Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova

Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova
Episode 24


__ADS_3

Anita tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan ayahnya, Rob Van Walton, telah meninggal. Aku terdiam sejenak, tak dapat mempercayai apa yang baru saja aku dengar.


"Aku sangat menyesal mendengar kabar itu, Anita. Apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan suara bergetar.


"Aku tidak tahu, sepertinya sekarang aku merasa hampa dan terpuruk. Aku butuh seseorang untuk berbicara," jawab Anita dengan suara patah hati.


Aku melihat Luna dengan tatapan cemas, ingin memberitahukannya tentang apa yang baru saja terjadi. Tetapi, aku juga merasa bertanggung jawab untuk menghibur Anita dalam momen sulit seperti ini.


"Maaf, Luna. Aku harus bicara dengan Anita sekarang. Apakah kamu bisa memahaminya?" tanyaku dengan suara lembut.


Luna mengangguk dengan penuh pengertian dan memberiku senyuman penuh kasih sebelum aku pergi meninggalkannya.


"Pergilah. Aku paham status kamu masih terikat hubungan tunangan dengan Anita."


Kemudian, aku segera berangkat ke rumah Anita untuk menemui dan mendukungnya. Ketika aku tiba, Anita sudah menunggu di depan pintu dengan tatapan sedih di wajahnya.


"Aku sangat terima kasih kamu datang, Prince," kata Anita sambil mencoba menahan tangisnya.


"Aku di sini untukmu, Anita. Aku akan selalu ada untukmu," jawabku sambil mendekapnya dalam pelukanku.


Kami duduk di sofa, sementara Anita menceritakan tentang kehidupannya dengan ayahnya. Dia menceritakan betapa dekatnya mereka berdua dan betapa berat rasanya kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.


Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan yang dia butuhkan dalam momen-momen seperti ini. Aku menenangkan Anita dengan kata-kata yang lembut, memberikan kata-kata penghiburan agar dia tidak merasa sendirian dalam proses menghadapi kesedihannya.


Setelah beberapa waktu berbicara, Anita akhirnya mulai tenang sedikit. Dia tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah benar-benar pergi dari hatinya, dan dia memiliki orang-orang yang peduli padanya untuk menjalani masa-masa sulit seperti ini.


"Aku sangat berterima kasih, Prince. Kamu selalu ada untukku," kata Anita dengan suara lembut.


"Aku akan selalu ada untukmu, Anita. Kita akan melalui ini bersama-sama," jawabku dengan tulus.

__ADS_1


Kami menghabiskan beberapa jam bersama, saling menguatkan dan menjaga satu sama lain. Ketika aku meninggalkan rumah Anita, aku tahu bahwa perjalanan kesembuhannya akan membutuhkan waktu, tetapi aku berjanji bahwa aku akan selalu mendukungnya dalam setiap langkahnya.


Aku menghubungi Luna setelah itu dan menjelaskan apa yang terjadi. Luna dengan segera mengerti dan memberiku dukungan dalam memprioritaskan Anita dalam saat-saat sulit ini.


”Malam ini, menginaplah di sini dan besok temani aku menghadiri pemakaman ayahku," pinta Anita.


"Tentu saja, Anita. Aku akan senang untuk tinggal di sini denganmu dan aku akan mendampingi kamu dalam menghadiri pemakaman ayahmu besok," jawabku dengan penuh perhatian.


Besok pagi, aku bertemu dengan Anita di depan rumahnya dan kami bersama-sama menuju pemakaman. Aku dapat melihat bahwa Anita merasakan campuran emosi sedih dan kehilangan, tetapi aku berusaha keras untuk memberinya dukungan yang dia butuhkan.


Setelah beberapa saat, kami tiba di pemakaman. Terlihat banyak orang yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayah Anita. Anita memegang tanganku erat, dan aku membuatnya tahu bahwa aku ada di sana untuknya.


Selama acara pemakaman, aku terus memperhatikan Anita dan memberikan bantuan fisik dan emosional. Aku memberinya lengan untuk bersandar, dan aku memastikan dia tidak merasa sendirian selama proses tersebut.


Setelah pemakaman selesai, kami kembali ke rumah Anita. Aku tahu bahwa rasa kehilangan itu masih baru bagi Anita dan dia akan membutuhkan waktu untuk berduka. Aku berjanji untuk selalu mendukungnya dan menawarkan bahunya ketika dia ingin menangis atau bercerita tentang ayahnya.


Aku pun menghubungi Luna dan mengatakan akan menginap selama seminggu di rumah Anita. Aku mengatakan jika dia butuh sesuatu, dia bisa menghubungiku.


"Kalau kamu lapar, kamu bisa memesan dengan menggunakan namaku," kataku pada Luna yang tinggal di rumahku.


Luna tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia berkata bahwa dia akan mengurus makanannya sendiri, tapi dia menghargai tawaranku. Aku melihat dia dengan simpati dan berharap dia akan baik-baik saja.


Selama seminggu itu, aku akan berusaha memberikan dukungan dan kenyamanan kepada Anita. Kami bisa berbicara tentang segala hal, dari kenangan indah dengan ayahnya hingga perasaan kesepian dan kehilangan yang dia rasakan. Aku mencoba untuk mendengarkan dengan empati dan mengingatkannya bahwa dia tidak sendirian dalam setiap langkahnya.


Namun, malam harinya, Anita meminum minuman alkohol sehingga dia mabuk berat. Kemudian, Anita mulai bertingkah aneh dengan menarik paksa aku ke kamarnya.


"Prince, malam ini kamu harus menghiburku," kata Anita seraya memelukku.


Aku merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini, terutama karena Anita dalam kondisi mabuk berat. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir dengan jernih.

__ADS_1


"Aku mengerti jika kamu merasa sedih dan kesepian, Anita," kataku dengan lembut. "Tapi, menghiburmu dalam kondisi ini bukanlah hal yang tepat. Kita berdua sebaiknya tenang dan istirahat."


Aku mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Anita secara lembut. Namun, Anita semakin memegang erat tubuhku dan tidak merelakanku pergi.


"Prince, tolong jangan tinggalkan aku," kata Anita dengan suara penuh kelemahan.


Aku merasa terbebani dengan tanggung jawab ini. Aku ingin membantu Anita, namun aku juga tidak ingin melangkah ke batas yang tidak pantas seperti yang terjadi sebelumnya. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang memanfaatkannya dalam keadaan mabuk seperti ini.


Namun, akhirnya aku tidak bisa menahan diri dan mulai mengangkat tubuhnya Anita ke tempat tidur.


Aku mulai dengan menciumi lehernya dan merasakan kehangatan kulitnya yang lembut. Hatiku berdegup kencang saat aku merasakan kecupan balasan di pipiku. Dengan lembut, aku menyentuh bibirnya dengan bibirku, menciptakan keintiman yang sangat aku rindukan.


Tanganku mulai menjelajahi tubuhnya, merasakan setiap lekuk dan lembutnya kulitnya. Aku meraih pinggulnya dan menggenggamnya erat, memperdalam kecupan kami. Anita merespons dengan balasan yang makin menggairahkan, tangan kecilnya bergerak ke rambutku, memberi kecupan yang luar biasa.


Kami saling melupakan segalanya, tenggelam dalam keinginan dan gairah yang menggebu-gebu. Kucium bibirnya lagi, lebih bergairah dan penuh keinginan. Tubuh Anita merespons dengan getaran kecil dan suaranya yang meminta lebih.


Aku mereda napasku, tidak ingin terburu-buru. Aku bergeser perlahan ke lehernya, menciumi setiap inci kulitnya dengan lembut dan penuh kelembutan. Aku tahu bahwa saat ini, aku dapat memberinya kenyamanan dan kebaikan yang tak tertandingi.


Namun, sesaat kemudian, aku berhenti. Aku mulai bisa mengendalikan dorongan kuat yang selalu membuatku lepas kendali.


Aku pun menutupi badannya Anita dengan selimut, dan duduk di sampingnya. Aku mencium keningnya dengan lembut, berjanji dalam hati untuk menjaga diri dan menjaga batas-batas yang seharusnya ada. Aku tahu bahwa kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan memahami bahwa ada kekuatan besar dalam pilihan kita untuk menghormati batas-batas itu.


Meskipun gairah yang menggebu-gebu tapi terhenti sesaat, di hatiku, aku memiliki harapan dan keyakinan bahwa cinta sejati akan menemukan jalan.


"Apa kau yakin tidak akan melanjutkannya?" kata suara Night yang tiba-tiba terdengar dalam pikiranku.


"Night? Jangan bilang kau masih berada di dalamku?" kataku terkejut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2