Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
12. Jam Istirahat


__ADS_3

Walaupun Kiran benci pelajaran sejarah, tapi kali ini ia berhasil untuk tidak tertidur. Pelajaran sejarah selama dua jam tidak terasa sudah berakhir karena otaknya sibuk mencibir dan mengkritisi guru sejarah yang menurut anggapannya suka tebar pesona dan genit.


Bagaimana tidak genit kalau selama dua jam itu, guru sejarahnya selalu tersenyum pada siswi perempuan yang bertanya ataupun menjawab pertanyaan, walaupun dia tersenyum juga sih kala ada siswa yang bertanya ataupun menjawab. Namun,  selama dua jam ini, memang kebanyakan siswi perempuan yang aktif.


Kiran beranggapan bahwa para siswi itu sangat aktif dalam kelas sejarah karena guru sejarahnya yang tampan. Kebanyakan dari mereka bukannya belajar tapi asyik menarik perhatian guru muda yang tampan itu.


Kiran memeriksa jadwal pelajarannya selama seminggu dan ia melihat dua hari kemudian, tepatnya hari Rabu ada pelajaran sejarah lagi di kelasnya, otomatis ia akan bertemu lagi dengan guru sejarahnya yang hobi tebar pesona itu.


“Baiklah teman-teman semua, sampai bertemu lagi di hari rabu. Jangan lupa kerjakan tugas yang saya berikan hari ini. Terkhusus untuk Annisa yang harus banyak baca lagi tentang situs sejarah dari kota asalnya.”


“Cih, seenaknya dia kasih tugas khusus untukku. Dasar tukang cari perhatian. Memangnya aku tertarik apa sama dia. Ih amit-amit deh, gak akan aku suka sama cowok tukang tebar pesona gitu.” rutuk Kiran dalam hatinya sambil mengetuk-ngetuk meja. Hilang sudah pesona Tema di mata Kiran.


“Kenapa, Nis?” tanya Baim heran melihat kelakuan Kiran yang mengetuk-ngetuk meja.


Yang ditanya hanya bisa menyengir.


“Waktunya makan siang. Ikut aku ke kantin yuk!” ajak Baim.


Kiran menganggukkan kepala tanda setuju.


Mereka pun berjalan bersama menuju kantin sekolah.


Di kantin sekolah sudah ramai para siswa yang sedang memesan makanan maupun yang sudah asyik makan dengan lahap di meja makan kantin yang memanjang.

__ADS_1


“Istirahat anak kelas 10, 11, dan 12 berbeda-beda jadi kantinnya tidak penuh dan tidak berdesakan. Yang sudah asyik makan itu anak kelas 10 yang belum masuk kelas,” jelas Baim.


“Oh,” respon Kiran sambil celingukan mencari Adam, rekan satu timnya yang bertugas sebagai petugas kebersihan.


“Kamu cari siap, Nis?” tanya Baim.


“Cari bangku yang kosong,” jawab Kiran sekenanya.


“Tuh bangku kosong. Kita duduk di sana.” Baim menarik tangan Kiran.


Ketika berjalan menuju kursi yang kosong, Kiran melihat sekilas Adam yang sedang berjalan melintasi kantin membawa ember dan alat pel.


“Kamu mau pesan makan apa?” tanya Baim.


“Tunggu disini. Aku pesankan dulu makan buat kita.”


“Ya,” jawab Kiran dengan mata yang masih fokus ke layar ponsel, membaca kabar tentang idola-idolanya di dunia drama korea. Ia sedang asyik membaca hot news tentang menikahnya pasangan aktor dan aktris top favoritnya.


Setelah selesai membaca kabar aktor dan aktris favoritnya. Ia segera ingat dengan misi dan tugasnya. Ia perhatikan semua siswa dan siswa yang berlalu lalang dan yang mengobrol di kantin.


Kiran melihat beberapa kelompok yang sedang berkumpul di kantin. Kelompok yang sama seperti masa dia sekolah dulu. Kelompok siswa populer akan berkumpul bersama siswa populer juga. Siswa yang bawa bekal dari rumah akan berkumpul dengan siswa yang sama, siswa yang kutu buku akan menghabiskan masa istirahatnya di perpustakaan. Sepertinya circle anak-anak SMA masih sama dari dulu hingga sekarang.


Kiran mulai menajamkan pendengarannya untuk menangkap obrolan anak-anak yang dianggap anak gaul. Bukan tanpa tujuan dia memilih kursi di lokasi tempat ia duduk sekarang.

__ADS_1


Kiran mengamati bahwa tidak jauh dari lokasi dia duduk, ada sekelompok siswa dengan tampilan tidak seperti siswa kebanyakan. Ia mendengar obrolan tentang vidio dewasa, rokok, dan juga hal lainnya yang belum sempat dia tangkap karena Baim sudah kembali dengan dua mangkuk di tangan kanan dan kirinya, serta dua kotak jus di saku celananya.


“Aku belikan mie ayam. Kamu suka?” tanya Baim sambil meletakkan dua mangkuk berisi mie ayam di atas meja.


“Suka,” jawab Kiran.


“Nih, minumnya.” Baim meletakkan dua kotak jus kemasan di atas meja kantin.


“Makasih.” ucap Kiran.


“Nanti kamu gantian yang traktir aku. Aku kan menang taruhan,” ujar Baim.


“Eh?” Kiran mendongakkan kepala menatap Baim.


“Kita kan tadi taruhan. Kalau kamu tertidur di kelas sejarah, aku bakal traktir kamu. Tapi kalau kamu tidak bosan dan tidak tertidur di kelas sejarah, kamu mau diajak jalan dan traktir aku.” Baim mengingatkan tentang taruhan mereka sebelum kelas sejarah dimulai tadi pagi.


“Aku bukannya suka sama pelajaran sejarah. Tadi aku gak bosan dan gak tidur karena aku sibuk merutuki guru sejarah itu. Aku gak suka sama dia,” jujur Kiran.


“Haaah? Kamu gak suka sama Pak Tema? Kok bisa? Biasanya cewek-cewek suka sama Pak Tema. Aku saja yang cowok suka sama cara mengajar Pak Tema,” aku Baim.


“Aku bukan cewek yang biasa. Aku luar biasa,” bisik Kiran cengengesan.


********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2