
Akhirnya film tentang drama percintaan antara guru dan murid yang aku perankan mulai tayang di acara televisi drama mingguan. Aku berperan sebagai guru dan Sintia sebagai muridnya.
Aku sangat suka alur ceritanya karena menghadirkan kerumitan dan konflik moral dalam hubungan antara seorang guru dan murid.
Aku berusaha menciptakan karakter guru yang penuh perhatian dan mentor bagi Sintia, namun kesulitan menahan perasaan cinta yang tumbuh di antara mereka.
Selama syuting, kami berdua berusaha menjaga chemistry yang kuat antara karakter kami. Kami berdiskusi tentang setiap detail dan adegan dalam naskah untuk memastikan bahwa emosi yang terbawa jujur dan alami.
Aku sangat terkesan dengan dedikasi Sintia dalam memerankan karakter murid yang kompleks dan penuh perasaan.
Meskipun bermain sebagai guru yang jatuh cinta pada muridnya adalah tantangan, namun saya berharap penonton dapat melihat sisi kemanusiaan dalam karakter saya.
Aku ingin menunjukkan bahwa ketika datang pada cinta, kadang-kadang kita tidak bisa mengendalikan perasaan kita.
Namun, aku juga berharap penonton dapat menyadari kompleksitas etika dan moralitas di balik hubungan semacam ini.
Setiap episode baru dari drama ini selalu dinantikan oleh penonton setia.
Aku merasa terhormat bisa menjadi bagian dari proyek ini dan berharap drama ini dapat memberikan refleksi yang mendalam tentang cinta dan moralitas kepada penonton.
"Sayang, sepertinya kamu sangat menikmati beradu peran dengan aktris muda cantik seperti Sintia," sindir istriku, Anita.
Aku tersenyum kikuk mendengar komentar itu. "Anita, kamu tahu bahwa itu hanya akting, bukan? Kami berdua hanya menjalankan peran yang ada dalam naskah drama ini."
Anita melihatku dengan ekspresi tajam. "Aku tahu, tapi aduh, kenapa kamu harus terlihat begitu dekat dengannya? Aku tidak nyaman melihat kalian bersama seperti itu."
Aku mencoba menjelaskan. "Ini hanya ilusi dalam dunia akting, Anita. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah melakukan hal-hal yang melanggar batas etika dan moralitas kita."
Tetapi Anita masih terlihat ragu dan cemas. "Tapi apa yang membuatmu yakin kamu tidak akan terbawa perasaan? Kita tidak bisa mengendalikan hati kita, kan?"
Aku menyentuh lengan Anita dengan lembut. "Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi aku meyakinkanmu bahwa hatiku hanya untukmu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan hubunganku dengan Sintia hanyalah profesional."
Kami berdua terdiam sejenak, merenungkan kata-kata yang baru saja kuucapkan. Hubungan kami memang perlu pembicaraan yang lebih dalam, untuk saling memahami kekhawatiran dan rasa cemas yang mungkin timbul dalam situasi seperti ini.
Dunia akting mungkin terlihat glamor dan menarik dari luar, tetapi di baliknya, ada pekerjaan keras, komitmen, dan juga tantangan etika yang harus dilewati.
__ADS_1
Aku berharap penonton dapat melihat dan memahami sisi kemanusiaan di balik karakter-karakter dalam drama ini, serta kompleksitas hubungan manusia yang sering kali tidak dapat kita kendalikan.
Anita kemudian tersenyum, "Aku tentu saja tahu bahwa kamu orangnya seperti apa."
Aku pun balas tersenyum dan menariknya ke dalam pangkuanku. "Jadi barusan kamu hanya pura-pura marah ya? Kalau begitu, kamu harus dihukum," kataku seraya mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ke kamar.
"Apakah hukumannya berat?" tanya Anita ketika sudah kubaringkan di atas tempat tidur.
Anita tidak banyak berkata apa apa lagi ketika aku mulai melepas menciuminya dari atas sampai bawah tubuhnya.
Dia hanya merespons dengan erangan kecil dan senyum puas saat tangan-tanganku mulai menjelajahi tubuhnya dengan penuh gairah.
Hukuman ini adalah bentuk permainan kami, di mana kami saling memberikan kepuasan dan memenuhi hasratt kami yang menggebu-gebu.
Bagi kami, ini adalah bentuk pengungkapan cinta dan kedekatan yang menambah keintiman hubungan kami.
Kami terus bermain dan mengeksplorasi tubuh kami satu sama lain dengan penuh nafsu.
Anita menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang ku berikan.
Malam berlalu dengan kenikmatan yang tak terhingga, dan kami pun jatuh ke dalam pelukan satu sama lain, berselimut dengan kepuasan dan kelelahan.
Ketika kita saling tersenyum dan saling berbisik kata-kata cinta di telinga satu sama lain, aku tahu bahwa hubungan kami yang penuh gairah ini hanya akan terus tumbuh dan bersemi.
Dan dalam kehangatan pangkuan ini, kita berdua dapat merasakan bahwa cinta kita akan selalu menjadi api yang terus berkobar dan menyala di antara kita.
Esok paginya, Maya dan Luna sedikit menyindir soal permainan kami semalam. "Kalian berdua terlalu berisik," kata mereka berdua.
"Apa kalian cemburu?" tanyaku seraya memeluk keduanya sekaligus.
Maya dan Luna menggelengkan kepalanya. Tanganku iseng dan sedikit meremas pantat mereka ketika kami masih pelukan.
Luna tidak mau kalah dan tangannya mulai menyusup ke dalam handukku. Sementara Maya, lidahnya mulai menjilat dadaku.
"Maya, apakah kamu mau menyusu seperti bayimu? Tapi aku tidak bisa menyusui," kataku bercanda.
__ADS_1
Aksi keduanya semakin menjadi-jadi padahal aku baru saja selesai mandi dan masih hanya dibalut handuk yang melingkar di pinggangku.
"Aku harus berangkat kerja loh!" tegurku mengingatkan, tapi mereka berdua tidak mendengarkan.
Akhirnya, Luna melepas dan melempar handukku entah ke mana.
"Mereka telah menjadi budakmu, Prince. Kau harus memuaskan mereka atau mereka akan gila," kata Night tiba-tiba.
Aku terkejut dengan pernyataan Night dan tidak tahu bagaimana harus meresponnya. Aku merasa terjebak dalam situasi yang sulit dihadapi. Luna dan Maya terus merayu dengan penuh nafsu, dan aku merasa tertarik pada mereka, tetapi bagian logis di dalam diriku tahu bahwa ini tidak benar.
"Apa yang kamu bicarakan, Night? Mungkin ini hanya permainan mereka saja," jawabku dengan hati-hati.
Night menggelengkan kepalanya dengan serius. "Tidak, Prince. Mereka telah dikelilingi oleh kegelapan dan nafsu."
Pada akhirnya, hari ini aku datang telat ke kantor karena harus menemani istri-istriku terlebih dahulu.
Meski demikian, tidak akan ada yang berkomentar jika aku terlambat atau pun tidak hadir untuk bekerja. Jabatanku adalah yang paling tinggi dan para karyawan tidak akan ada yang berani menanyaiku atas alasanku terlambat.
"Hana, apa jadwal kita hari ini?" tanyaku pada asisten pribadiku di kantor.
"Hari ini Anda diundang untuk menghadiri seleksi aktris yang akan direkrut oleh agensi kita," jawab Hana.
"Oh, benarkah? Itu terdengar menarik," kataku dengan antusias. "Jam berapa seleksinya dimulai?"
"Seleksi aktris akan dimulai pukul 10 pagi di studio rekaman utama," jawab Hana. "Satu-satunya bagian yang belum diatur adalah kehadiran Anda karena Anda memiliki pertemuan dengan produser film baru pada pukul 12 siang."
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk datang ke seleksi aktris secepat mungkin," kataku. "Tolong beri tahu saya jika ada perubahan jadwal atau instruksi tambahan."
"Tentu, saya akan menginformasikan Anda segera jika ada perubahan atau instruksi tambahan," kata Hana. "Selamat beraktifitas dan semoga seleksi aktris dan pertemuan dengan produser berjalan dengan lancar!"
"Terima kasih, Hana. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," kataku sambil tersenyum. "Aku senang bisa memiliki asisten pribadi sepertimu."
"Senang bisa membantu Anda, bos," ujar Hana dengan ramah. "Sekarang, ayo kita bersiap-siap untuk hari yang sibuk ini."
Bersambung.
__ADS_1