Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova

Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova
Episode 16


__ADS_3

Kesedihan seketika menghampiriku saat Luna mengucapkan kata-kata itu. Aku berusaha untuk memahami perasaannya, tapi hatiku hancur dengan penolakan yang tiba-tiba ini. Aku mencoba menenangkan diri dan mengibaskan rasa kecewa.


"Aku mengerti," kataku dengan suara yang bergetar, mencoba menyembunyikan rasa sakitku. "Jujur, aku juga merasa sulit untuk memilah perasaanku. Tapi, jika itu yang terbaik untukmu, aku akan menghormatinya."


Luna menatapku dengan mata penuh air mata. "Tidak ada yang lebih aku inginkan daripada bisa menjadi bagian dari kehidupanmu," katanya lirih. "Tapi, kamu harus menyelesaikan urusanmu dengan Anita terlebih dahulu."


Aku mencoba memberikan senyum lembut sebagai tanda pengertian. "Kamu benar, Luna," ujarku. "Jika aku tidak segera menyelesaikan masalahku, takutnya aku malah menyeret kamu ke dalam masalah ini."


Kemudian, kami hanya berbicara tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan perasaan kami, mencoba mengalihkan pikiran dari ketegangan yang terasa di antara kami.


Beberapa jam kemudian, matahari akhirnya terbit dan menyinari langit dengan sinarnya yang hangat. Suhu udara pun mulai meningkat, menghangatkan bumi setelah malam yang dingin.


Semua orang bangun dari tidur mereka dan bersiap menghadapi hari baru. Mereka beraktivitas, pergi ke sekolah, bekerja, atau melakukan kegiatan lainnya untuk mencapai tujuan mereka.


“Baiklah, Luna, sepertinya aku harus pulang," kataku pamit.


Luna mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih sudah menghabiskan waktu bersamaku. Aku juga harus pergi ke kampus sekarang. Tetapi, apa kita bisa bertemu lagi nanti?"


Aku tersenyum lega mendengarnya. "Tentu saja, aku sangat ingin bertemu denganmu lagi. Kapan kamu bisa?"


Luna berpikir sejenak. "Bagaimana kalau dua hari lagi? Kita bisa makan malam bersama."


Aku menyetujuinya dengan senang hati. "Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti.”


Dengan melempar senyum terakhir, kami berpisah dan kembali ke aktivitas kami masing-masing. Walaupun hari ini terasa berat, setidaknya ada harapan untuk bertemu lagi dengan Luna dalam waktu dekat.


Dalam perjalanan pulang, pikiranku masih dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Meskipun kami berusaha untuk mengalihkan perhatian, namun ketegangan yang dirasakan di antara kami tidak bisa diabaikan begitu saja. Sensasi yang aku rasakan malam itu sungguh berbeda daripada saat kami beradu akting. Itu adalah kedua kalinya aku berciuman dengan Luna.


Namun, aku bertekad untuk tetap tenang dan menghadapi apa pun yang akan datang. Setelah semua, kita tidak bisa mengontrol segalanya dalam hidup ini, tetapi kita bisa mengontrol bagaimana kita meresponsnya.


Ketika sampai di rumah, aku duduk di teras sambil menikmati udara pagi yang segar. Terkadang, membiarkan pikiran melayang dan menenangkan diri adalah cara terbaik untuk menghadapi ketegangan dan kekhawatiran yang ada.


Kemudian, Night menghampiriku seraya menyinggung soal hubungan rumit antara aku dengan ketiga wanita cantik itu.

__ADS_1


“Selain dapat menghalangi tujuan untuk mewujudkan mimpimu, cinta juga bisa membuat beberapa pihak terluka," kata Night sambil duduk di dekatku. Aku menatapnya, merasa heran dengan kata-kata yang diucapkannya. Bagaimana seekor kucing bisa tahu tentang urusan rumit dalam kehidupanku?


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan penasaran.


Night menjawab dengan pelan, "Aku telah melihat bagaimana dirimu terjebak dalam dilema antara tiga wanita yang sangat berarti bagimu. Namun, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau dimiliki dengan egois. Cinta seharusnya membawa kedamaian dan kebahagiaan, bukan kekhawatiran dan ketegangan."


Aku merenung sejenak, merenungkan kata-kata itu. Memang benar, hubunganku dengan mereka bertiga itu penuh dengan konflik dan ketidakpastian. Ketegangan dan kekhawatiran tak henti menghantuiku, membuat hidupku menjadi sulit dan tidak tenang.


"Mungkin kamu perlu merenungkan apa yang sebenarnya kamu cari dalam sebuah hubungan," kucing itu melanjutkan. "Apakah yang kamu inginkan adalah cinta yang tulus dan saling mengasihi? Ataukah kamu hanya ingin memiliki dan mengendalikan seseorang?"


Aku menghela napas, merasa kucing itu benar dalam pertanyaannya. Sejauh ini, aku mungkin terlalu egois dan terlena dengan fantasi tentang mimpiku. Aku lupa bahwa cinta sejati adalah tentang saling memberi dan mengasihi, bukan mencari kepuasan diri sendiri.


"Kamu benar," aku akhirnya mengakui. "Aku perlu memikirkan ulang tentang pilihan-pilihan yang telah aku buat. Aku tidak ingin melukai mereka lagi atau terus hidup dalam kebimbangan."


Night tersenyum kecil, membuatnya terlihat sangat bijaksana. "Ingatlah, menjaga hati orang lain adalah tanggung jawabmu. Kau harus belajar mencintai dengan tulus dan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang berarti dalam hidupmu."


Aku mengangguk, merasa terinspirasi oleh kata-kata Night. Mungkin, aku perlu merenung dan menemukan kedamaian dalam diriku sendiri sebelum mengabdikan hatiku kepada orang lain. Hidupku akan menjadi lebih baik jika aku bisa belajar mencintai tanpa mengendalikan dan menghargai perasaan yang tulus dari setiap individu yang ada di sekitarku.


Dalam kesunyian pagi, aku menghela napas panjang dan menutup mataku sebentar. Aku berharap bahwa saat aku membuka mata, aku akan menemukan jalan yang benar dalam mencintai dan menemukan kebahagiaan yang sejati.


Namun, aku ketiduran dan ketika membuka mata, aku sudah berada di dalam sebuah mobil yang sedang melaju.


“Si-siapa kalian?" tanyaku tersentak bangun.


“Kami dari keluarga Van Walton. Tuan Edward Van Walton ingin bertemu dengan Anda," jawab seorang pria yang duduk di sebelahku di kursi belakang mobil.


Aku bingung dan sedikit takut. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan perasaan panikku.


"Apa alasan Tuan Van Walton ingin bertemu dengan saya?" tanyaku dengan hati-hati.


Pria itu tersenyum lembut. "Tuan Van Walton telah mendengar tentang hubunganmu dengan cucunya, Anita Van Walton, dan beliau ingin melihatmu secara langsung."


Aku mencoba mempertimbangkan apa yang sedang terjadi. Apakah Tuan Van Walton memiliki rencana tertentu dengan hubungan kami? Ataukah ada sesuatu yang tidak kuketahui?

__ADS_1


"Di mana kita akan pergi?" tanyaku.


"Kita akan pulang ke rumah keluarga Van Walton," jawab pria itu.


Kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Aku memandang keluar jendela mobil, mencoba mengalihkan pikiranku dari kebingungan yang menghantuiku.


Setelah beberapa saat, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi. Aku hampir terkejut melihat betapa megahnya rumah ini. Pohon-pohon besar dan taman yang indah menghiasi halaman rumah yang luas.


Pria itu membantu aku keluar dari mobil, lalu membawaku masuk ke dalam rumah. Ketika aku melangkah ke dalam ruang tamu yang megah, aku disambut dengan senyuman hangat dari Tuan Van Walton.


"Tuan Van Walton, inilah dia," kata pria itu sambil menunjuk ke arahku.


“Baiklah, kau boleh kembali ke tugasmu, Carl,” ucap Tuan Van Walton sebelum mengulurkan tangannya kepadaku. Aku dengan hati-hati menyambutnya, mencoba meredakan kecemasanku.


"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, anak muda. Anita selalu membicarakanmu dengan sukacita. Dan karenanya, aku ingin memberikan sesuatu padamu," ucap Tuan Van Walton dengan penuh keanggunan.


Aku merasa tegang dan takut untuk mengetahui apa yang dimaksud Tuan Van Walton. Apakah ada surat wasiat, ataukah ini hanya pertemuan biasa keluarga yang bersahaja?


"Tentu, Tuan Van Walton. Apa yang ingin Anda berikan padaku?" jawabku dengan hati-hati.


Tuan Van Walton tersenyum lembut lagi, mengambil sebuah amplop dari sakunya, kemudian memberikannya padaku. Aku membukanya dengan hati-hati, dan mataku tidak bisa memercayai apa yang terjadi.


Amplop itu berisi tiket perjalanan untuk dua orang ke destinasi impianku yang aku ceritakan pada Anita - Paris.


"Aku ingin kalian berdua menghabiskan waktu bersama di Paris, biarkan ini menjadi hadiah kecil dari keluarga Van Walton untuk kalian berdua, sekaligus sebagai tebusan rasa bersalahku yang sebelumnya tidak bisa hadir ke pesta pertunangan kalian," ucap Tuan Van Walton dengan penuh kebaikan.


Aku mendapatkan kejutan yang tak terduga. Bingung dan bahagia campur aduk, aku merasa terharu dengan gestur baik Tuan Van Walton.


"Tuan Van Walton, kami akan sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Ini benar-benar luar biasa," ucapku, dengan suara yang sedikit gemetar.


Terlepas dari segala kebingungan dan ketakutan yang menghantuiku sebelumnya, aku sadar betapa beruntungnya aku merasa sekarang. Aku tidak sabar untuk pergi dengan Anita dalam perjalanan kami ke Paris.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2