Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova

Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova
Episode 12


__ADS_3

Waktu berlalu, dan ketika aku mulai melupakan Maya, suatu hari dia akhirnya memberi kabar. Maya ini bercerita tentang masalah besar yang sedang dihadapinya. Dia meminta maaf karena tidak bisa memberiku jawaban yang aku tunggu-tunggu karena dia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri.


Awalnya, aku marah dan kesal bahwa dia memperlakukan aku seperti ini. Namun, kemudian aku sadar bahwa setiap orang memiliki masalahnya sendiri dan mungkin dia benar-benar mengalami masa sulit. Aku memutuskan untuk memberinya kesempatan untuk menjelaskan dan meminta maaf nanti.


Ketika akhirnya kami bertemu, Maya menjelaskan dengan detail tentang masalah yang sedang dihadapinya. Dia mengungkapkan bahwa ia sedang mengalami kesulitan dalam pekerjaannya dan juga menghadapi masalah pribadi yang cukup besar. Maya mengakui bahwa dia memang terlalu fokus pada urusannya sendiri dan menelantarkan aku.


Mendengar penjelasan Maya, perasaan marah dan kesal perlahan-lahan menghilang. Aku menyadari bahwa hubungan dan persahabatan tidak selalu berjalan mulus, dan jika kita peduli satu sama lain, kita harus memberikan kesempatan dan pengertian pada saat-saat sulit.


Setelah mendengar penjelasan yang tulus dari Maya, aku memutuskan untuk memaafkannya. Aku mengerti bahwa dia tidak bermaksud menyakiti aku atau mengabaikan perasaanku. Kehidupan memiliki tantangan yang berbeda-beda bagi setiap orang, dan kadang-kadang kita perlu memprioritaskan masalah dan kesulitan yang dihadapi.


Dalam menghadapi masalah ini, aku memutuskan untuk menjadi teman yang mendukung bagi Maya. Aku menawarkan bahu untuknya bersandar dan mendengarkan setiap keluh kesahnya. Aku berjanji untuk tetap ada di sampingnya, baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan.


Namun demikian, aku merasa senang dan terhormat karena bisa berinteraksi dengan perempuan seperti Maya, Luna, dan lainnya.


Maya, dengan kebaikan hatinya yang pernah menolongku di masa lalu. Harus kuakui bahwa aku tertarik padanya karena sifatnya yang begitu peduli dan peka terhadap orang lain. Maya selalu siap membantu dan mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan ketika dia sendiri sedang menghadapi masalah.


Selain itu, kemampuan dan bakatnya dalam bermain alat musik membuatku sangat terkesan. Sebenarnya aku berpikir untuk mengajaknya berduet nanti, untuk membantunya yang sedang bermasalah dalam pekerjaan.


Tak hanya itu, keindahan Maya juga tak bisa kuabaikan. Wajahnya yang cantik dan senyumnya yang hangat mampu membuatku terpesona setiap kali bertemu dengannya. Selain itu, Maya juga memiliki sikap yang sangat sopan dan ramah kepada siapa saja, membuatnya mudah didekati dan disenangi oleh banyak orang.


Luna, dengan kecantikan dan pesonanya, membuatku merasa beruntung bisa bersamanya dan berperan bersamanya. Aku tahu bahwa kemungkinan ini tidak akan terjadi jika aku tidak bertemu dengan kucing hitam tersebut yang secara ajaib membuatku berubah menjadi tampan.


Selain Luna, ada Anita yang juga pernah bermain film klasik dengan aku sebelumnya. Meskipun telah berlalu waktu sejak itu, kami masih sering berhubungan dan bertukar kabar. Hari ini, Anita mengajakku untuk bertemu dan tentunya aku merasa antusias.


Secara pribadi, aku sangat mengagumi Anita. Dia memiliki bakat akting yang luar biasa dan telah menginspirasi karirku selama ini. Aku merasa terhormat bahwa dia masih menghubungiku dan tertarik untuk berkumpul.


Bertemu dengan Anita hari ini akan menjadi kesempatan yang luar biasa untuk berbicara tentang dunia akting, membagikan pengalaman, dan mungkin mengulangi keajaiban yang pernah kami ciptakan bersama di masa lalu. Aku mengharapkan pertemuan ini menjadi momen berharga yang akan meningkatkan hubungan kami dan mungkin membawa kesempatan baru dalam karir kami.

__ADS_1


Secara keseluruhan, aku merasa bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku untuk beradu peran dengan perempuan seindah Luna dan berhubungan baik dengan Anita. Aku akan membuat pertemuan ini menjadi waktu yang berarti dan berharap dapat menjaga hubungan ini berkembang di masa depan.


Saat ini, aku sedang menunggu Anita datang menjemputku. Aku menunggu di depan rumahku dan dia sebentar lagi datang. Bukannya aku tidak punya kendaraan, tapi dia yang memaksa agar aku ikut dengannya.


Mungkin dia merasa lebih nyaman mengendarai kendaraannya dan ingin memastikan aku aman sampai ke tempat tujuan. Aku tidak keberatan karena aku benar-benar menikmati setiap kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan Anita.


Saat dia tiba, senyumnya yang cerah segera menghiasi wajahnya. Aku melompat masuk ke mobilnya dan kami segera mulai berbicara. Kami langsung terjebak dalam percakapan tentang film terbaru yang kami berdua tonton dan juga tentang rencana masa depan kami dalam dunia hiburan.


Selama perjalanan, aku merasa begitu dekat dengan Anita. Pengalaman yang kami bagikan dalam kehidupan dan karir kami membuat ikatan kita semakin kuat. Aku merasa diperhatikan dan didengarkan olehnya, meskipun kami berada di atas panggung yang sama.


Ketika kami tiba di tujuan, Anita mengundangku untuk makan malam bersama. Aku menyambut undangan dengan senang hati dan kami mencari restoran yang nyaman untuk makan malam. Di sana, kita bisa melanjutkan pembicaraan kami tentang akting dan pertumbuhan pribadi.


Setelah makan malam, kami berjalan-jalan di sekitar kota. Kami tertawa, berbicara tentang masa lalu, dan merencanakan masa depan. Aku merasa begitu beruntung dapat berada di samping seorang wanita luar biasa seperti Anita dan merasakan energi positif yang dia timbulkan.


Pertemuan ini benar-benar berarti bagiku. Aku merasa terhormat dan terinspirasi oleh Anita, dan aku berharap hubungan kami terus berkembang di masa depan. Bersama-sama, kami mungkin dapat menciptakan karya seni yang luar biasa dan menginspirasi orang lain untuk mengikuti passion mereka.


Setelah pertemuan ini, aku tahu bahwa Anita bukan hanya seorang aktris yang luar biasa, tetapi juga teman dekat yang selalu ada untuk mendukungku. Aku sangat beruntung memiliki seseorang seperti dia dalam hidupku dan aku berjanji untuk tidak pernah melupakan betapa berharganya persahabatan kami.


Dua hari kemudian, aku kembali ketemuan dengan Anita karena kami memang sudah janjian malam itu. Anita mengatakan ingin meminta bantuanku untuk menemui orang tuanya. Namun, setiba di rumahnya, Anita tiba-tiba memohon agar aku pura-pura menjadi kekasihnya.


“Jadi ini yang kamu bilang butuh bantuanku?" ujarku heran.


Anita tampak canggung dan sedikit gugup saat menjawab, "Aku tahu ini tiba-tiba, tapi aku benar-benar perlu ini. Orang tuaku sangat ingin bertemu menjodohkan aku, dan aku menolak dengan mengatakan sudah memiliki kekasih."


Aku terdiam sejenak, mencoba memproses informasi yang baru saja aku dengar. Meskipun aku tak terlalu mengetahui bagaimana respons seharusnya, namun satu hal yang jelas terlintas di benakku: aku ingin membantu teman baikku ini.


"Apa kamu tidak bisa memberi tahu orang tuamu bahwa kamu belum siap menjalin hubungan? Mungkin mereka akan lebih memahami," jawabku pelan.

__ADS_1


Anita menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Aku sudah mencoba, tapi mereka terus-menerus mengomeli aku. Mereka ingin aku segera menetap dan memiliki keluarga. Aku merasa terjebak, dan aku tak tahu harus berbuat apa."


Aku melihat ke dalam matanya dan menyadari betapa besar tekanan yang dia hadapi. Aku tak tega melihatnya seperti ini. Akhirnya, aku mengambil keputusan.


"Biar aku pikirkan sejenak," kataku sambil berdiri dari kursi. Aku pergi ke kamar untuk memberikan waktu dan ruang untuk memikirkan situasi ini.


Setelah beberapa saat, aku kembali ke ruang tamu dengan sebuah ide yang tak sempurna, tapi mungkin bisa membantu Anita. "Baik, aku akan melakukannya. Tetapi, kita harus menjaga batasan dan harus jelas bahwa ini hanya pura-pura untuk orang tuamu."


Anita menganggukkan kepala dengan sukacita campur kelegaan. "Terima kasih, kamu benar-benar menyelamatkanku."


Dalam minggu berikutnya, kami berdua berlatih berbagai hal yang harus kami lakukan saat berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Kami mempelajari kebiasaan masing-masing, topik pembicaraan yang kami bisa gunakan, serta caranya agar kelihatannya lebih akrab dan intim.


Setelah puas dengan persiapan kami, hari penemuannya pun tiba. Aku berpakaian rapi, memastikan bahwa Anita pun akan terkesan saat melihat penampilanku nanti. Kami berdua menghampiri ruang tamu, dan aku bisa melihat kegelisahan di mata Anita.


"Aku gugup," ujar Anita gemetaran.


Aku mengambil tangan Anita dan tersenyum lembut. "Semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu tetap tenang dan ingat apa yang sudah kita latih."


Kami berjalan mendekati ruang tamu dan aku bisa melihat wajah Anita berbinar saat melihat kedua orang tuanya. Mereka menyambut kami dengan hangat, dan aku mencoba untuk bertindak seakan-akan aku dan Anita adalah sepasang kekasih yang serius.


Selama pertemuan, kita berbincang, tertawa, dan berbagi cerita tentang kehidupan kita. Meskipun kami berdua tahu bahwa ini semua hanyalah pura-pura, namun aku tak bisa menahan perasaan bahwa kebersamaan ini terasa nyaman. Aku juga mulai merasa sedikit bersalah karena terlibat dalam kebohongan ini.


Setelah beberapa jam, orang tua Anita akhirnya memutuskan untuk memberikan kami ruang dan waktu untuk bicara sendirian. Anita dan aku bicara berdua di luar rumahnya.


"Terima kasih atas segalanya," kata Anita, suaranya penuh dengan rasa terima kasih. "Aku tahu ini bukan hal yang mudah untukmu, tapi kamu benar-benar telah membantuku."


Aku tersenyum padanya dan merasakan kehangatan di hatiku. "Kamu adalah temanku, Anita. Aku selalu ada untukmu."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2