
Sesampainya di hotel, aku berusaha berusaha mencari tahu nomor kamar yang ditempati oleh Luna. Tetapi, pintu di lobi hotel tidak mudah untuk dilewati. Aku harus berpura-pura menjadi tamu atau mencari cara lain untuk masuk.
Luna akhirnya meneleponku, tapi itu langsung terputus setelah terdengar suara seorang pria yang mengancamnya.
Aku panik dan khawatir dengan keadaan Luna. Aku segera mencoba meneleponnya kembali, namun panggilan terus-menerus tak terjawab. Aku merasa semakin putus asa dan bingung harus melakukan apa. Apakah aku harus segera pergi ke hotel dan mencari tahu apa yang terjadi?
“Aku akan membantumu," kata Night terdengar dalam pikiranku.
Tiba-tiba, tubuhku bergerak sendiri karena ada kekuatan yang mengendalikanku.
“Tenanglah dan lihat saja," kata Night lagi.
Aku pun sadar bahwa ini adalah kekuatan Night.
Darahku berdesir cepat, namun aku mencoba menahan kepanikan. Aku memutuskan untuk mempercayai Night dan melihat apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba, aku merasakan seperti diriku yang berada di dalam tubuh Night. Terasa seperti aku melihat melalui matanya, mendengar melalui telinganya, dan merasakan kekuatannya. Aku menjadi satu dengan kegelapan dan misteri yang ada dalam dirinya.
Dalam sekejap, kami tiba di depan pintu hotel tempat Luna menginap. Namun, ada dua orang pria yang menjaga pintu tersebut.
Kedua pria itu bertubuh tegap dan terlihat kuat, seperti penjaga keamanan profesional. Mereka memakai seragam hitam dengan logo hotel di dadanya.
Night menggerakkan tubuhku dengan perlahan menuju pintu, berusaha agar gerakan kami tidak mencurigakan. Tubuhku berjalan dengan mantap dan tatapanku tetap tajam.
Ketika kami sampai di depan pintu, kedua penjaga itu menatapku dengan tajam. Mereka tampak curiga melihat kedatanganku yang tidak biasa.
"Apa yang kau cari di sini?" tanya salah satu dari mereka dengan suara tegas.
"Aku tahu kalian menahan Luna di dalam. Cepat lepaskan dia!" kataku nada tegas, sambil mencoba menunjukkan rasa serius dan tekadku.
Penjaga lainnya mendekatiku, meningkatkan intensitas tatapannya. "Siapa kamu dan bagaimana kamu tahu tentang Luna?" tanya penjaga itu dengan curiga.
"Aku adalah teman Luna, dan aku datang untuk menyelamatkannya. Dia adalah seseorang yang penting bagiku dan aku tidak akan membiarkan dia tinggal di sini lebih lama," jawabku mantap.
Setelah mendengar penjelasanku, kedua penjaga tersebut saling pandang dan menghubungi atasannya. Namun, mereka kemudian mencoba mengusirku. Akhirnya, terjadi pertarungan antara kami karena aku ingin menyelamatkan Luna.
__ADS_1
Night yang mengambil alih tubuhku ternyata sangat ahli dalam bertarung. Dia menggunakan keahliannya untuk menangani kedua penjaga tersebut dengan cepat dan efisien.
Dalam kekacauan pertarungan, Luna juga terlihat sangat terkejut melihatku di sana. Namun, dia langsung mengerti bahwa aku datang untuk menyelamatkannya.
Tubuhku terus bergerak sendiri karena dikendalikan oleh Night. Night melayangkan pukulan dan tendangan yang begitu lincah dan mematikan. Setiap serangan yang diberikan membawa kekuatan yang menggetarkan tubuh penjaga-penjaga itu. Tidak butuh waktu lama bagi Night untuk menangani kedua penjaga tersebut dan menjatuhkan mereka dengan sempurna.
Kemampuan bertarung yang dimiliki Night tidak hanya membuatku terpana, tetapi juga membuat Luna terkesima. Dia tahu bahwa aku tidak memiliki keterampilan seperti itu sebelumnya. Namun, dia tidak bisa berlama-lama dalam kekaguman karena situasinya masih berbahaya.
Perkelahian berkecamuk dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap gerakan diiringi dengan suara benturan, serangan, dan helaan napas. Aku merasa tubuhku semakin terkendali oleh Night, membawaku melampaui batasan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kami berhasil mengalahkan kedua penjaga itu dan menyelamatkan Luna. Tubuhku kembali menjadi milikku sendiri saat Night melepaskan kendalinya. Aku merasa lelah dan hancur, tetapi juga puas dengan apa yang telah kami capai.
Luna menghampiri aku, "Kau... kau bisa bertarung," ujarnya dengan suara getir.
Aku tersenyum padanya, mencoba menutupi kelelahan yang aku rasakan. "Aku harus melakukan apapun untuk menyelamatkanmu," jawabku, suara lemah.
Kemudian, aku dan Luna bergegas meninggalkan hotel tersebut. Luna mengatakan bahwa Alvin dan pria yang hendak melecehkan di hotel pasti sudah menyadari kepergian Luna.
Kami melarikan diri dengan cepat menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari hotel. Kami berusaha untuk tidak menarik perhatian siapapun yang mungkin masih mengawasi kami. Hatiku berdebar kencang saat aku melihat beberapa orang mencurigakan mengamati situasi di sekitar hotel.
Saat aku sedang memikirkan jawaban yang ingin ku berikan, sebuah mobil hitam mendekati kami dengan kecepatan tinggi. Aku segera menyuruh Luna berlindung di balik kendaraan kami.
Mobil itu berhenti tepat di depan kami dan pintu pengemudi terbuka. Alvin keluar dengan wajah penuh kemarahan. "Kau tidak akan pernah lolos dariku, Luna!" serunya sambil mencoba menggapai Luna.
Tanpa berpikir dua kali, aku meraih pistol yang ada di pinggangnya dan menodai halaman dengan tembakan peringatan di udara.
"Berhenti! Jangan mendekati kami!" kataku dengan suara tegas dan berusaha menunjukkan keberanian meski dalam hatiku aku merasa gentar.
Alvin, yang kini terlihat cemas, menghentikan langkahnya. "Kamu berani menembakku?"
Aku mengangkat pistolku dengan tegas. "Jika kau mencoba mendekati kami lagi, aku tidak akan ragu untuk menembakmu."
Alvin menggeram marah namun melihatku dengan ekspresi ragu. Setelah itu, ia berbalik dan masuk ke mobilnya. Dalam sekejap, mobil itu pergi dengan cepat meninggalkan kami.
Luna menatapku dengan tatapan campuran kagum dan terima kasih. "Kau luar biasa, aku tidak tahu bahwa kamu mampu melakukan semua ini."
__ADS_1
Sejujurnya, sempat terbesit dalam pikiranku untuk menembak Alvin. Dia adalah kakakku, tapi dia pasti tidak akan mengenaliku sekarang. Aku sangat membencinya dan jelas sekali dia sudah menjadi orang yang berbeda dengan sosok kakak yang kukenal.
Aku pun meraih tangan Luna dan mengatakan bahwa dia sebaiknya tinggal di rumahku untuk sementara.
“Baiklah," jawab Luna setuju dengan usulku.
Saat kami tiba di rumah, aku membukakan pintu dan mempersilahkan Luna masuk. Aku merasa senang memiliki keberanian untuk melindunginya dari bahaya, meski yang sejatinya justru menyebabkan bahaya tersebut.
Kami bergegas masuk ke dalam rumah dan aku mengunci pintunya dengan hati-hati. Aku memastikan bahwa kami aman sebelum beristirahat sejenak di ruang tamu. Luna meluapkan rasa terima kasihnya sekali lagi dan aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
Kami duduk berdampingan di sofa, sambil menikmati secangkir teh hangat yang aku sajikan. Suasana yang tadinya tegang perlahan mencair, dan aku merasa lega bahwa aku bisa memberikan perlindungan untuk Luna.
Kemudian, Luna kembali mengucapkan terima kasihnya seraya memelukku. Aku membalas pelukannya dengan hangat, merasakan kebahagiaan dan kelegaan meliputi diriku. Perasaan ini begitu nyaman, seperti ada sesuatu yang bertambah dalam ikatan kami.
Kami saling berpandangan, dipenuhi rasa kasih sayang yang luar biasa. Aku benar-benar merasakan bahwa Luna percaya padaku, bahwa aku adalah tempatnya untuk mencari perlindungan dan keamanan.
Dalam pelukan yang hangat, aku merenungkan betapa berharganya momen ini. Meski kami telah mengalami banyak rintangan dan bahaya, kami berhasil menemukan kekuatan bersama dan melindungi satu sama lain.
"Prince, aku masih takut. Maukah kau menemaniku tidur malam ini?" kata Luna dengan suara lemah.
Tersentuh oleh kelemahlembutan suaranya, aku menjawab dengan lembut, "Tentu, Luna. Aku akan selalu ada di sampingmu, melindungimu."
Kami beranjak dari tempat kami dan berjalan bersama menuju kamar tidur. Aku menggenggam tangan Luna dengan erat, memberikan kekuatan dan kenyamanan bagi dirinya.
Sesampainya di kamar, aku membantu Luna menyiapkan dirinya untuk tidur. Aku mengatur selimut dengan hati-hati, memastikan bahwa dia akan merasa nyaman dan aman.
Ketika dia berbaring di tempat tidur, aku duduk di sampingnya, mengusap lembut rambutnya. Tatapanku penuh keterpautan, kuat menunjukkan rasa cinta dan keamanan yang kurasakan padanya.
"Luna, jangan khawatir. Kau tidak sendiri lagi. Aku di sini untukmu. Aku akan melindungimu dengan segala yang ku miliki," ucapku dengan suara yang hangat dan penuh kasih sayang.
Pandangan Luna tersirat harapan dan kelegaan. Kedua matanya perlahan-lahan ditutup, menandakan bahwa dia merasa aman dan siap untuk tidur.
Aku duduk di sisinya, tetap menggenggam tangannya dan menjaga dia, memastikan bahwa dia tidur dengan tenang. Aku merasa bahagia dan bersyukur memiliki kekuatan untuk melindungi dan mencintainya.
Di dalam hati, aku berjanji untuk selalu menjadi tempat yang aman bagi Luna, untuk melindunginya dengan sepenuh hati. Aku berharap saat-saat indah seperti ini akan terus berlanjut, menjadi saling menguatkan dan memperkuat ikatan di antara kami.
__ADS_1
Bersambung.