
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa sudah setahun berlalu sejak aku menikahi Luna dan Anita.
Namun, sebuah kabar mengejutkan justru datang dari Maya. Dia yang sudah lama tidak kutemui, justru mengabarkan dirinya telah melahirkan bayiku.
"Prince, aku mau kamu datang ke Kota B dan temui aku di rumah orang tuaku," kata Maya melalui pesan singkat.
Kabar tersebut membuatku kaget dan bertanya-tanya. Maya, seorang teman lama yang sudah lama tidak ada kabar, tiba-tiba mengabarkan bahwa aku telah menjadi ayah.
Seperti diketahui, aku hanya memiliki dua istri, Luna dan Anita. Aku bertanya-tanya apakah Maya mungkin salah dalam memberikan kabar tersebut, atau adakah sesuatu yang tidak kuketahui.
Segera setelah menerima pesannya, aku mencoba menghubungi Maya untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Namun, panggilan teleponku tidak diangkat dan pesan singkatku juga tidak mendapatkan balasan.
Tanpa menunda lagi, aku memutuskan untuk pergi ke Kota B dan menemui Maya di rumah orang tuanya, seperti yang dia tulis dalam pesan singkatnya.
Aku memberitahu Luna dan Anita tentang kabar ini, dan mereka juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengatur segala sesuatunya, aku berangkat menuju Kota B seorang diri.
Sepanjang perjalanan itu, pikiranku dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
Apakah Maya benar-benar telah melahirkan anakku? Mengapa dia tidak memberitahukannya sejak awal? Dan yang terpenting, apakah Luna dan Anita akan menerima kehadiran bayi ini?
Sesampainya di rumah orang tuanya Maya, aku merasa canggung dan gugup. Aku tidak tahu apa yang harus kusampaikan ketika bertemu Maya.
Namun, rasa penasaran dan keingintahuanku yang kuat membuatku tetap beranjak dari mobil dan mengetuk pintu rumah.
"Jadi kamu ayah dari bayi yang dilahirkan Maya?" kata ayahnya tampak marah ketika aku tiba di rumahnya.
Aku merasa sedikit terkejut dengan reaksi ayah Maya. Aku mengangguk dalam diam, masih merasa canggung dan tidak tahu apa yang sebaiknya kukatakan.
"Kenapa dia tidak memberi tahu kami sejak awal?" tanya ayah Maya dengan emosi yang terlihat jelas pada wajahnya.
__ADS_1
Aku mengambil napas dalam-dalam. "Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Maya dan saya tidak pernah berbicara tentang ini sebelumnya. Saya baru mengetahuinya setelah melihat kabar kelahiran bayinya. Saya ingin bertemu dengan Maya dan membicarakannya."
Ayah Maya menatapku tajam, seolah mencari kejujuran di mataku. "Dan bagaimana dengan Luna dan Anita, apakah mereka tahu tentang ini?"
Aku menggelengkan kepala. "Tidak, saya belum punya kesempatan untuk memberitahukan mereka. Saya ingin menjelaskan semuanya dengan baik dan memberikan mereka waktu untuk menerimanya."
Ayah Maya kemudian melambaikan tangannya, memberi tahu aku untuk masuk ke rumah. Aku mengikuti dia dengan langkah gugup. Aku bertanya-tanya apa yang akan aku temui di dalam.
Ketika aku memasuki ruang keluarga, ada keheningan yang tidak nyaman. Di sana, Maya duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang lelah tetapi penuh kebingungan.
Sementara, keluarga atau saudaranya, duduk di seberangnya dengan tatapan yang campur aduk antara penasaran dan marah.
"Sudahkah kamu memberi tahu mereka tentang semuanya?" tanya ayah Maya kepada Maya.
Maya menggelengkan kepala dengan pelan. "Aku belum tahu apa yang sebaiknya kukatakan."
Inilah saat yang tepat untuk aku berbicara. Aku melangkah mendekati Maya, duduk di sebelahnya, dan menyentuh tangannya dengan lembut.
"Maya, aku di sini sekarang dan ingin mendukungmu dan anak kita. Aku ingin menjelaskan semuanya dengan baik kepada Luna dan Anita. Aku berharap mereka bisa menerima kehadiran bayi ini sebagai keluarga kita."
Aku berharap mereka bisa memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Maya menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. "Baiklah. Kita harus membicarakannya secara terbuka dan jujur. Saya berharap mereka bisa menerima kami sebagai keluarga dan berkembang bersama-sama."
Meskipun situasinya tetap tegang, aku merasa sedikit lega bahwa Maya setidaknya bersedia membicarakan semuanya.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membawa Maya dan bayiku pulang ke tempatku meskipun di sana ada dua istriku, Luna dan Anita.
Ketika kami tiba, suasana di rumah terasa tegang. Luna dan Anita terlihat terkejut melihat kehadiran Maya dan bayi kami. Namun, setelah beberapa saat, mereka mencoba meredakan ketegangan mereka dan menerima Maya dan bayi kami.
Setelah memberi salam kepada istri-istriku, Maya dengan lembut menjelaskan bahwa dia adalah ibu kandung bayi kami dan dia ingin menjadi bagian dari keluarga kita.
Luna dan Anita saling memandang, menunjukkan penerimaan mereka terhadap situasi ini. Mereka menyadari bahwa Maya juga merupakan ibu dari anak kami dan perlu dihormati dan diterima sebagai anggota keluarga.
__ADS_1
"Kami tidak terkejut sih," kata Luna dan Anita. Mereka tahu aku pernah membuat lagu bersama Maya dan menebak bahwa aku pasti memiliki hubungan juga dengannya
Akhirnya, meskipun masih ada banyak perjalanan yang harus kami lalui sebagai keluarga yang berbeda, kehadiran Maya membawa kekuatan dan pemahaman yang baru. Bersama-sama, kami mulai membangun fondasi baru yang mendasari keluarga kami.
Meskipun pada awalnya mereka merasa terpukul oleh situasi ini, sekarang mereka akan mulai menerima dan belajar bagaimana kedua istriku dan Maya bisa hidup bersama dengan damai dan harmonis. Kami semua menyadari bahwa cinta dan pengorbanan adalah barang yang tak ternilai dalam sebuah keluarga.
Dengan waktu, keraguan dan pertentangan perlahan akan menghilang. Kami mulai merangkul perbedaan kami dan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan keluarga yang bahagia dan sehat.
Kesabaran, pengertian, dan komunikasi terbukti menjadi kunci penting dalam membangun hubungan yang kuat dan harmonis dalam keluarga ini. Meskipun awalnya terlihat mustahil, kami akan berusaha merangkul keberagaman kami dan menjadi keluarga yang utuh.
Malam harinya, aku merenung sendirian di ruang tengah rumah. Sekarang aku sudah berhasil membuat ketiga istriku tinggal dalam satu rumah dan tetap rukun.
Namun, aku masih tidak habis pikir tentang kehidupanku yang akan berubah sebanyak ini.
Awalnya aku hanya pria buruk rupa yang selalu gagal dalam masalah percintaan, sekarang justru memiliki tiga bidadari dalam hidupku. Semua ini tidak akan terjadi andai Night tidak muncul dan mengubahku menjadi pria tampan.
"Kau tak perlu memikirkan hal yang tidak berguna," singgung Night yang tiba-tiba bicara padaku dalam pikiranku.
"Mana mungkin aku tidak memikirkannya mengingat situasiku seperti ini," jawabku sedikit kesal.
"Baru tiga wanita," ujar Night mengisyaratkan sesuatu.
"A-apa maksudmu?" tanyaku merasa ada sesuatu dibalik ucapannya tersebut.
"Tak lama lagi aku akan membuatmu memiliki tujuh wanita," tegas Night dengan suara misterius.
Aku terkejut mendengar pernyataannya. Tujuh wanita? Bagaimana mungkin aku mampu menghadapi tantangan tersebut? Ketiga istriku saja sudah cukup membuat hidupku penuh dengan kebahagiaan dan tantangan. Plus, aku masih harus memikirkan bagaimana cara menjaga mereka agar tetap bahagia dan rukun.
"Tujuh wanita? Kenapa?" tanyaku bingung.
Aku merasa semakin bingung dengan perkataan Night. Apa yang dimaksud dengan tujuh wanita?
"Apakah aku masih akan bertemu dengan empat wanita lagi?" tanyaku ragu.
__ADS_1
Night mengangguk dan tersenyum. "Persiapkan dirimu dengan baik. Pertemuan dengan wanita lainnya mungkin akan berlangsung dalam waktu dekat ini."
Bersambung.