
“Aaaaargh… kenapa wajah dia selalu terbayang-bayang? Baru juga tiga hari tapi dia sudah berhasil mengusik ketenanganku?” Tema menghela nafas kasar saat menyadari bahwa wajah murid barunya itu kerap hadir dalam pikirannya.
Wajah cantik dan imut Kiran, tanpa diundang selalu hadir dalam pikirannya baik ketika ia sedang mengajar di kelas maupun di ruang guru saat waktu istirahat. Pun ketika ia baru saja pulang dan duduk santai di kamar kecilnya, wajah muridnya itu sudah datang menyapa dalam pikirannya.
“Gawat ini, benar-benar bahaya,” gumam Tema.
Untuk mengusir bayangan perempuan yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya, Tema membuka laptop dan memeriksa hasil penelitian yang sedang ia kerjakan. Tema memutuskan untuk menyibukkan dirinya agar terbebas dari kejaran wajah muridnya itu.
Beruntung bagi Tema karena saat ia tengelam dalam kesibukan mengolah data hasil penelitian, wajah Kiran untuk sementara bisa menjauh dari pikirannya.
Tema sangat fokus pada apa yang dikerjakannya sehingga tidak ia sadari jarum jam sudah menunjukkan angka 12 di tengah malam.
Saat menyadari ia belum menunaikan salat isya, Tema langsung bergegas mengambil air wudu. Setelah selesai menunaikan salat isya, Tema melanjutkan pekerjaannya hingga menjelang subuh.
Hari Kamis dan Jumat adalah hari Tema untuk ke kampus. Selain menjadi guru sejarah di SMA, Tema juga menjadi asisten dosen sambil bersiap untuk melanjutkan pendidikan di program doktoral. Sebenarnya Tema berniat untuk mengambil program doktoralnya di kampus tempat ia mengajar saja, tetapi dosen pembimbingnya bersikeras agar Tema mengambil program doktoral di universitas luar negeri.
Tema sudah menentukan pilihan universitas yang akan ditujunya. Penelitian yang sedang ia kerjakan adalah persyaratan untuk pengajuan program doktoral di universitas tujuan. Tema juga sudah mengajukan program beasiswa untuk pendidikan lanjutannya itu.
__ADS_1
Jam delapan pagi, Tema sudah tiba di kampus. Dia segera menuju ruangan dosen pembimbingnya untuk menemuinya.
“Assalamualaikum, Prof,” sapa Tema ketika masuk ke ruangan dosen pembimbingnya.
“Waalaikumsalam. Duduk, Tem.” Prof. Wulan Hartati mempersilahkan Tema untuk duduk.
Tema pun duduk menghadap Prof. Wulan dengan gugup karena tidak biasanya Prof. Wulan menelfon pagi-pagi sekali.
“Ada kabar bahagia untuk kamu,” ujar Prof. Wulan sambil tersenyum.
“SK kamu untuk menjadi dosen tetap sudah keluar. Selamat!” Prof. Wulan mengulurkan tangan untuk memberi selamat kepada Tema.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Prof. Terima kasih atas bantuan dan dukungan selama ini.” Tema menyambut uluran tangan Prof. Wulan.
“Dan untuk kabar yang lainnya. Harap bersabar. Insya Allah kabar baik akan segera menyusul,” ungkap Prof. Wulan.
Ingin rasanya Tema memeluk wanita bersahaja di depannya untuk meluapkan kegembiraanya. Prof. Wulan adalah orang yang paling mendukung Tema untuk menggapai semua impiannya. Kepada Prof. Wulan lah, Tema mencurahkan semua isi hati terkait dengan impiannya.
__ADS_1
“Saya sangat berterima kasih kepada Prof. Wulan atas segala dukungannya. Semoga Allah membalas semua kebaikan Prof. Wulan kepada saya.”
“Ini berkat usaha dan kerja keras kamu, Tem. Saya hanya mendorong dan membuka peluang saja.” ujar Prof. Wulan.
Selanjutnya, Tema dan Prof. Wulan tengelam dalam diskusi panjang hingga menjelang jam makan siang.
“Kita makan siang bersama ya, Tem,” ajak Prof. Wulan.
“Terima kasih, Prof.” Tema mengangguk.
“Kita makan siang di rumah saya. Sekalian saya juga ingin memperkenalkan kamu dengan anak bungsu saya yang baru saja lulus kuliah,” undang Prof. Wulan.
“Iya, Prof.” jawab Tema tidak kuasa menolak ajakan Prof. Wulan.
*******
to be continued...
__ADS_1