
“Enggak. Aku gak begitu,” kelit Kiran.
“Bagus deh. Jangan seperti cewek-cewek lain yang tergila-gila sama Pak Tema.” Baim berkata tajam.
“Ingat sama misi dan tugas kamu, Xena Sasikirana.” Kiran terus merapalkan kalimat tersebut dalam hatinya.
Untuk saat ini, Kiran merasa beruntung karena duduk di barisan paling belakang. Dia tidak harus mengatur degup jantungnya yang bekerja tidak seperti biasanya karena harus melihat guru tampan itu dari jarak dekat. Kiran bernafas lega akan hal itu.
Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama. Benar kata Baim kalau guru muda itu adalah guru yang menyenangkan. Selain ramah, dia juga mengajar dengan metode yang menyenangkan. Hampir semua siswa dia sapa dan dengan interaktif menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah pada setiap siswa yang dia datangi tidak seperti guru sejarah di masa lalunya.
Jantung Kiran sudah mulai berdetak tidak normal karena guru tampan tersebut semakin mengikis jarak diantara mereka.
Deg…
Benar saja, siswa selanjutnya yang dihampiri oleh Tema adalah Kiran.
Kiran menunduk untuk menghindari tatapan Tema.
“Kamu murid baru ya? Baru hari ini saya melihat kamu di kelas ini,” tanya Tema ramah.
“Eh… i-iya Pak. Saya murid baru pindahan,” jawab Kiran gugup dengan wajah masih tertunduk.
“Pindahan dari mana?” tanya Tema lagi.
“Dari Garut,” jawab Kiran.
__ADS_1
“Wow, kota yang sangat menyenangkan dan banyak situs sejarah juga ada di Garut.” Tema bertepuk tangan setelah mengetahui kalau Kiran berasal dari Garut.
“Kamu tahu situs-situs sejarah yang ada di Garut?” tanya Tema tiba-tiba.
“Eh, sa-saya kurang tahu, Pak,” jawab Kiran terbata-bata.
“Ada yang tahu?” tanya Tema kepada semua siswa yang ada di kelas.
Hening….
“Saya tahu, Pak.” seorang siswa mengangkat tangannya.
“Ya, Lukman. Coba sebutkan!” perintah Tema.
“Saya cuma tau satu. Itu juga karena diceritakan sama eyang saya,” jawab siswa bernama Lukman itu.
“Candi Cangkuang, Pak,” jawab Lukman yakin.
“Ya, betul sekali. Salah satu situs bersejarah di Garut itu Candi Cangkuang. Kamu tahu sejarah dari Candi Cangkuang?” tanya Tema pada Lukman.
“Gak tau, Pak. Saya cuma diceritakan saja sama eyang saya. Terus saya juga pernah main ke sana sama keluarga,” jawab Lukman.
“Kamu tahu sejarahnya? Hm, siapa nama kamu?” tanya Tema kembali menatap Kiran.
“Tidak tau, Pak,” jawab Kiran.
__ADS_1
“Tapi kamu tahu kan nama kamu sendiri?” tanya Tema.
“Huuuuuuu….” semua siswa di kelas kecuali Baim menyoraki Kiran.
Tema tersenyum menatap Kiran
“An-Annisa Fauziah, Pak,” jawab Kiran. Dia tidak mampu mengatasi kegugupannya. Baru pertama kali Kiran bersikap seperti itu. Dalam kehidupan dewasanya, tidak pernah sekalipun Kiran terlihat gugup, bahkan saat menghadapi para pimpinan yang menginterogasinya.
“Tidah usah gugup seperti itu, Nisa. Saya tidak akan marah meskipun kamu tidak bisa menjawab. Kita semua di sini belajar sejarah bersama-sama.” Ucapan Tema semakin membuat Kiran gugup.
“I-iya, Pak.”
“Kamu akan menyukai pelajaran sejarah jika kamu mengetahui tujuan kamu mempelajarinya,” kata Tema tepat pada sasaran.
“Siaaaaal… kamu kok bisa tau sih kalau aku gak suka pelajaran Sejarah,” rutuk Kiran dalam hatinya.
“Apa kamu mengetahui tujuan kita mempelajari sejarah?”
Kiran menggelengkan kepala.
“Karena kita tidak atau kurang mengetahui manfaat dari mempelajari sejarah, jadi kita kurang menyukai bahkan membenci pelajaran sejarah.” Perkataan Tema menohok Kiran.
“Dasar guru menjengkelkan,” rutuk Kiran masih dalam hatinya. Sebenarnya, ia berani membalas kata-kata Tema, tetapi ia menyadari bahwa ia sedang bertugas.
**********
__ADS_1
to be continued...