
Sekarang aku mulai merasa bahwa Night menyimpan banyak rahasia dariku. Dia adalah makhluk dari dunia lain dan dapat merasuk kepadaku. Mungkinkah aku sering tak bisa mengontrol diriku sendiri karena perbuatan Night?
"Apa kau sudah sadar, Manusia?" kata Night.
Aku mendengar suara Night di dalam kepalaku. Mendengarnya sekarang membuatku merinding, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang. Aku menjawab dengan waspada, "Apa arti dari semua ini, Night? Apa yang sedang terjadi?"
Night tertawa dengan suara yang mencekam, "Oh, Manusia. Kau begitu naif. Kau pikir aku ada di sini untuk membantumu? Aku ada di sini untuk menguasaimu."
Aku merasa ketakutan mendengar kata-kata Night. Aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar, seperti aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku merenung sejenak, mencoba mencari jawaban dalam diriku sendiri. "Apa yang kau inginkan dariku, Night? Mengapa kau harus menguasai diriku?"
Night diam sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih tenang, "Aku adalah makhluk yang haus akan kekuatan dan kegelapan. Aku mendapatkan energi dari ketidakstabilan dan ketakutanmu. Aku ingin mengendalikanmu, mengambil alih kehidupanmu. Kau hanya seorang manusia yang rapuh, mudah untuk dirasuki."
Aku merasa takut tapi juga marah. Aku merasa bahwa aku tidak boleh membiarkan Night menguasai diriku. Aku mencoba menguatkan diri, "Tapi aku adalah manusia yang secara mendasar memiliki kendali atas diriku sendiri. Aku akan melawanmu, Night. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkanku."
Night tertawa dengan cemoohan, semakin menguatkan rasa tegang dalam diriku. "Kau berpikir kau bisa melawan aku? Oh, manusia yang bodoh." Night terus melontarkan kata-kata yang menciptakan keraguan dalam diriku, mencoba untuk meruntuhkan keberanianku.
Namun, aku bertekad untuk tidak menyerah. Aku tahu bahwa aku memiliki kekuatan untuk melawan Night, meskipun mungkin aku belum sepenuhnya memahami hal itu. Aku mengatakan dengan suara yang penuh keyakinan, "Aku akan membuatmu tahu bahwa aku adalah pemilik hidupku sendiri. Aku akan menemukan cara untuk menghadapimu dan mengusirmu dari kehidupanku."
Night terdiam sesaat, namun suaranya yang penuh ancaman kembali terdengar, "Kau mungkin bersemangat sekarang, Manusia. Tapi percayalah, jika aku pergi darimu, maka kau akan berubah seperti dahulu. Kau akan kembali menjadi pria buruk rupa dan kekuatan yang kuberikan padamu akan hilang."
"Apakah tidak ada pilihan bagiku agar tetap bisa memiliki tubuhku?" tanyaku mencoba meminta kesempatan kepada Night.
"Ah, seandainya kau tidak sadar duluan dan terus melakukan hal seperti biasanya, mungkin aku masih akan memberimu kesempatan," ujar Night.
"Hal apa?" tanyaku tidak paham.
"Tentu saja, bermain dengan banyak wanita," tegas Night.
__ADS_1
Kemudian, Night kembali mengambil alih tubuhku sehingga aku mulai bergerak sendiri.
Akhirnya, aku menggerakkan tanganku dengan penuh keahlian, menyingkap perlahan-lahan selimut Anita. Dengkulku menekuk saat aku meletakkan lutut di sebelah tubuhnya yang lemah. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat saat dia mencoba menahan napasnya.
Aku merasa gelisah mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, namun Night terus mengendalikan tubuhku.
Aku meraih pinggangnya dengan lembut dan menatap wajahnya yang lelah. Anita terlihat terkejut saat matanya yang sayu bertemu dengan pandanganku yang dingin. Aku bisa melihat kebingungan di matanya, tetapi Night tidak mempedulikannya.
Perlahan, aku mulai melepas bajuku dengan perlahan. Rasanya seperti ada dua kepribadian yang bertarung di dalam diriku, dan saat ini adalah Night yang menguasai.
Aku membungkuk dan menggenggam rambut Anita yang terurai, menariknya ke belakang untuk memperlihatkan lehernya yang halus. Night membimbing tanganku untuk merasakan denyut darah yang mengalir di bawah kulitnya. Rasanya begitu menggoda, begitu menggiurkan.
Night memaksaku untuk mencium leher Anita dengan penuh hasrat. Aku menciuminya dengan kasar, hingga aku bisa merasakan tubuhnya gemetar di bawahku. Aku tahu ini salah, aku tahu aku harus menghentikannya, tetapi Night terus mendorongku.
Tubuh Anita mulai menanggapiku, meskipun dia tidak berusaha melawan. Aku merasakan denyutan napasnya yang cepat dan mendengarkan suara desaaahan yang datang dari bibirnya.
Night melanjutkan dengan menyingkapkan tubuh Anita yang rapuh, dengan penuh nafsu aku mengeksplorasi setiap lekukan dan bagian tubuhnya. Aku menciumi setiap inci kulitnya, memprotes, tapi tak ada yang mampu kupertahankan dari Night.
Esok harinya, aku bangun kesiangan, tetapi Anita masih tertidur di sampingku. Aku melihat leher Anita meninggalkan banyak bekas gigitan yang terlihat agak memerah. Aku terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi semalam. Apakah kami bermain-main dengan sedikit kasar? Atau apakah ada sesuatu yang lain yang menyebabkan bekas-bekas ini?
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, tapi semuanya seperti kabur. Aku tidak bisa mengerti bagaimana aku bisa begitu lupa tentang apa yang terjadi. Semua karena perbuatan Night yang mengambil alih atas tubuhku.
Sementara Anita masih tertidur, aku memutuskan untuk tidak mengganggunya. Aku memilih untuk memerhatikan bekas gigitan itu dengan seksama. Mereka terlihat intens, hampir seperti bekas-bekas gigitan binatang buas.
Aku memutuskan untuk meninggalkan Anita tidur dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sambil memasak, pikiranku masih dipenuhi dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi semalam. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang penting yang terlewatkan olehku.
Ketika Anita akhirnya bangun, aku mencoba untuk tidak menunjukkan kekhawatiran atau keanehan apapun. Aku mencoba untuk bersikap normal, tapi pikiranku masih merasa gelisah.
__ADS_1
Kami makan sarapan bersama dan bercerita tentang hari ini. Aku mencoba mencari tahu apa yang tahu Anita tentang bekas-bekas gigitan ini. Namun, dia juga terlihat bingung dan tidak mengingat apa-apa yang terjadi semalam karena mabuk.
Kami berdua mencoba untuk melepaskan kejadian ini dan melanjutkan hariku dengan selayak mungkin. Tetapi bekas-bekas gigitan itu terus menghantui pikiranku.
Malam itu, ketika kami berdua berbaring di tempat tidur, Anita menatapku dengan serius dan berkata, "Apakah kamu ingat apa yang terjadi semalam?"
Aku menggelengkan kepala, "Tidak, aku masih bingung."
Anita tersenyum, "Baiklah, mungkin akan terus menjadi misteri bagi kita. Tetapi satu hal yang pasti, saat ini hanya ada kita berdua di sini."
Tiba-tiba, aku kembali mendengar suara Night dalam kepalaku. "Sekarang kau sudah tahu apa harus kau lakukan, Manusia?"
Aku hanya bisa mengangguk dan mulai memeluk Anita. "Bolehkah aku melakukannya lagi?" tanyaku pada Anita.
Anita tidak menjawab, tapi langsung mencium bibirku dengan lembut. Kedua tangannya berada di leherku, menambah kedalaman ciuman ini. Sesaat kemudian, Anita merasakan ciuman ini melebar, dan mulutnya langsung membalas serangan dengan gairah yang sama. Kami berdua saling terlibat dalam keintiman yang menggelora.
Setelah beberapa saat, Anita perlahan-lahan melepaskan ciumannya dan tersenyum kepadaku. "Tentu saja boleh, jika kamu juga mau."
Aku tersenyum dan mencium lembut bibirnya sekali lagi. Rasa syukur mengisi hatiku karena Anita memberiku kesempatan ini. Kami berdua terlibat dalam ciuman yang penuh kasih, memancarkan rasa sayang dan keinginan yang saling mengikat.
Enam hari kemudian, Pak Martin menghubungiku agar aku segera datang ke perusahaan agensi entertainment. Aku sebagai aktor yang berada di bawah naungan agensinya tentu harus memenuhi panggilannya. Saat ini, Pak Martin sudah naik jabatan dari Manager Talenta menjadi Direktur Eksekutif Perusahaan Agensi Entertainment tersebut. Hari itu, aku pun segera bersiap-siap dan berangkat menuju perusahaan tersebut.
Setibanya di perusahaan, aku bertemu dengan Pak Martin di ruang kerjanya yang baru. Ruangannya kini terlihat lebih besar dan mewah, menggambarkan peningkatan jabatannya. Pak Martin menyambutku dengan senyuman dan berterima kasih karena telah segera merespons panggilannya.
Kemudian, Pak Martin memulai pembicaraan dengan memberikan kabar gembira. "Hari ini, aku ingin memberitahukan bahwa perusahaan agensi ini telah dibeli oleh keluarga Van Walton!" ujarnya dengan semangat.
Aku tidak tahu alasan apa yang membuat keluarga Van Walton membeli perusahaan ini. Aku segera menghubungi Anita untuk membicarakan hal tersebut.
__ADS_1
"Kamu akan tahu setelah bicara dengan kakekku," kata Anita.
Bersambung.