
Esok paginya, aku terbangun dalam keadaan masih memeluk Luna. Namun, aku berusaha untuk tidak membuatnya terbangun dan melanjutkan mengagumi kecantikannya yang mempesona. Matanya yang indah seperti kristal, senyumnya yang lembut, dan pipinya yang lembut membuat hatiku benar-benar berbunga.
Akan tetapi, pelan-pelan, aku merasakan getaran kecil memutuskan pelukan kami. Bangun dan berpindah tempat, Luna terbangun dan tersenyum manis.
"Selamat pagi, Prince," katanya dengan suara perlahan.
"Selamat pagi, Luna. Kamu tidur nyenyak?" tanyaku sambil tersenyum.
Luna mengangguk dan menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk. "Iya, berkat pelukanmu semalam, aku merasa sangat aman. Terima kasih banyak, Prince."
"Baiklah, sebaiknya kita mandi terlebih dahulu, lalu membuat sarapan," kataku seraya bangun dari tempat tidur.
Luna mengangguk setuju dan kami berdua pergi ke kamar mandi dengan langkah gembira. Namun, Luna sepertinya salah paham dengan maksudku. Dia mengira aku mengajaknya mandi bersama.
“Luna, apa kamu tidak apa mandi bareng bersamaku?" tanyaku ketika melihat Luna ikut masuk ke kamar mandi.
Luna terkejut oleh pertanyaanku dan tampak sedikit malu. Namun, setelah memikirkannya sejenak, dia menjawab dengan senyum yang malu-malu, "Kenapa tidak, aku tidak masalah."
Kemudian, Luna memintaku agar aku membantunya melepas pakaiannya. Aku agak terkejut dengan permintaannya, tetapi aku memutuskan untuk mengikuti saja. Luna dan aku berdiri di depan cermin, saling menghilangkan baju kami satu per satu.
Selama proses itu, kami berbincang-bincang dan tertawa bersama. Seiring waktu berlalu, rasa canggung dan malu kian memudar, dan aku merasa semakin nyaman dengan kehadirannya.
Luna tampak kagum saat melihat tubuhku yang kuat dan berotot setelah mengangkat beban selama beberapa bulan terakhir. Kemudian, dia menyentuh lengan dan perutku dengan lembut.
"Kamu terlihat luar biasa, Prince," ujarnya dengan kagum. "Aku tahu kamu perlu melatih tubuh fisikmu demi kebutuhan film laga."
Sebenarnya, Luna juga terlihat cantik dengan kepercayaan dirinya yang tumbuh. “Terima kasih, Luna. Tubuh kamu juga bagus. Kulitmu halus dan rambutmu indah. Aku senang bisa melihat sisi kecantikanmu ini," kataku dengan tulus.
Luna tersenyum dan malu-malu. "Terima kasih, Prince. Aku memang selalu berusaha menjaga penampilanku." Dia kemudian memelukku erat.
"Aku sangat bersyukur memiliki kamu di sisiku," kata Luna dengan lembut. "Kamu memberi aku kekuatan dan dukungan dalam setiap langkah hidupku."
Senyumku semakin lebar mendengar kata-kata itu. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari hidup Luna.
__ADS_1
Akhirnya, kami berdua masuk ke dalam bak mandi yang dipenuhi dengan air hangat dan berbusa. Kami saling membantu satu sama lain untuk menggosok punggung dan rambut, sambil menikmati kehangatan air yang menyelimuti kami.
Tidak ada yang vulgaar atau merasa tidak nyaman. Semuanya terasa alami dan indah. Kami mencuci satu sama lain dengan lembut dan penuh perhatian, seolah-olah sedang memberikan kasih sayang pada tubuh yang lelah dan stres.
Pada akhirnya, kami berdua keluar dari bak mandi dengan hati yang ringan dan pikiran yang jernih. Kami merasa lebih dekat dan memahami satu sama lain dengan lebih baik setelah pengalaman ini. Bagi kami, mandi bersama bukan hanya sekadar aktifitas fisik, tetapi juga momen keintiman dan kepercayaan yang diberikan satu sama lain.
Setelah mandi dan kembali ke kamar, kami saling berpandangan dalam dekapan kami, dan tanpa mengucapkan sebaris kata pun, kami merasa saling memahami dan merasakan kekuatan cinta yang mengalir antara kami.
Dalam keadaan belum berpakaian, kami memutuskan untuk berbaring di tempat tidur. Lama-lama, percakapan kami berubah menjadi bisikan sayang dan ciuman yang penuh kasih.
Luna melihat langsung ke dalam mataku dan berkata, "Aku mencintaimu, Prince."
Aku tersenyum dan merangkulnya erat. "Dan aku mencintaimu, Luna. Kita akan selalu bersama dan saling mendukung dalam kehidupan ini."
Kami berdua sudah tidak bisa menahan diri lagi dan menjadi semakin intim. Tanpa ragu, kami saling meraba dan menyatu dengan perasaan cinta yang begitu kuat di antara kami.
Setiap sentuhan, ciuman, dan belaian memberikan kepuasan luar biasa bagi kami. Setiap embusan napas, suara desahaaan, dan bisikan mesra menjadi bahasa cinta kami.
Tidak ada yang lebih indah daripada menyatu dengan orang yang kita cintai, dan inilah momen yang kami impikan. Kedua tubuh kami menjadi satu, menggambarkan kedekatan dan keinginan tak terbendung.
Saat tubuh kami mencapai puncak kesenangan, cinta kami semakin menggelora. Kami begitu bahagia dan terhubung dalam momen intim ini. Semua yang ada di dunia ini tidak ada artinya jika tidak ada kami berdua.
Setelah sesi intim yang penuh cinta ini, kami saling merangkul dan berpelukan dengan kehangatan yang tak tergantikan. Hati kami penuh dengan rasa syukur dan rasa cinta yang membara.
Dalam keheningan, kami saling menatap dengan penuh kasih sayang. Tanpa kata-kata, kami tahu bahwa kami adalah bagian tak terpisahkan satu sama lain.
Namun, aku sadar bahwa diriku telah kembali kehilangan kendali dan lagi-lagi melakukan hal seperti ini.
"Ada apa, Prince?" tanya Luna menyadari perubahan pada raut wajahku.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan kita akan akan makan apa hari ini?" tanyaku padanya.
"Bagaimana jika kita membuat sarapan khas kamu?" jawab Luna dengan penuh semangat. "Aku ingin mencoba masakanmu."
__ADS_1
Aku tertawa kecil. "Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan."
Setelah memakai pakaian, kami berdua pergi ke dapur dan mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Luna membantu dengan mencuci sayuran dan memotong-motongnya, sementara aku memasukkan bahan-bahan lainnya ke dalam panci.
Kami tertawa dan bercanda selama proses memasak. Matanya bersinar dengan keceriaan dan hatinya dipenuhi dengan kehangatan. Aku merasa beruntung dapat mengalami momen seperti ini dengan Luna.
Setelah beberapa saat, wangi makanan yang lezat mulai menjalar di seluruh rumah. Aroma itu membuatku dan Luna semakin lapar. Akhirnya, sarapan kami pun selesai.
Kami duduk di meja makan dan menikmati hidangan yang kami buat. Luna memandangi makanannya dengan wajah penuh rasa bangga.
"Ini benar-benar enak, Prince," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih telah mengajari dan menginspirasiku dalam banyak hal."
"Sama-sama, Luna," balasku dengan tulus. "Aku senang bisa berbagi pengalaman dan keahlian denganmu. Kita saling mendukung dan tumbuh bersama."
Setelah sarapan selesai, kami membersihkan dapur bersama-sama. Kami saling membantu dan menikmati kebersamaan satu sama lain.
Selama seharian ini, kami berdua menuai kebahagiaan dan kehangatan. Kami tahu bahwa bersama-sama, kita bisa menghadapi apa pun yang akan datang.
”Prince, malam ini aku ingin tidur bersamamu lagi," kata Luna.
Aku pun tersenyum. "Aku pun juga ingin tidur bersamamu lagi, Luna," jawabku dengan lembut.
Kami berdua saling melihat dengan penuh cinta dan kebahagiaan.
Kemudian, kami berdua pun bersiap-siap untuk tidur. Setelah bercuumbu-cumbu sesaat di malam yang sejuk, kami bergelayut dalam dekapan satu sama lain. Luna merasa hangat dan nyaman dalam pelukanku, sementara aku merasa lengkap dan dilindungi dengan kehadiran Luna disampingnya.
Namun, ketika aku sedang asyik memeluk Luna di tempat tidur, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari Anita.
Dengan sedikit panik, aku melepaskan pelukan Luna dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Anita. Ada yang bisa aku bantu?" sapaku dengan suara sedikit terengah-engah.
"Dia meninggal... dia tiba-tiba meninggal dunia," ucap Anita sambil terisak dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
“Siapa yang meninggal?" tanyaku terkejut.
Bersambung.