
Sepulang dari syuting pembuatan musik video untuk laguku dan Maya, aku sedikit takut menemui Night. Setiba di rumahku, aku tidak tahu apa yang akan Night katakan dan apakah aku benar-benar akan kehilangan semua.
“Aku sudah menunggumu," kata Night sudah berada di depanku.
“Sudah pasti kau mengetahui apa yang ingin kusembunyikan," tebakku.
Night menatapku dengan mata yang tajam dan berkata, "Terdengar seperti seseorang yang cerdas. Tapi tahukah kamu, aku tidak hanya mengetahui apa yang kamu sembunyikan, aku juga dapat membaca pikiranmu."
Aku terkejut mendengarnya. Jadi, kucing hitam ini bisa membaca pikiranku? Aku pun menjawab dengan hati-hati, "Baiklah, sepertinya aku sudah tidak mungkin menyembunyikannya."
Kucing hitam itu menyenderkan tubuhnya di dekatku, seakan dia sedang mempersiapkan sesuatu yang penting. Dia terlihat sangat misterius dengan bulu hitamnya yang mengilap dan mata kuningnya yang tajam. Setelah beberapa saat berpikir, dia akhirnya berkata, "Sebelumnya, kau bercerita bahwa dirimu ingin menjadi aktor atau penyanyi terkenal jika aku membantu mengubahmu menjadi pria tampan. Jelas aku sudah memberi larangan agar kau tidak menjalin hubungan asmara dengan wanita. Kau sudah melanggar dan seharusnya kau menjadi dirimu yang dulu."
Aku terdiam. Aku memang sudah beberapa kali mengabaikan teguran Night.
"Tapi," sambung kucing hitam itu dengan suara yang lirih, "Aku menyadari hal yang menarik. Faktanya, kau ingin menjadi pria tampan karena ingin bermain dengan banyak wanita."
Aku mendekatkan telingaku ke arah kucing hitam itu, ingin mendengar lebih jelas kata-katanya. "Apa yang kamu maksud, Night?" tanyaku dengan wajah yang penuh kebingungan.
"Kamu selalu terfokus pada penampilan dan keinginanmu untuk memiliki banyak pasangan," lanjut kucing hitam itu, "Tapi apakah kamu bertanya pada dirimu sendiri mengapa kamu begitu terobsesi dengan hal itu?"
Aku terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Night. Mungkin memang benar, aku sering kali tergoda oleh pemikiran untuk menjadi pria tampan dan menarik bagi banyak wanita. Namun, aku tidak pernah benar-benar mempertanyakan alasan di balik keinginan tersebut.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" ajak Night dengan penuh tanya.
__ADS_1
Aku memandang kucing hitam itu dengan penuh keraguan. "Aku ingin merasa diinginkan," jawabku pelan. "Aku ingin ada seseorang yang melihatku sebagai pria yang menarik, yang menginginkan kehadiranku dan cinta sejati darinya."
Night menganggukkan kepalanya dengan bijak. "Kamu adalah manusia yang haus akan cinta dan pengakuan. Namun, terobsesi dengan penampilan dan keinginan untuk memiliki banyak pasangan bukanlah cara yang sehat untuk mencapainya. Sebaliknya, carilah cinta yang tulus dan tahan uji, yang akan menghargai kamu apa adanya."
Kata-kata tersebut membuatku merasa tersentuh. Aku menyadari bahwa selama ini aku salah mengarahkan pencarianku. Aku mendambakan kebahagiaan dan cinta sejati, bukan sekedar popularitas atau kepuasan sesaat.
"Terima kasih, Night," ucapku dengan tulus. "Aku berjanji untuk mencari makna sejati dalam cinta dan menghargai diriku sendiri dengan apa adanya."
Sebelum pergi, Night sempat menyinggung soal kakakku, Alvin Sanjaya. “Bukankah kau ingin membalas kakakmu yang sudah pergi meninggalkan keluarga saat dalam keadaan terpuruk. Dia menjadi pengusaha sukses, tapi sebenarnya dia melakukan banyak kotor.”
Ketika Night menyebutkan hal tersebut, aku merasakan campuran perasaan yang rumit. Meskipun aku merasa terkhianati oleh kepergiannya, aku juga tidak bisa menyangkal bahwa dia memang telah mencapai sukses besar dalam dunia bisnis. Namun, fakta bahwa dia melakukan banyak hal kotor membuatku merasa dilema.
Saat aku masih kecil, Alvin adalah sosok kakak yang sangat menginspirasi bagiku. Dia memiliki bakat bisnis yang luar biasa dan visi yang jelas dalam meraih kesuksesan. Aku berharap bahwa dia akan menjadi panutanku dan membantu keluarga dalam mengatasi masa-masa sulit.
Kemudian, sepertinya dia memutuskan untuk pergi karena orang tua kami telah mengetahui hal tersebut.
Kucing hitam itu menambahkan, “Kakakmu, Alvin, memiliki perusahaan agensi entertainment sukses. Namun, dia menjual artis-artisnya dalam praktik prostitusi dan memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi dan finansialnya sendiri. Belum lagi, dia juga terlibat dalam penipuan dan pencucian uang.”
Sebenarnya, kehilangan Alvin bukanlah hal yang mudah bagi keluarga kami. Meskipun dia telah melakukan banyak kesalahan, dia tetap saudaraku dan aku sedikit merindukannya. Namun, setelah dia memutuskan hubungan keluarga dan tidak peduli sedikitpun ketika ayah dan ibu meninggal, yang tersisa hanyalah rasa benci dan aku mengutuknya.
Tepat ketika Night membahas hal ini, tiba-tiba aku mendapat pesan dari Luna yang meminta bantuan.
“Tolong aku, Prince. Aku dibawa paksa ke dalam hotel dan diminta untuk meladeni seorang pria tua oleh bosku, Alvin," pesan Luna.
__ADS_1
Segera setelah menerima pesan tersebut, aku merasa marah dan sangat terganggu. Aku tidak bisa membiarkan Alvin terus melakukan kejahatannya tanpa menghadapinya. Aku memiliki tanggung jawab untuk melindungi Luna dan semua orang yang telah menjadi korban Alvin.
Tanpa ragu-ragu, aku segera menghubungi polisi dan memberi tahu mereka tentang situasi yang sedang terjadi. Aku memberikan informasi tentang Alvin dan praktik prostitusi yang dia lakukan di perusahaannya. Aku juga memberi tahu polisi tentang tuduhan penipuan dan pencucian uang yang melibatkan Alvin. Namun, pihak polisi tidak mau menanggapinya karena aku tidak punya bukti.
“Itu sia-sia," kata kucing hitam. "Alvin telah menyuap mereka."
Aku merasa frustrasi dan putus asa karena tidak memiliki bukti yang cukup untuk meyakinkan polisi. Namun, aku tidak berniat menyerah begitu saja. Aku merasa bertanggung jawab untuk menghentikan kegiatan yang tidak etis ini dan melindungi orang-orang yang mungkin menjadi korban.
Dalam keputusasaan, aku memutuskan untuk mencari bukti sendiri nanti. Aku akan meminta bantuan teman-teman dekatku dan juga melakukan penyelidikan sendiri. Aku mencari informasi tentang Alvin dan praktik prostitusi yang dia lakukan di perusahaannya.
Namun saat ini, aku harus segera pergi ke hotel di mana Luna dipaksa harus melayani klien dari Alvin.
“Luna, apa nama hotelnya dan di mana?" tanyaku khawatir.
"Aku berada di Hotel Meridian, itu berlokasi di pusat kota," jawab Luna.
Aku segera berangkat ke hotel itu dengan perasaan gelisah dan khawatir. Aku merasakan tekanan di dadaku karena mengetahui Luna sedang berada dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya dan membawa keadilan bagi semua korban yang terlibat dalam praktik prostitusi yang tidak etis ini.
Sesampainya di hotel, aku berusaha berusaha mencari tahu nomor kamar yang ditempati oleh Luna. Tetapi, pintu di lobi hotel tidak mudah untuk dilewati. Aku harus berpura-pura menjadi tamu atau mencari cara lain untuk masuk.
Luna akhirnya meneleponku, tapi itu langsung terputus setelah terdengar suara seorang pria yang mengancamnya.
Bersambung.
__ADS_1