
Saat ini, aku kembali akan bermain peran sebagai aktor utama dalam film drama percintaan. Aku akan beradu peran dengan aktris muda pendatang baru bernama Sintia.
Film ini berkisah tentang cinta beda usia antara tokoh utama yang berprofesi sebagai guru dengan muridnya, yang akan diperankan oleh Sintia.
Sintia memerankan seorang remaja yang jatuh cinta pada gurunya, yang berusia lebih tua darinya. Karakterku sebagai guru yang berkarakter baik dan perhatian membuat hubungan antara kami bertambah dekat.
Kami berdua harus merasakan cinta yang rumit karena perbedaan usia dan dinamika hubungan guru-murid yang terlarang. Namun, kami berusaha untuk menyeimbangkan perasaan kami dengan tanggung jawab dan etika yang ada.
Selain itu, kami akan menghadapi berbagai rintangan dan konflik dalam film ini. Mulai dari reaksi negatif dari orang-orang di sekitar kami, hingga perbedaan pandangan antara kami berdua tentang masa depan hubungan kami.
Namun, meski banyak halangan yang menghadang, kisah cinta kami tetap berlanjut. Kami berdua saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi tantangan dan mengejar impian kami masing-masing.
Film ini akan mengeksplorasi berbagai emosi, konflik, dan pertumbuhan pribadi dari tokoh-tokoh utama.
Melalui peran ini, aku berharap dapat menyampaikan pesan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan mengatasi rintangan dalam cinta.
Aku sangat bersemangat untuk beradu peran dengan Sintia, sebagai pendatang baru dia memiliki bakat yang luar biasa.
Aku yakin sinergi kami akan menciptakan kisah cinta yang mendalam dan menggugah hati penonton.
Seusai syuting hari pertama, Sintia menghampiriku dan mengajakku bicara.
"Kak Prince, maukah kamu membantuku?" kata Sintia tampak ragu-ragu.
Situasi ini membuat aku teringat dengan Luna. Terlebih lagi, Luna memang bertubuh kecil sehingga ia terlihat seperti masih remaja.
Namun, Sintia itu benar-benar masih remaja dan aku takut apa yang aku pikirkan ini benar-benar terjadi. Yaitu, Night menjadikannya wanita kelima.
Tiba-tiba, kesadaranku menghilang dan begitu aku memperoleh kembali kesadaranku, aku sudah berada di kamar Sintia.
"Night, apa kau sudah gila?" Aku terkejut karena mendapati diriku sudah membaringkan Sintia di tempat tidur.
"Kak Prince, aku adalah penggemar beratmu," kata Sintia sudah benar-benar menyerahkan dirinya.
Sintia bahkan masih mengenakan seragam yang dia gunakan untuk syuting sebelumnya.
Tubuhku mulai bergerak sendiri dan menciumi Sintia dengan gairah dan tidak bisa menahan diri.
"Sintia, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku," kataku sambil mencoba menahan pengaruh Night.
Namun, Sintia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku erat-erat. "Tidak apa-apa, Kak Prince. Aku sudah siap untuk menyerahkan diriku untukmu. Ini adalah pertama kalinya untukku," jawabnya sambil menatapku dengan penuh rasa cinta.
Hati dan pikiranku kacau. Aku tidak tahu bagaimana cara menangani situasi ini.
__ADS_1
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran, tetapi ingatanku begitu kabur dan membingungkan.
Pada akhirnya, aku terus menciumi Sintia dan mulai melepas pakaian kami satu per satu.
Tubuh Sintia yang indah membuat hatiku berdebar cepat. Saat kulihat ekspresi bahagianya, aku merasakan kehangatan di dalam diriku.
Namun, dalam keadaan yang masih penuh kebingungan, aku merasa ragu.
"Apa kamu yakin, Sintia? Kita harus memastikan semua ini adalah keputusan yang tepat," kataku dengan suara serak.
Sintia hanya mengangguk dengan mantap. "Aku yakin, Kak Prince. Aku ingin memberikan diriku dan cintaku sepenuhnya padamu."
Meskipun ada bagian dari diriku yang merasakan dorongan dan gairah, aku sadar bahwa aku harus lebih bertanggung jawab dalam menghadapi situasi ini.
Aku mengambil keputusan untuk menghentikan segalanya dan melawan pengaruh Night.
"Sintia, maafkan aku. Aku masih bingung dan terlalu banyak terjadi dalam waktu singkat. Aku tidak bisa melanjutkan ini sekarang," ucapku sambil mencoba menenangkan diri.
Sintia menatapku dengan kekecewaan, tetapi dia memahami keputusanku. Dia meraih pakaiannya dan mulai memakainya kembali.
"Jangan khawatir, Kak Prince. Aku mengerti. Kita perlu waktu untuk memahami semua ini," kata Sintia sambil menjaga senyumnya.
Aku merasa bersalah dan berterima kasih kepada Sintia atas pemahamannya.
Aku pun memutuskan untuk segera pergi dari rumah Sintia, tapi Night kembali bicara lewat pikiranku.
"Gadis itu masih remaja. Apa kau tidak bisa untuk melepaskan yang satu ini?" jawabku menjelaskan.
"Tidak bisa. Kau sudah berjanji untuk mengikuti apa yang kukatakan!" tegas Night. "Lakukan saja jika tidak ingin terjadi suatu hal buruk padamu dan orang-orang terdekatmu."
"Baiklah, tapi bisakah kita menundanya untuk hari ini? Setidaknya, berikan waktu untuk aku lebih mengenalnya," ucapku membujuknya.
"Hanya untuk hari ini dan tidak ada lain kali," kata Night setuju.
Beberapa saat kemudian, Hana akhirnya datang untuk menjemput setelah aku menghubunginya.
"Tuan Prince, bagaimana bisa Anda berada di tempat ini?" kata Hana heran. "Saya pikir Anda sudah pulang!"
"Saya hanya jalan-jalan sebentar di taman kota ini untuk menghilangkan sedikit kebosanan," jawabku sambil tersenyum.
Hana menggelengkan kepalanya. "Kenapa Anda tidak memberi tahu saya, Tuan Prince," katanya masih heran karena aku meninggalkannya di lokasi syuting.
"Ayo ikuti saya, Hana," ajakku menarik tangannya.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Hana bingung.
Sejujurnya aku masih merasakan efek dari kekuatan magis Night sehingga membutuhkan Hana untuk menetralisir.
Aku membawa Hana ke belakang pohon besar sehingga orang-orang yang lewat tidak akan bisa melihat kami.
Tanpa ragu, aku mulai mencium bibirnya Hana dan Hana mengerti apa keinginanku.
Kami berdua saling merasakan getaran dan kehangatan ciuman kami. Rasa cinta yang kami simpan selama ini terpancar dengan jelas melalui sentuhan bibir kami yang lembut.
Sementara itu, suara berbisik kami dan suara jantung yang berdetak kencang menjadi latar belakang bagi momen ini.
Rasanya seperti dunia terhenti sejenak hanya untuk memberikan kesempatan bagi kami untuk berbagi cinta kami.
Saat ciuman kami berakhir, kami saling menatap dengan penuh kasih sayang.
Hana tersenyum dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan dan aku tidak bisa menahan senyum bahagia yang merekah dari wajahku.
Kemudian, kedua tangan Hana menumpu pada batang pohon besar ketika aku bersiap di belakangnya.
"Tuan, aku belum pernah melakukannya di luar ruangan," ujar Hana sedikit khawatir.
"Santai saja. Lakukan seperti di kantor," jawabku menenangkannya.
Hana mengangguk mengerti. Ketika di kantor, kami dapat bersatu tanpa harus melepas seluruh pakaian kami.
Tanpa menunda lagi, akhirnya kami menyatu di belakang pohon besar itu.
Satu tangan Hana berusaha menahan mulutnya agar tidak bersuara dan satunya lagi menumpu pada pohon ketika aku mulai meningkatkan iramanya.
Dengan suhu udara yang begitu sejuk berkat angin yang bertiup lembut, akhirnya kami berhasil meraih puncak kenikmatan bersama.
"Terima kasih, Hana," kataku seraya menggendongnya untuk masuk ke dalam mobil.
Hana masih begitu lemas sehingga aku memutuskan untuk menyetir mobil untuknya.
Setiba di rumah, aku turun dari mobil dan hari sudah mulai gelap.
"Sampai besok, Tuan Prince," kata Hana yang terlihat sudah pulih dan masuk kembali ke dalam mobilnya untuk pulang.
Kemudian, aku melangkah maju menuju pintu rumahku setelah membuka gerbang.
"K-kalian?" ujarku terkejut ketika ketiga istriku sudah menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
"Sayang, kami sudah tahu apa yang terjadi antara kamu dengan asisten pribadimu," singgung Anita.
Bersambung.