
Ketika aku membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang, aku langsung kaget dan terkejut. Aku tidak pernah mengira bahwa Luna akan datang mengetuk pintu rumahku, bahkan mengatakan ingin tinggal bersamaku.
"Baiklah, Prince. Sudah waktunya untuk menjelaskan kepada Anita tentang hubungan kita," kata Luna.
Tiba-tiba, Anita muncul dan terlihat sangat terkejut serta marah setelah mendengar perkataan Luna. Ia berdiri di antara kami berdua dengan wajah yang penuh kemarahan.
"Apa maksudmu kamu adalah istri pertamanya? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang ini?" kata Anita dengan nada yang meninggi.
"Aku minta maaf, Anita. Aku tidak pernah bercerita kepadamu karena aku berpikir bahwa masa lalu itu sudah berlalu dan tidak relevan lagi," jawabku dengan penuh penyesalan.
Anita terlihat semakin kesal dan bingung. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku memiliki istri lain sebelum menikah dengannya.
"Begitu banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku, Prince. Bagaimana aku bisa percaya padamu lagi?" Anita berteriak dengan air mata berlinang di pipinya.
Luna yang melihat Anita begitu marah dan sedih, mencoba membela diri. "Anita, aku tahu ini sulit untuk diterima. Tapi aku mencintai Prince, dan dia juga mencintaiku. Kami memutuskan untuk menyelesaikan pernikahan kami sendiri, dan inilah mengapa aku datang kesini."
Anita menatap Luna dengan tatapan penuh kebencian. Dia tampak tidak bisa menerima bahwa seorang wanita lain menyatakan cintanya kepada suaminya di hadapannya.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan. Aku tidak akan membiarkan Luna merusak pernikahan kita!" Anita berteriak dengan keras.
Mendengar perkataan Anita, Luna yang merasa bersalah dan ingin menjaga hubungannya denganku, mencoba memberi Anita banyak waktu untuk memikirkan situasi ini.
"Anita, aku tahu ini tidak mudah. Aku hanya ingin kita semua duduk bersama, berbicara, dan mencari solusi yang terbaik bagi kita semua," ucap Luna dengan suara yang lembut.
Anita masih tidak yakin dan penuh emosi. Ia memutuskan untuk pergi sejenak dan memberi dirinya waktu sendiri untuk berpikir dan menenangkan diri.
Saat Anita pergi, aku dan Luna duduk bersama dalam keheningan. Ada kecanggungan yang terasa di antara kami, menyadari bahwa masalah ini benar-benar kompleks dan sulit untuk dipecahkan.
"Dia benar-benar marah, Prince. Aku tidak tahu bagaimana kita bisa mengatasi situasi ini," kata Luna dengan suara yang penuh kekhawatiran.
"Aku juga tidak tahu, Luna. Tapi aku tidak ingin kehilangan keduanya. Kita harus mencari jalan keluar yang adil dan menghormati perasaan kalian," ucapku dengan suara yang murung.
Aku pun membantu membawa koper Luna ke dalam rumah dan menyiapkan kamar untuknya. Setelah itu, aku pergi ke kamar Anita untuk menjelaskan tentang perasaanku.
"Apa kau butuh bantuanku?" tanya Night yang bicara dalam pikiranku.
"Apa kau bisa membantuku?" kataku sedikit berharap.
__ADS_1
"Hahaha. Tentu saja itu mudah," ujar Night tampak sangat percaya diri.
Begitu aku masuk ke kamar Anita, tampak ia sedang rebahan di tempat tidur dengan keadaan lesu.
"Sayang," ucapku mencoba mendapat perhatiannya.
Anita memalingkan wajahnya dan tampak tidak ingin aku mengganggunya. Namun, aku tidak menyerah dan segera naik ke tempat tidur.
"Apa yang kamu inginkan? Biarkan aku tidur!" ujar Anita sedikit marah.
Sebelum masuk kamar, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Namun, aku juga sudah bicara dengan Night dan meminta bantuannya.
Tanpa pikir panjang, aku segera menarik bahunya agar dia terlentang dan aku langsung menindih tubuhnya.
"Ketika dalam situasi seperti ini kamu malah ingin melakukan hal tersebut?" ujar Anita sedikit terkejut.
Namun, dia tidak menolak atau pun melawan sehingga aku tetap melanjutkan niatku.
Aku mulai menciuminya, mendekap bibirnya dengan lembut. Meskipun awalnya terkejut, Anita pun kemudian merespons ciumanku dengan penuh gairah.
Tangan kami saling menjelajahi tubuh masing-masing, tak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Setiap sentuhan dan kecupan membuat kami semakin terbakar oleh nafsu yang membara.
Rasanya dunia di sekitar kami lenyap begitu saja, karena yang ada hanya gelora keinginan yang memenuhi pikiran dan tubuh kami.
Aku merasa kekuatan Night terus mengalir dalam darahku, itu membuat Anita menjadi luluh.
"Baiklah, Sayang, aku mengerti," kata Anita. "Sejak awal akulah yang memaksamu untuk bersamaku. Jadi, seharusnya aku sadar bahwa akulah yang justru mengganggu hubungan antara kalian."
Aku sedikit lega ketika Anita bilang begitu. Kemudian, aku kembali melanjutkan memeluk Anita erat-erat. Perasaan cemas dan bersalah yang tadinya membayangi pikiranku mulai memudar. Meskipun begitu, ada bagian dalam diriku yang tak bisa menghilangkan rasa khawatir akan bagaimana hubungan ini akan berlanjut setelah ini.
"Aku mencintaimu, Anita," bisikku sambil mencium lembut bibirnya. "Tapi aku juga mencintai Luna. Aku tak ingin kehilangan kalian berdua."
Anita tersenyum penuh pengertian. "Aku tidak ingin memaksamu memilih, Sayang. Kita bisa mencoba menciptakan hubungan yang sehat dan bahagia berdasarkan cinta yang kita miliki. Kita bisa saling mendukung dan menjaga kebahagiaan satu sama lain."
Kata-kata Anita menenangkan hatiku. Kini aku yakin bahwa kami bisa menemukan cara untuk menjaga hubungan ini tetap harmonis. Keputusan untuk membawa Luna ke dalam kehidupan kami bukanlah hal yang mudah, tapi kami akan berjuang bersama.
Dalam waktu yang lama, kami terus menjelajahi tubuh masing-masing dengan penuh gairah. Setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap desaaahan menjadi simbol dari kecintaan dan keinginan yang tulus.
__ADS_1
Pada akhirnya, dunia di sekitar kami yang lenyap itu hanya menjadi ruang untuk kami berdua, menghantarkan kami ke puncak kenikmatan yang tak terlupakan.
Ketika semuanya selesai, kami terbaring di atas kasur dengan napas yang terengah-engah. Anita menatapku dengan mata yang penuh rasa sayang dan kepuasan.
"Aku bahagia, Sayang," ucapnya pelan. "Kita bisa melalui ini bersama-sama."
Aku mengangguk, merasakan kelembutan dan kebahagiaan merayap dalam diri. Meskipun perjalanan ini tidak mudah, aku tahu bahwa dengan cinta dan komitmen yang kita miliki, kita bisa menghadapi apa pun yang datang.
"Baiklah, Sayang. Sekarang aku bicara dengan Luna di kamarnya," ucapku meminta izin.
Anita hanya mengangguk dan memejamkan matanya untuk tidur.
Setiba di kamar Luna, dia telah menebak apa yang aku pikirkan dan meminta aku agar tidak perlu mengatakannya.
"Cukup, Sayang. Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku hanya ingin kamu segera memenuhi kewajiban kamu sebagai suamiku," kata Luna.
Aku mengangguk mengerti, kemudian aku naik ke tempat tidur Luna. Aku segera menindih tubuhnya dan mulai menciuminya dengan penuh keintiman.
Luna merespons dengan penuh gairah, membalas ciumanku dengan ciuman yang tak kalah bernafsu.
Kami melanjutkan kegiatan kami, dengan sentuhan dan belaian yang semakin intens. Tubuh kami bersatu dalam kehangatan dan keindahan cinta yang luar biasa.
Waktu terasa berjalan sangat cepat, tapi kami tak terganggu olehnya. Kami hanya fokus pada satu sama lain, menciptakan ikatan yang semakin kuat antara suami dan istri.
Setelah menyelesaikan kewajiban kami sebagai pasangan suami istri, kami berbaring di samping satu sama lain, menikmati kebersamaan kami yang penuh kasih sayang. Luna menatapku dengan mata yang penuh cinta dan mengacak rambutku lembut.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ujarnya dengan suara lembut.
Aku tersenyum bahagia dan membalas, "Aku juga mencintaimu, Luna. Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai istriku."
Kami terus bercengkerama dan berbagi keintiman, menguatkan ikatan cinta kami yang tak terpisahkan.
Di dalam kamar yang hangat dan penuh cinta ini, kami menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Night sedikit berbisik, dia sangat senang karena aku dapat memenuhi apa yang diinginkannya. Meski demikian, aku masih tidak tahu keuntungan yang ia dapat dari memaksaku melakukan hal-hal seperti ini.
Bersambung.
__ADS_1