Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova

Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova
Episode 27


__ADS_3

"Prince, bagus kamu datang. Kami sudah menunggu kehadiranmu," sambut Tuan Van Walton.


"Saya senang bisa datang, Tuan. Ada apa sebenarnya?" tanyaku penasaran.


Tuan Van Walton tersenyum misterius. "Sabar, Prince. Ada berita penting yang akan kuberikan padamu."


Rasa penasaran semakin menggelora dalam diriku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang membuat Tuan Van Walton harus melibatkanku? Aku sangat ingin tahu.


Kemudian, Pak Walton mulai mengatakan bahwa aku harus mengisi kursi kosong di perusahaan teknologi yang telah ditinggalkan oleh ayahnya Anita setelah beliau meninggal.


"Kamu adalah tunangan cucuku. Kamu harus menggantikan posisi Mendiang Robi V Walton, ayahnya Anita," tegas Tuan Edward Van Walton.


Aku terperangah mendengar kata-kata itu. Aku tidak pernah mengira bahwa hubunganku dengan Anita akan membawa aku ke dalam dunia bisnis keluarganya. Meskipun aku tahu bahwa keluarga Walton terkenal dan memiliki bisnis yang sukses, tapi menjadi seorang penerus di perusahaan mereka adalah sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiranku.


"Apa maksudmu, Pak Walton?" tanyaku bingung.


"Saya sudah memutuskan setelah kalian berdua akan menjalin hubungan pernikahan. Dan sebagai langkah awal, saya ingin kamu mengambil alih posisi ayah Anita di perusahaan," jelas Tuan Van Walton.


Hatiku berdesir kencang mendengar berita itu. Aku tidak pernah mengharapkan hal ini. Akan tetapi, aku merasa terhormat karena dipercayakan dengan tanggung jawab tersebut. Aku pun mulai memikirkan apa arti memiliki peran penting dalam bisnis keluarga Walton.


Namun, di sisi lain, perasaan ragu mulai muncul. Aku bukanlah orang yang memiliki pengalaman atau pengetahuan yang cukup dalam dunia bisnis. Sebelumnya, aku hanya seorang pelayan kafe biasa yang hidup sederhana. Bagaimana aku bisa mengelola perusahaan sebesar itu?


"Tapi Pak Walton, maaf jika saya bertanya, mengapa tidak ada anggota keluarga yang bisa mengisi posisi itu?" tanyaku dengan hati-hati.


Tuan Van Walton tersenyum lembut. "Saya ingin melihat perubahan dan ide segar dalam bisnis kami. Ia percaya bahwa kamu memiliki kemampuan, kepemimpinan, dan visi yang dibutuhkan untuk membawa perusahaan ini ke arah yang lebih baik.


 Selain itu, Saya melihat potensi yang ada dalam hubunganmu dengan Anita. Ia berharap hubungan kalian dapat memperkuat ikatan bisnis kami dengan perusahaan lain."


Aku terdiam sejenak. Kata-kata Tuan Van Walton membuatku merasa termotivasi. Aku merasa tertantang untuk membuktikan bahwa aku bisa mencapai harapan mereka.


"Baik, Pak Walton. Saya akan mencoba yang terbaik untuk memenuhi harapan kalian dan mengelola perusahaan ini dengan baik," jawabku dengan tegas.


Tuan Van Walton mengangguk puas. "Saya yakin kamu bisa melakukannya, Prince. Namun, saya akan memberikanmu waktu untuk membiasakan diri terlebih dahulu dengan mengurus perusahaan agensi entertainment."


Setelah pertemuan itu, aku mulai merenung tentang tanggung jawab besar yang kini ada di pundakku. Aku menyadari bahwa ini bukanlah tugas yang mudah. Namun, teguran dari Tuan Van Walton telah menyalakan api semangat di dalam diriku.


Aku menyadari bahwa untuk mencapai harapan Tuan Van Walton, aku perlu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola perusahaan agensi entertainment.


Selama beberapa minggu pertama, aku harus fokus pada mengobservasi dan mempelajari proses kerja di perusahaan. Aku juga harus belajar tentang bagaimana mengelola kesepakatan dengan artis, mengatur jadwal produksi, dan berinteraksi dengan klien.

__ADS_1


Aku juga bisa memanfaatkan kesempatan untuk belajar dari rekan-rekan kerjaku yang telah memiliki pengalaman lebih dalam industri ini. Mereka memberikan tips dan saran berharga tentang penanganan masalah yang mungkin muncul dalam menjalankan perusahaan agensi entertainment.


Tantangan terbesar yang aku hadapi adalah ketika harus mengambil keputusan penting. Aku sadar bahwa setiap keputusan yang aku buat akan memiliki dampak besar pada tujuan perusahaan. Tapi, aku mengingat kata-kata Tuan Van Walton, bahwa dia yakin aku bisa melakukannya.


Saat ini, aku berusaha berpikir jernih untuk membuat keputusan yang tepat dengan mempertimbangkan semua hal yang diperlukan. Aku harus belajar untuk mengatasi kegagalan dan belajar dari setiap pengalaman yang aku alami nanti.


Bisa dikatakan, CEO adalah konseptor, sedangkan direktur adalah eksekutor. Direktur juga bertanggung jawab kepada para pemilik saham. Namun, di Indonesia sendiri CEO dan direktur utama bisa dijabat oleh orang yang sama.


Namun, di perusahaan agensi ini aku punya seseorang yang mungkin dapat diandalkan, yaitu Pak Martin.


Ketika aku akan meninggalkan gedung perusahaan, seluruh karyawan wanita terpana melihat ketampananku. Mereka cukup mengenalku sebagai aktor dan ingin meminta tanda tanganku atau berfoto bersamaku.


 Sebagai seorang aktor terkenal,itu adalah hal yang biasa bagiku. Aku tersenyum dan dengan sopan memenuhi permintaan mereka satu per satu. Beberapa dari mereka bahkan mengucapkan kata-kata pujian tentang penampilanku di film terbaruku.


Namun, dalam hatiku aku tidak hanya ingin dikenal sebagai seorang aktor tampan. Aku ingin dikenal karena karya-karya aktingku yang luar biasa. Maka dari itu, setiap kali aku mendapat kesempatan, aku akan selalu berusaha memberikan penampilan terbaikku di layar kaca atau di atas panggung.


Terlepas dari pujian fisik dan ketampananku, aku berharap bahwa karyawan-karyawan wanita ini juga mengapresiasi bakat dan dedikasiku di dunia akting.


Ketika sedang berbincang-bincang dengan salah satu karyawan wanita yang lebih berani, aku bertanya apakah ia pernah menonton film-filmku atau mengenal karir aktingku. Untuk kejutanku, dia mengaku bahwa dia hanya tertarik padaku sebagai seorang aktor tampan.


Aku merasa sedikit kecewa namun tidak menunjukkan ekspresi itu. Aku menyadarinya bahwa mungkin banyak orang lain yang juga berpikiran serupa.


Momen itu membuatku berpikir bahwa tampaknya citra tampanku terlalu mendominasi daripada kemampuan aktingku. Ini adalah sesuatu yang harus aku hadapi sebagai seorang aktor.


Aku merasa lega saat Anita muncul dan aku akhirnya bisa meninggalkan kerumunan orang-orang ini.


"Prince, aku yang akan mengantarmu pulang," kata Anita seraya meraih tanganku.


Ketika hendak masuk ke dalam mobilnya, aku menceritakan semuanya padanya. Anita mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengungkapkan dukungannya.


"Jangan khawatir, kamu memiliki bakat yang luar biasa," kata Anita dengan tulus. "Momen ini hanya akan membuatmu semakin kuat dalam dunia akting. Aku yakin kamu bisa membuktikan dirimu sebagai seorang aktor yang memikat."


Aku tersenyum mendengar kata-kata Anita. Dukungannya memberikan semangat baru dalam diriku.


"Terima kasih, Anita. Aku tidak akan menyerah dan akan terus berjuang untuk meraih impianku," jawabku mantap.


Kemudian, aku bertanya apakah Anita sudah diberi tahu bahwa aku akan diminta untuk menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.


"Tidak, Prince. Kamu tahu sendiri bahwa aku masih berduka dan tidak dalam kondisi untuk menerima berita seperti itu," jawab Anita dengan lembut.

__ADS_1


Aku mengangguk mengerti. Memang, saat ini adalah waktu yang sulit bagi Anita setelah kepergian ayahnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang begitu dicintai.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu mengungkitnya lagi," kataku seraya memeluknya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf," jawab Anita dengan suara yang terdengar rapuh. "Aku hanya... masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa Ayah sudah pergi. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang."


Aku mengusap lembut punggungnya, mencoba memberikan kehangatan. "Itu wajar, Anita. Kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidup kita memang sulit untuk dihadapi. Kamu tidak perlu terburu-buru dalam proses penyembuhannya. Aku di sini untukmu, dan aku akan selalu mendukungmu."


Anita mengangguk perlahan. "Terima kasih, ya. Aku sangat beruntung memilikimu di sampingku."


Kami tetap berdiam dalam pelukan itu, memberikan satu sama lain pegangan dan ketenangan.


"Bagaimana kalau kita pergi ke rumahmu dan menonton film kita," kataku mencoba mencairkan suasana. Aku mengajak Anita untuk menonton film di mana kami berdua adalah pemeran utamanya.


Anita mengangkat kepalanya dari pelukanku, matanya masih penuh dengan kesedihan. Namun, dia tersenyum lemah. "Mungkin itu bisa membuatku sedikit teralihkan," jawabnya.


Aku memberikan senyum kecil sebagai respon. "Baiklah, ayo kita pergi ke rumahku." Aku membantunya berdiri dan berjalan keluar dari pelukan kami.


Sesampainya di rumah Anita, aku membukakan pintu untuk Anita dan dia mengajakku masuk.


Kemudian kami duduk di sofa, duduk berdampingan di depan televisi, Anita meraih remote dan memulai film. Film itu dimulai, dan kami mulai tenggelam dalam alur cerita yang menarik. Anita tertawa kecil, teringat saat adegan-adegan lucu ketika kami akting dan aku merasa senang melihatnya tersenyum.


Perlahan-lahan, suasana hati kami berdua berubah. Kami teralihkan dari kesedihan dan membiarkan cerita film menghanyutkan kami. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, tapi pelukan kami menjadi lebih hangat, memberikan rasa nyaman dan kehangatan satu sama lain.


Namun, perasaan kehangatan dan keintiman mulai memenuhi ruangan saat kami terus berciuman dengan penuh gairah. Kami terpancing oleh salah satu adegan film di mana kami pertama kali berciuman dalam adegan tersebut.


Kemesraan kami semakin terasa meningkat ketika aku mulai merasakan belaian jemarinya yang lembut mengelus pipiku. Rasanya seperti ada magnet yang menarik kami berdua untuk semakin dekat.


"Anita..." ucapku menyebut namanya ketika Anita sudah duduk di pangkuanku.


Dia tersenyum dan menjawab dengan suara lembut, "Ya, Prince Sayang?"


Kami saling menatap dengan mata penuh cinta, menghilangkan segala batasan di antara kami. Perasaan hangat itu semakin membara di dalam diri, dan aku tidak bisa lagi menahan diri. Dengan lembut, aku membungkukkan kepalaku dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang penuh gairah dan keintiman.


Setiap sentuhan bibirnya adalah seperti api yang menyala di dalam diriku. Kami saling merasakan kelembutan dan hasrat yang begitu kuat. Semakin lama, semakin terperangkap dalam kehangatan yang kami ciptakan bersama.


Kami saling berpegangan erat, mencari kenyamanan satu sama lain di dalam dekapannya. Tidak ada yang bisa memisahkan kami pada saat itu. Kami berdua merasakan getaran intensitas emosional yang saling bertautan dalam hubungan ini.


Waktu terasa melambat saat kami terus terikat dalam momen ini. Perasaan yang ada di antara kami begitu nyata dan tulus. Kami tidak perduli dengan apa yang ada di sekitar kami, karena saat ini hanya ada kita berdua -- menyatu menjadi satu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, aku merasa sesuatu yang lain di antara kami. Ada ketulusan dan kehangatan yang lebih mendalam daripada sekedar keintiman fisik. Ada rasa saling mengerti dan mempercayai satu sama lain. Kami menemukan kedamaian dalam kasih sayang yang terus tumbuh di antara kami.


Bersambung.


__ADS_2