Rahasia Sang Detektif

Rahasia Sang Detektif
9. Guru Sejarah


__ADS_3

Kiran tersadar dari lamunannya mendengar bunyi bel masuk.


Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran sejarah. Pelajaran yang paling Kiran tidak sukai saat masih jadi anak SMA dulu. Sekarang, ia harus kembali bertemu dengan pelajaran sejarah yang dibencinya. Pelajaran sejarah membuat Kiran mengantuk. Peristiwa dia dimarahi sampai orangtuanya dipanggil ke sekolah karena tertidur saat pelajaran sejarah masih terekam jelas di memorinya hingga sekarang.


“Haaaaa….” Kiran mengerang pelan.


“Kenapa?” tanya Baim saat mendengar erangan malas Kiran.


“Aku gak suka pelajaran sejarah,” sahut Kiran malas.


“Pelajaran sejarah disini beda. Kamu bakalan suka,” ujar Baim yakin.


“Gak bakalan. Aku punya pengalaman tidak mengenakkan dengan pelajaran sejarah. Dulu…eh waktu kelas satu, aku pernah dimarahi guru sejarah karena tertidur di kelas,” kekeh Kiran.


“Guru sejarahnya asyik. Kamu gak akan tertidur di kelas saking serunya mendengarkan guru kita kalau sedang mengajar.


“Memang guru sejarahnya asyik?” tanya Kiran heran karena selama dia bersekolah dulu, tidak ada guru sejarah yang mengasyikkan. Semua guru sejarah di SMA-nya dulu membosankan.


“Asyik banget. Nanti kamu rasakan saja sendiri,” jawab Baim yakin.


“Kita taruhan. Kalau guru sejarah itu tidak asyik dan membuat aku bosan, kamu harus traktir aku.” Kiran menantang Baim.

__ADS_1


“Boleh. Tapi kalau kamu tidak tidur dan malah terpukau dengan guru sejarah kita, kamu harus mau aku ajak jalan sepulang dari sekolah.”


“Deal!” sahut Kiran percaya diri.


“Eh, tapi kamu gak boleh naksir guru sejarah kita. Aku marah kalau sampai kamu juga ikut-ikutan cewek-cewek yang lain,” ancam Baim.


“Memangnya kenapa kamu sampai berpikiran kalau aku bakalan naksir sama guru sejarah itu?” tanya Kiran heran.


“Kamu lihat saja nanti penampilan Pak Tema, guru sejarah kita.”


“Memangnya dia ganteng?” tanya Kiran mulai penasaran dengan guru sejarahnya.


“Kenapa memangnya?” tanya Kiran.


“Karena aku suka sama kamu,” ucap Baim dalam hatinya. Ia belum berani mengungkapkan perasaan pada gadis cantik di hadapannya ini. Dia khawatir kalau gadis yang disukainya ini menganggap dia main-main dan tidak serius karena mengungkapkan perasaan di hari pertama mereka bertemu.


“Assalamualaikum! selamat pagi semuanya!” Seseorang mengucapkan salam dengan suara bass yang terdengar seksi di telinga Kiran.


“Waalaikumsalam… Selamat pagi juga Pak Tema…” semua siswa di ruangan kelas XI IPS 3 menjawab salam dari Tema, kecuali tentu saja Kiran. Ia terpukau melihat sosok pria dewasa masuk ke dalam kelas dengan langkah tegap dan percaya diri.


“Bagaimana kabar kalian pagi ini? masih semangat, kan?”

__ADS_1


“Semangaaaat…..” jawab semua siswa kompak. Terlihat bahwa semua siswa di kelas ini memang menyukai kehadirannya.


Kiran tertegun melihat sosok pria yang sekarang sedang berdiri di depan kelasnya. Matanya tak berkedip dan terus menatap Tema dengan tatapan kagum.


“Ganteng banget…” batin Kiran berteriak. Tatapan Kiran terpaku pada sosok pria di depan kelas. Ingin rasanya Kiran duduk di deretan bangku terdepan.


“Stop, Xena Sasikirana! Fokus sama misi kamu.” Sisi kanan Kiran mengingatkan.


Kiran segera memutuskan tatapannya dan mencoba untuk mengalihkannya dengan mencari-cari buku tulis di dalam tasnya.


Baim memperhatikan gerak gerik Kiran dan mulai merasa khawatir jika gadis yang disukainya itu akan seperti siswi-siswi lainnya yang tertarik daya magnet dari guru sejarah mereka.


“Kamu lagi ngapain?” bisik Baim di dekatnya.


“Eh…eh…aku lagi ambil buku tulisku di dalam tas.” Kiran menjawab gugup.


“Suka sama Pak Tema pada pandang pertama, huh?” tanya Baim dengan nada cemburu.


**********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2