
“Kamu kenapa cekikikan gitu kaya mbak kunti?” tanya Baim.
“Ha-ha-ha. Kamu tau gak sih. Aku kasian sama para fans Pak Tema. Mereka capek-capek kasih sesuatu ama orang yang mereka suka, eh yang disukai malah cuek kaya bebek. Kamu pasti sering dikasih makanan begini, kan?” tanya Kiran.
“Ya, gak hanya makanan seperti ini, sering juga Pak Tema ngasih coklat, cake atau apalah pemberian dari fans-fansnya,” jelas Baim.
“Kok Pak Tema ngasihnya cuma ke kamu?” tanya Kiran heran. Ia bergidik membayangkan Pak Tema suka pada Baim. Baim kan cowok ganteng, Kiran khawatir jika gossip tentang Tema itu ternyata benar.
“Gak sama aku saja sih, Nis. Pak Tema suka ngasih ke yang lain, tapi dia gak pernah ngasih ke murid cewek, dia takut kalau murid cewek yang dia kasih malah kegirangan dikasih sesuatu ama dia.”
“Ya iyalah. Bisa histeris tuh cewek yang dikasih coklat sama si Tema,” pikir Kiran.
Hari ini, Kiran mengamati perpustakaan. Walaupun mustahil ada transaksi mencurigakan di perpustakaan, tapi Kiran tidak bisa mengabaikan sekecil apapun kemungkinan yang bisa terjadi.
Baim mengelilingi sekolahan mencari keberadaan Kiran, tapi tidak menemukannya hingga mereka bertemu kembali di kelas.
“Kamu tadi kemana. Nis?” tanya Baim ketika akhirnya ia menemukan gadis yang dicarinya dari tadi sudah asyik duduk di bangkunya sendiri.
“Dari perpus,” jawab Kiran santai.
“Aku cari-cari kamu tadi.”
__ADS_1
“Ngapain nyari aku?” Kiran terkekeh menanggapi Baim.
“Aku khawatir sama kamu. Takutnya kamu diculik,” ungkap Baim.
“Ha-ha-ha, iya, iya, maaf yaaa…” Kiran tidak menangkap ekspresi khawatir di wajah Baim.
Hari ini, pelajaran sejarah ada di jam terakhir. Tidak seperti pelajaran lainnya yang ketika disimpan di jam terakhir membuat siswa mengantuk, pelajaran yang diampu Tema masih mampu menarik atensi murid-murid di kelas XI IPS 3 sehingga mereka masih antusias dan semangat mengikuti kelas Tema.
“Si Tema emang luar biasa.” Kiran melihat para murid perempuan yang asyik memperbaiki dandanan mereka. Ada yang sedang memoleskan lipgloss, menyisir, membedaki wajah, mengaplikasikan eyeliner, dan juga menyemprotkan parfum yang terlihat dari merknya bukan parfum biasa.
“Selamat pagi semuanya.” Tema masuk ke dalam kelas dengan semangat. “Hari memang sudah siang, tapi semangat kita harus tetap semangat pagi.”
“Gila si Tema, siang begini masih aja semangat,” puji Kiran dalam hatinya.
Tak terasa dua jam pelajaran berlalu dengan cepat. Sebagian murid, kebanyakan murid perempuan menyayangkan cepatnya jam pelajaran mereka selesai.
“Nis, setelah pulang sekolah kamu mau kemana?” tanya Baim.
“Mau pulang lah,” jawab Kiran lelah. Tentu saja lelah yang dirasakan oleh Kiran bukanlah lelah fisik tapi lelah jantung. Dari tadi jantungnya tidak bekerja dengan normal.
“Nonton aku main basket. Mau, ya?” pinta Baim memelas.
__ADS_1
“Oh kamu main basket?” tanya Kiran.
“Iya, sore ini aku latihan sama tim basket. Kamu mau kan nonton tim kita latihan?”
“Iya deh,” jawab Kiran mengiyakan karena ia merasa kasihan dengan Baim yang sepertinya sangat mengharapkan agar Kiran menontonnya yang sedang berlatih basket. Kiran bisa memanfaatkan waktu untuk memantau pergerakkan anak-anak yang masih berada di sekolah hingga sore hari.
Wajah Baim tiba-tiba berubah dari memelas menjadi ceria.
“Makasih ya, Nis. Aku duluan, mau ganti kostum dulu. Aku tunggu di lapang.” Baim berlari dengan semangat. Dadanya berdebar-debar membayangkan dirinya yang main basket dililhat oleh gadis pujaannya.
Sebenarnya Kiran tidak suka menonton 10 orang yang berlarian saling memasukkan bola ke ring pertahanan lawannya masing-masing. Kiran pusing melihat mereka berlarian hilir mudik. Tapi Kiran tidak ingin Baim sedih karena ia menolak ajakannya.
Keadaan sekolah memang sudah tidak seramai tadi siang, tetapi seringkali kejadian tidak terduga terjadi saat eadaan sudah sepi. Masih banyak murid perempuan yang menonton 10 remaja pria yang berlarian sambil berteriak-teriak histeris menyoraki.
Kiran melihat keadaan sudah sepi di beberapa area. Kiran menyelinap keluar dari gerombolah siswa perempuan yang masih antusias menonton tim basket latihan. Ia mencoba menyusuri beberapa area sekolah yang sepi. Ada beberapa kelompok siswa yang berkumpul sambil merokok. Kiran memfoto kelompok-kelompok itu dengan menggunakan kamera kecil berbentuk jam tangan yang dipakai di tangan kanannya.
Menjelang magrib, Kiran baru sampai di kost-annya.
“Darimana kamu jam segini baru pulang?” suara tajam Tema menyambut Kiran.
************
__ADS_1
to be continued...