak Camat kan sudah menawari kamu jadi PNS di kantor kecamatan. Kalau Abah bilang Akang belum punya calon, Pak Camat pasti terus mendesak Abah kamu agar mau menerima rencana perjodohan dengan anak perempuannya.” jelas Mimin.


“Ya sudah, terserah Abah saja bagaimana bicara baik-baik sama Pak Camat.” Akhirnya Tema menyetujui usul orang tuanya.


“Besok Akang jadi balik ke Bandung?” tanya Mimin.


“Jadi, Mbu,” jawab Tema.


“Iya, Mbu.”


Setelah Tema masuk ke dalam kamarnya, Mimin bergeser mendekati Adjat.


“Jadi gimana, Bah?” tanya Mimin.

__ADS_1


“Jadi gimana apanya, Mbu?” tanya Adjat agak heran.


“Gimana nanti Abah bicara sama Pak Camat? Abah bisa bilangnya kalau kita tidak menerima tawaran beliau? Ambu khawatir kalau penolakan dari kita akan berakibat buruk pada pandangan Pak Camat terhadap kita.” Mimin mengungkapkan kekhawatirannya.


“Bagaimana nanti saja, Mbu. Yang pasti Abah akan berusaha untuk bicara baik-baik pada Pak Camat. Insya Allah beliau akan menerimanya dengan baik juga. Toh, kita belum menjanjikan apapun pada beliau. Anak perempuan beliau pun cantik dan pintar, lulusan dari universitas negeri di Bandung. Pasti banyak laki-laki baik yang ingin menjadi suaminya. Ada anak Pak Haji Adang yang jadi sekretaris lurah, ada anaknya Pak Lurah, ada anaknya Wa Dudung. Biarlah anak dari keluarga lain saja yang mendapatkan kesempatan jadi menantunya Pa Camat,” jelas Adjat.


“Tapi sayang ya Bah.”


“Sayang kenapa?”


“Kita tidak jadi mendapatkan mantu, anak Pak Camat,” sesal Mimin.


“Dasar si Ambu, Abah kira sayang apa. Biarlah anak kita meraih cita-citanya dan mencari jodohnya sendiri. Tugas kita hanya mendoakan saja agar anak sulung kita mendapatkan semua yang dia inginkan.”


“Iya Bah. Tiap habis salat juga Ambu tidak pernah lupa mendoakan semua anak-anak kita.”


“Mendoakan Abah juga tidak?” goda Adjat sambil mengedipkan salah satu matanya.


“Dasar aki-aki genit.”

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2