
Setelah bertemu dengan Pak Martin dan mendapat berita mengejutkan, aku diminta untuk menemui kakeknya Anita untuk mendapat informasi lebih jelas. Namun, aku memutuskan untuk pulang ke rumahku karena khawatir dengan Luna.
Aku sudah menginap di tempat Anita selama enam hari dan Luna tidak pernah mengirim kabar atau membalas pesanku.
Setiba di rumah, aku segera mengetuk pintu dan Luna membukakan pintu. "Luna, mengapa kamu tidak pernah menghubungiku?" tanyaku heran.
"Maaf, Prince. Aku hanya tidak ingin mengganggu waktumu dengan Anita," jawab Luna.
Aku merasa sedikit kecewa dengan jawaban Luna. "Tapi Luna, kamu tahu kan bahwa aku juga ingin tahu kabarmu?" ucapku dengan sedikit nada kesal.
Luna menghela napas, "Maafkan aku, Prince. Aku memang salah dalam menghadapimu. Aku takut membuatmu merusak hubunganmu dengan Anita."
Aku memandang Luna dengan penuh empati. "Luna, meski Anita adalah tunanganku, tapi aku mencintaimu."
Luna tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Prince. Aku benar-benar minta maaf atas kekhilafanku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Aku mengulurkan tangan untuk merangkul Luna. "Tidak apa-apa, Luna. Yang terpenting adalah kita saling memahami dan bisa terus menjaga hubungan kita dengan baik."
Luna membalas pelukan dengan senang. "Terima kasih, Prince. Aku sangat menghargai hubungan kita."
Aku sangat khawatir orang yang sebelumnya menangkap Luna berhasil menemukan tempat kami dan membawa Luna ketika aku sedang tidak ada.
"Aku rindu padamu," kataku seraya mencium bibirnya Luna dengan penuh kelembutan.
"Aku rindu padamu juga," jawab Luna sambil tersenyum manis. Kami saling berpelukan erat, menikmati kehangatan cinta yang telah terpendam selama ini.
Kemudian, kami berdua berjalan menuju kamar untuk melanjutkan melepaskan kerinduan kami.
Cinta kami yang telah terpendam selama ini kini terwujud dalam keintiman yang mendalam di dalam kamar. Kami saling menyentuh dan mencium satu sama lain, mengikuti irama kekasih yang sudah terlupakan.
Semua perasaan yang telah terpendam selama ini meledak dengan begitu penuh gairah. Aku dan Luna saling memenuhi kebutuhan batin yang begitu mendesak. Setiap sentuhan dan celotehan kami berdua, menyatukan satu jiwa yang haus akan kasih sayang.
Kami menikmati setiap momen dan mengejar waktu yang berlalu begitu cepat. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, karena bahasa tubuh kami telah memadai untuk menyampaikan segala kerinduan dan cinta yang selama ini terlarang.
__ADS_1
Setelah permainan kami di tempat tidur usai, kami sekali lagi saling berpelukan dan berciuman. Sepertinya, saat ini tidak ada kalimat yang lebih indah untuk kami katakan selain "Aku mencintaimu."
Di dalam pangkuanku, Luna berkata, "Aku juga mencintaimu dengan segenap hatiku. Kita harus menjaga cinta ini dan tidak pernah menutupinya lagi."
"Apa kamu sudah makan?" tanyaku pada Luna.
Luna menggeleng lembut. "Belum, bagaimana kalau kita makan satu sama lain?"
Aku tersenyum. "Saran yang bagus. Tapi apa kamu tidak lelah?"
"Lebih dari senang untuk melakukan sesuatu bersamamu. Aku tidak akan pernah lelah."
Aku mencium keningnya. "Kamu yang terbaik, Luna."
Kami beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dapur, tangan kami tetap terjalin erat.
"Masak apa ya enaknya?" tanyaku bingung.
Luna tersenyum manis. "Bagaimana kalau kita membuat spaghetti aglio e olio? Sederhana tetapi lezat."
Sambil mengaduk saus pedas dengan minyak zaitun dan bawang putih cincang, Luna menatapku dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat beruntung memilikimu, kamu selalu ada untukku, menganggapku yang terbaik padahal aku tahu aku punya banyak kekurangan."
Aku tersenyum dan menjawab, "Kamu juga yang terbaik bagiku, Luna. Kamu membuat hidupku lebih berarti dan penuh kebahagiaan. Kekuranganmu hanyalah bagian dari keunikanku yang kusayangi."
Setelah selesai memasak, kami duduk berdua di meja makan, sambil menikmati hidangan yang kami buat bersama-sama. Luna melipat kedua tangannya dan berkata, "Aku ingin kita selalu saling mendukung dan bersama-sama menghadapi segala hal, seperti yang kita lakukan sekarang."
Aku meraih tangan Luna dengan lembut, "Tentu saja, sayang. Bersama-sama, kita bisa menghadapi segala macam perjalanan hidup. Kita akan saling mendukung dan membangun masa depan yang cerah bersama."
Kebersamaan ini seolah-olah kami berdua sudah sah menjadi suami-istri. Aku sadar, baik aku atau pun Luna, kami berdua sedikit dalam pengaruh kekuatan magis milik Night.
"Luna, maukah kamu menikah diam-diam denganku? (menikah sirih)" tanyaku serius.
Luna tersenyum dan membalas pegangan tanganku, "Tentu saja, Aku akan menikah denganmu dengan segala kebahagiaan. Aku percaya bahwa kita sudah saling menyayangi dan mendukung satu sama lain selama ini. Aku siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius bersamamu."
__ADS_1
Setelah itu, kami berdua menyusun sebuah rencana untuk melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Kami ingin momen ini menjadi sesuatu yang hanya antara kami berdua.
"Night, aku tahu kau ada di sana. Bagaimana menurutmu tentang hal ini?" tanyaku pada Night.
"Lakukan saja apa yang kau mau. Sesungguhnya aku sudah mulai menyukaimu, Manusia. Selama kau terus menuruti keinginanku, aku tidak akan melarangmu melakukan sesuatu yang kau inginkan," tegas Night yang terdengar dari dalam pikiranku.
Pernikahan di zaman sekarang tidak terlalu sulit, aku dan Luna hanya perlu datang ke KUA membawa beberapa surat-surat dan akhirnya kami resmi menjadi suami-istri.
Setelah urusan pernikahanku dengan Luna selesai, aku segera meminta izin kepada Luna untuk menyelesaikan urusanku.
Sekarang, aku harus bertemu dan berbicara dengan Tuan Edward Van Walton. Aku penasaran alasan apa dia membeli perusahaan agensi entertainment tempat aku bergabung.
Ketika aku baru saja keluar dari rumah, Tuan Carl sudah ada di depan rumah dan melambaikan tangannya. Sepertinya dia disuruh oleh Tuan Van Walton untuk menjemputku.
Aku menghampiri Tuan Carl dengan senyum. "Halo, Tuan Carl. Terima kasih sudah menjemputku. Anda pasti diperintah oleh Tuan Van Walton."
Tuan Carl tersenyum ramah. "Kamu benar. Tuan Van Walton menginstruksikan saya untuk menjemputmu."
"Baiklah. Ayo kita pergi," jawab Tuan Carl.
Kami berjalan bersama menuju tempat mobilnya berhenti. Tuan Carl menjemputku dengan mobil hitam yang terlihat mewah. Akhirnya, kami pun masuk ke dalam mobil dan mulai bergerak menuju tujuan kami.
Selama perjalanan, suasana menjadi cair. Tuan Carl tampaknya sangat ramah dan ceria. Akhirnya kami berbincang tentang pekerjaan, hobi, dan kehidupan sehari-hari. Aku merasa nyaman dengannya, seakan-akan sudah mengenalnya cukup lama. Sebelummya, Tuan Carl tidak banyak bicara dan kami tidak sempat memperkenalkan diri satu sama lain.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami sampai di tujuan. Tempat yang kami tuju adalah sebuah gedung perkantoran yang megah dan cukup terkenal di kota ini.
Tuan Carl membukakan pintu mobil untukku dengan sopan, dan kami berjalan masuk ke dalam gedung tersebut. Tidak lama kemudian, kami sampai di ruangan yang terlihat sangat eksklusif. Tuan Van Walton sudah menunggu di sana dengan senyum lebar.
"Prince, bagus kamu datang. Kami sudah menunggu kehadiranmu," sambut Tuan Van Walton.
"Saya senang bisa datang, Tuan. Ada apa sebenarnya?" tanyaku penasaran.
Tuan Van Walton tersenyum misterius. "Sabar, Prince. Ada berita penting yang akan kuberikan padamu."
__ADS_1
Rasa penasaran semakin menggelora dalam diriku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang membuat Tuan Van Walton harus melibatkanku? Aku sangat ingin tahu.
Bersambung.