
Tiara menatap Intan saat dia melontarkan pertanyaan itu kepdanya,rasanya cukup aneh sahabatnya itu melontarkan pertanyaan itu.
"Tentu saja percaya,dia kan suamiku,ayah dari anakku tentu saja dia ingin yang terbaik untuk anak kami nanti dan aku harus memberinya modal agar dia bisa bekerja lebih maksimal untuk menghasilkan banyak uang." Jawabnya tanpa beban membuat Intan hannya bisa menggeleng.
"Tiara...Saat kamu berbuat baik sama orang lain jangan kamu berpikir orang lain juga berbuat baik sama kamu,sebelum memutuskan sesuatu pikirkan dengan matang jangan gegabah." Intan berusaha untuk menasehati sahabatnya itu.
"Kamu kenapa sih Intan,kamu iri ya,kalau aku tidak memberinya modal kapan suami ku bisa berkembang please jangan berpikiran negatif dia sudah berubah dan bahkan selama ini dia sangat baik mungkin saja dia sudah menyesali sikap bodohnya beberapa hari yang lalu." Ujarnya kembali membuat Intan tidak bisa berkata-kata dan dia kembali mengingat nasihat suaminya untuk tidak banyak ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
" Iri...Untuk apa aku iri pada mu,bahkan aku tidak ingin kamu terlalu banyak berkorban untuk suami mu, cinta di hatinya untuk keluarga kecilmu belum tentu seperti yang kamu pikirkan jangan selalu berfikir orang lain itu sama seperti dirimu,tidak ada yang tau isi hati manusia,rambut sama hitam tapi hati kita tidak tau." Intan banyak menasehati Tiara tapi sepertinya dia malah tidak suka mendengar nasihat Intan hingga akhirnya dia pergi dengan wajah muram.
" Sudahlah kamu tidak mengerti tentang kami,dan kami sudah lama menjalani hidup bersama semuanya baik-baik saja tiga tahun menikah dengannya sudah membuatku mengerti tentang dia,susah ngomong sama kamu." Ucap Tiara dengan wajah yang tidak senang.
" Terserah lah,aku hannya ingin kamu tidak kecewa suatu saat,benar kata suamiku,tidak perlu terlalu ikut campur masalah rumah tangga orang lain." Ujarnya lalu dia kembali ke mejanya.
Sementara itu Tiara masuk ke ruangannya,wajahnya masam karena teman paling baiknya tidak memberikan dukungan kepdanya,padahal dia hannya ingin kehidupan rumah tangganya semakin baik dan kelak Caca memiliki masa depan yang cemerlang.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi Tiara bergegas pulang ke rumahnya,sebelum pulang tidak lupa dia mampir di warung bakso lalu beli dua bungkus untuk di bawa pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah dia melihat suaminya sedang sibuk di bengkel dia tersenyum melihat suaminya yang sedang bekerja dengan tulus keputusannya untuk mengajukan pinjaman ke bank semakin bulat karena dia ingin melihat suaminya menjadi orang sukses.
" Mas makam duku,aku bawa bakso dan es dawet kesukaan mu." Ujarnya,Adrian hannya mengamgguk dia sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Saat dia masuk ke dalam rumah dia melihat Viona yang sedang duduk di ruang tamu sambil tiduran,sudah lama dia tidak melihat adiknya sejak keributan mereka beberapa Minggu yang lalu saat ibunya memfitnah dirinya.
Dia mengabaikan Viona yang sedang sibuk bermain ponsel,dia mengambil mangkok lalu dia bawa keluar untuk suaminya.Walaupun viona dan ibunya di rumah mereka sama sekali tidak melakukan apa pun bahkan tadi pagi dia tidak meninggalkan piring kotor tapi sekarang semua piring bersih pindah ke tempat cucian.
Tiara menghela napas berat,dia tidak mau lagi meributkan hal kecil seperti itu,dia tidak mau suaminya kembali memarahinya hannya karena masalah kecil.
"Vio....Kamu belum pergi?" Tanya ibunya yang tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya.Sejak keributan mereika kemarin itu ibunya hannya mau keluar kamar saat Tiara tidak di rumah.
" Aku libur beberapa Minggu ini Bu...Aku capek kerja terus aku mau istirahat." Jawabnya santai.Sebenarnya Linda sedikit keberatan kalau Viona harus tinggal bersama mereka dia takut putri keduanya itu mengetahui hubungan mereka atau tidak dia dan Adrian jadi tidak bebas di rumah.
Tiara yang mendengar obrolan mereka hannya bisa diam,tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali diam dan menjalaninya saja.Tiara menemui Adrian yang sedang duduk di dalam bengkelnya,pekerjaannya sudah selesai dan sekarang dia menikmati bakso yang di bawa oleh istrinya.
" Tiara bagaimana apa kamu sudah memikirkan apa aku bilang tadi pagi?"
"Sudah mas,aku akan meminjam uang yang kamu bilang ke bank,kamu bisa memakainya dan membuka usaha mu ini,kelak kamu menjadi orang sukses agar anak kita Caca bisa mendapat hidup yang layak." Jawab Tiara.Tentu saja Adrian kegirangan dalam hati ternyata tidak sulit baginya untuk meluluhkan hati Tiara.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya sayang,kamu memang wanita yang sangat baik,aku sangat beruntung memiliki istri sebaik kamu." Ucapnya lalu memeluk Tiara.
"Hahaha....Tunggu kekasih hatiku,setelah aku mendapat modal dan memulai usaha baru,aku akan melamar mu." Ucapnya dalam hati dengan senyum jahat di bibirnya.
Beberapa hari ini Tiara sibuk mengurus semua berkas dan pinjaman ke bank,tidak tanggung-tanggung dia mengajukan pinjaman seratus juta rupiah,pinjaman yang besar bagi seorang tenaga PPPK.
Adrian sama sekali tidak mau membantunya untuk mengurus pinjaman itu,dan bahkan dia selalu menghindar dengan halus agar dia tidak ada ikatan apa pun tentang semua hutang ke bank dan Tiara yang begitu polos tidak mencurigai sikap suaminya.
Tiara duduk di sopa,hari ini dia cukup lelah mengurus semua pinjamannya ke bank,panasnya matahari dia lalui untuk mengurus semua berkasnya,bahkan untuk istrahat saja dia tidak sempat Caca juga terlihat lelah hari ini mungkin karena dia selalu di bawa kesan kemari.
"Sayang sabar ya...Kelak usaha yang papa mu jalan kan sukses kamu pasti akan menikmatinya juga." Ucap Tiara sambil mengelus rambut Caca dengan lembut.
"Kamu sudah pulang? bagaimana hasilnya apa masih lama cairnya...Tadi aku ke toko besar untuk melihat-lihat barang,dan aku juga sudah menyuruh orang untuk merenovasi bengkel ku,sepertinya aku harus memperbaiki gudang itu." Ucap Adrian dia duduk di hadapan Tiara.
"Mungkin Minggu depan sudah cair mas,semoga saja tidak ada halangan." Ucap Tiara.
Benar saja seminggu kemudian pinjaman Tiara telah dikirim ke rekeningnya dia sudah tidak sabar pulang ke rumahnya dan mengabari suaminya.
__ADS_1
Intan yang tau akan hal itu hannya bisa diam,baginya percuma saja menasehati temannya yang terlalu di buatkan oleh cinta hingga dia menjadi budak cinta suaminya.
🌺🌺🌺 Bersambung 🌺🌺🌺