
“Itu pacarnya ya, Dek?” tanya mbak pelayan toko.
“Lah, si mbak kepo banget sih sama urusan orang,” gerutu Kiran dalam hati. “Iya, Mbak. Kenapa tanya-tanya? Mbak naksir sama pacar saya? Jangan jadi pelakor, Mbak. Pacar saya memang ganteng tapi dia sudah jadi milik saya. Jadi, Mbak jangan coba-coba menggoda pacar saya,” jawab Kiran asal.
“Masih pacar kan, Dek? Lagian Adek kan masih SMA, masa mau cepat-cepat nikah?” jawaban si mbak membuat Kiran semakin semangat untuk menggoda.
“Kita mau nikah minggu depan, Mbak,” jawab Kiran semakin asal sambil mengelus-ngelus perutnya yang datar. Ia ingin mengetahui reaksi si pelayan toko yang sepertinya naksir Adit.
“Lho, memangnya anak SMA bisa menikah sebelum lulus?” tanya mbak pelayan toko kaget. Mungkin ia tidak menyangka jika aturan tidak boleh menikah saat sekolah sudah berubah. Aturan memang tidak berubah, tetapi kenyataan yang terjadi sungguh membuat banyak orangtua dan guru pasrah menghadapinya.
Pergaulan yang terjadi di kalangan remaja sudah sangat memprihatinkan. Banyak siswa perempuan yang mengajukan cuti karena harus hamil dan melahirkan. Zaman dulu, siswa perempuan yang hamil saat masih sekolah, bisa dipastikan sulit untuk meneruskan sekolah. Kalaupun meneruskan sekolah, mereka akan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh pihak lain. Zaman sekarang, siswa perempuan yang hamil tidak lagi menyembunyikan kehamilannya. Mereka terang-terangan mengajukan cuti untuk melahirkan.
__ADS_1
“Apa sih yang gak bisa di zaman sekarang, Mbak. Apalagi kalau kita memang harus segera menikah.” Kiran semakin asal dalam memberikan jawaban.
Kiran mendengar pelayan toko itu beristigfar berkali-kali. Mungkin ia menganggap Kiran dan Adit sudah berbuat yang tidak sepantasnya dilakukan oleh pasangan yang bukan suami istri sehingga terpaksa menikah. Membayangkan hal tersebut membuat Kiran terkikik dan membuat pelayan toko itu semakin sering beristigfar.
Kiran hanya menggoda mbak yang kepo itu dan bukan berarti ia mendukung apa yang dilakukan oleh para remaja yang berpacaran hingga kebablasan. Kiran juga sangat menyesalkan apa yang terjadi pada remaja perempuan yang terpaksa putus sekolah karena hamil, baik itu karena pergaulan bebas atau pun korban perkosaan.
Kiran sering menangani kasus perkosaan. Setiap kali ia menangani kasus tersebut, nalurinya sebagai perempuan ingin menghajar si pelaku hingga babak belur dan mungkin hingga nyawanya melayang, tetapi Kiran diharuskan bersikap tenang dan tetap menjaga emosi.
Kiran masih tertawa saat meninggalkan toko seragam. Ia puas melihat wajah si mbak pelayan toko yang pucat pasi mendengar jawabannya yang di luar nalar. Sebuah hiburan sebelum ia memulai misi yang pasti menguras fisik dan pikirannya.
“Kamu gak beli 5 pasang juga?” tanya Adit sarkas.
__ADS_1
“Kalau sepatu cukup 1 saja. Eh apa aku beli juga yang model ini. Lucu modelnya,” ujar Kiran sambil melihat-lihat lagi model sepatu lainnya.
“Jangan mulai!” peringat Adit.
“Aku beli dua pasang saja ah,” ucap Kiran ringan sambil meminta ukuran yang cocok pada penjaga tokonya.
“Sekarang kita beli tas baru!” seru Kiran girang. Ia menyeret Adit masuk ke sebuah mall terbesar di kota mereka. Sebuah kesempatan menyenangkan yang jarang mereka dapatkan, atau mungkin hanya kesenangan
untuk Kiran bukan Adit yang tidak suka jalan-jalan santai di mall.
Adit hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Kiran. Pantas saja para pimpinan mereka memutuskan Kiran menjadi anak SMA, karena kelakuannya tidak jauh berbeda dengan anak SMA pada umumnya.
__ADS_1
***********
to be continued...