
Setiba di rumah, Luna yang melihatku diantar pulang Anita tampak merasa cemburu dan mulai bertanya-tanya.
"Ke mana saja kamu hari ini? Kamu pulang larut malam dan diantarnya pulang?" tanya Luna dengan nada curiga.
"Apa? Anita itu hanya mengantarku pulang setelah aku menemui kakeknya," jawabku mencoba meredakan kecurigaannya.
Luna tampak tidak puas dengan jawabanku. "Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" tanyanya lagi, suaranya kian naik.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun, Luna. Aku masih belum bisa menyelesaikan urusanku dengan keluarganya Anita," kataku mencoba membuatnya tenang.
Luna masih terlihat marah dan cemburu, tapi akhirnya ia menghela napas. "Baiklah, aku mempercayaimu. Tapi berjanjilah padaku, jangan sembunyikan apapun lagi dari aku. Komunikasi dan kepercayaan adalah kunci dalam hubungan kita," ucapnya dengan tegas.
Aku mengangguk dan memeluk Luna erat. "Aku minta maaf untuk ketidaknyamanan ini, sayang. Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi," ucapku penuh penyesalan.
"Prince, apa kamu ingat janjimu waktu itu? Kita berjanji untuk bertemu lagi, tapi kamu malah pergi ke Paris dengan Anita," keluh Luna.
Aku menarik diri sedikit dari pelukan dan menatap Luna dengan penuh penyesalan di mataku. "Luna, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku telah membuatmu terluka dan mengecewakanmu. Tapi percayalah, aku tidak pernah berniat untuk melukaimu atau membiarkan kita berdua terpisah seperti ini."
Luna menatapku dengan ekspresi campuran antara kesedihan dan kekecewaan. "Tapi apa yang terjadi, Prince? Apa yang membuatmu memilih pergi bersama Anita daripada bertemu denganku?"
Aku merasakan keretakan dalam hatiku saat aku harus menghadapi pertanyaan itu. "Luna, saat itu memang ada situasi yang membuatku merasa terjepit. Aku tahu itu tidak bisa jadi alasan yang cukup, tetapi aku merasa terbebani dengan tanggung jawab yang ada padaku. Aku melakukan kesalahan dengan tidak berkomunikasi denganmu dan mengabaikan janjiku padamu. Aku minta maaf, Luna."
Luna menarik napas dalam-dalam dan menundukkan kepalanya sejenak sebelum menatapku lagi. "Prince, aku mencintaimu. Tapi cinta bukanlah hanya perasaan, tapi juga tindakan. Aku perlu tahu bahwa kamu juga mencintaiku dengan tindakanmu, bukan hanya janji-janji."
Aku merasakan kebenaran dalam kata-kata Luna. Aku harus membuktikan cintaku padanya dengan tindakan nyata. "Luna, aku berjanji untuk menjaga komunikasi yang baik denganmu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kesalahan yang pernah aku lakukan.
Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terulang kembali. Kamu adalah segalanya bagiku, dan aku tidak akan membuatmu merasa diabaikan atau terluka lagi."
Luna menatapku dengan hati-hati, mencoba memadamkan api keraguan di matanya. "Prince, aku ingin percaya padamu. Tetapi kita perlu membangun kembali kepercayaan satu sama lain. Aku butuh waktu untuk memproses semuanya."
__ADS_1
Aku mengangguk dalam pengertian. "Tentu saja, Luna. Aku siap mengambil langkah-langkah kecil dan memperbaiki hubungan kita. Apapun yang kamu butuhkan, aku akan ada di sampingmu. Ini janjiku padamu."
Luna tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. "Aku juga mencintaimu, Prince. Kita akan melalui masa sulit ini bersama-sama, dan aku berharap kita bisa memperbaiki hubungan kita."
Aku mengangkat tangan Luna dengan lembut dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua, Luna. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Baiklah, sekarang sudah larut malam, ayo kita tidur!" ajak Luna, istriku.
"Aku setuju," jawabku sambil tersenyum dan mengikuti Luna menuju kamar tidur.
Kami berbaring di atas tempat tidur, memeluk satu sama lain seolah ingin menghapus semua kelelahan dan kekhawatiran yang ada. Aroma harum bunga dan lilin wangi mengisi ruangan, menciptakan atmosfer yang tenang dan damai.
"Aku sangat bersyukur memilikimu kembali di hidupku," ucapku sambil mencium lembut pipi Luna. "Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Aku berjanji untuk selalu ada untukmu, melindungimu, dan mencintaimu dengan sepenuh hati."
Luna tersenyum lembut mendengar kata-kataku. "Kita bisa memulai lagi, membangun masa depan bersama dengan lebih bijaksana."
"Luna," panggilanku dengan penuh kelembutan.
"Ya, Sayang?" jawab Luna, menatapku dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu. Aku ingin membuatmu bahagia selamanya."
Luna tersenyum lebar dan menjawab dengan tulus, "Dan aku juga mencintaimu, seperti tak ada batas. Kita akan melewati segala hal bersama dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
Kami memeluk erat dan memejamkan mata, membawa kami ke alam mimpi yang indah dan damai. Dalam tidur, kami menemukan kedamaian dan harapan baru, memulai perjalanan hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan.
Ketika aku sudah tertidur, ada satu sosok pria tampan yang muncul dalam mimpiku. Pria ini mengenakan pakaian elegan yang terlihat begitu sempurna di tubuhnya. Wajahnya begitu tampan dengan mata yang tajam dan bibir yang memikat.
Ketika dia muncul, dia mengatakan bahwa dia adalah entitas supernatural yang seringkali merasuki tubuhku alias Night yang selama ini datang dalam kehidupanku.
__ADS_1
"Ada apa, Night?" tanyaku penasaran.
"Apa kah masih ingat dengan gadis bernama Maya?" kata Night.
Rupanya Maya saat ini telah ditangkap oleh anak buah Alvin. Aku lupa bahwa Alvin pasti mengenali wajahku dan tahu diriku pernah berduet membuat lagu bersama Maya.
"Alvin tahu identitasmu dan mulai menandai orang-orang yang dekat denganmu," kata Night.
Aku merasa terkejut dan khawatir mendengar hal tersebut. Aku segera berpikir tentang langkah-langkah yang bisa aku ambil untuk melindungi Maya.
"Apa yang harus aku lakukan, Night?" tanyaku dengan serius.
Night tampak memikirkan sesuatu sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak akan membiarkan wanita-wanitaku dalam bahaya. Aku punya rencana, tapi kita harus berhati-hati. Alvin bukanlah seseorang yang bisa dianggap remeh."
Aku mengangguk setuju, menyadari bahwa situasinya serius dan berbahaya. Namun, aku sedikit bingung soal dia mengatakan "wanita-wanitaku".
"Kau pikir Luna dapat memaafkanmu hari ini bukan karena pengaruh kekuatanku?" singgung Night. "Sebaiknya kau bersiap menjalankan rencanaku untuk menyelamatkan Maya."
Aku pun mengangguk lagi dan sudah mengerti apa yang dikatakan Night.
"Baiklah!" Aku bersedia melakukan apa saja untuk membantu Maya.
Night mulai berbagi rincian rencananya dengan hati-hati, menjelaskan setiap langkah yang harus kita ambil.
Keesokan harinya, aku dan Night melaksanakan rencananya. Kami mencari tahu tempat Maya ditahan dan menyusup ke markas Alvin tanpa diketahui oleh anak buahnya. Kami bergerak dengan hati-hati, menghindari pengawasan dan berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan.
Akhirnya, kami berhasil menemukan tempat Maya ditahan. Kami merasa lega melihatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Bersambung.
__ADS_1