Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova

Rahasiaku Menjadi Aktor Cassanova
Episode 37


__ADS_3

Saat ini ruang guru sedang sepi, tapi Nayla tiba-tiba menyatakan perasaannya.


"Tidak, Nayla. Aku adalah gurumu dan kamu masih sangat muda," jawabku bingung.


"Pak Rio, sebentar lagi aku akan segera lulus. Aku harap kita bisa menikah," ujar Nayla.


Aku sendiri memang sangat menyukainya. Selain sebagai gadis tercantik di sekolah ini, Nayla juga murid yang sangat pintar dan baik.


Ketika Nayla tiba-tiba duduk di pangkuanku, aku tidak menolaknya dan kami pun tanpa sadar sudah berciuman dengan hangat.


Rasanya seperti ada ledakan emosi yang meletup di dalam diri kami.


Aku merasa terkejut dengan perubahan suasana yang begitu cepat, namun juga merasakan rasa bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


Namun, sesaat setelahnya, aku langsung tersadar dengan tindakan yang kami lakukan.


Aku menyadari bahwa ini adalah tindakan yang tidak etis dan tidak professional sebagai seorang guru. Kami berdua harus menghentikan ini segera.


"Dilarang! Ini tidak boleh terjadi," kataku, mencoba menghentikan keintiman yang terjadi di antara kami. "Kamu adalah muridku, Nayla. Dan aku adalah gurumu. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini."


Nayla nampak kecewa dan terkejut dengan kata-kataku. Ia mungkin tidak menyangka bahwa aku akan bereaksi sedemikian keras.


Namun, aku tahu, ini adalah keputusan yang tepat. Aku tidak ingin mengorbankan karirku, integritasku sebagai guru, dan masa depan Nayla karena kesalahan yang tidak seharusnya kami lakukan.


"Tapi, Pak Rio, aku mencintaimu. Aku tahu ini mungkin salah, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku," ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tahu kamu mungkin ragu, tapi kita tidak boleh melanjutkan ini. Kita harus menghormati peraturan dan etika profesional. Lebih baik kita berhenti di sini dan tetap menjaga hubungan kami sebagai guru dan murid," ujarku dengan tegas.


Nayla mengangguk, meskipun terlihat sangat tersakiti.


"Cut!" potong Sutradara. "Akting kalian sungguh luar biasa!"


Sutradara dan kru film tampak berseri-seri, tahu bahwa mereka telah mendapat pengambilan bagus. Adegan tersebut begitu alami dan membawa emosi yang kuat.


Meskipun hanya fiksi belaka, aku dan Sintia berhasil menunjukkan bagaimana keputusan moral dan etika dapat mempengaruhi hubungan antara guru dan murid.


Pada saat itu, aku tahu bahwa aku dan Sintia telah berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh skenario ini.


Ini adalah kekerasan dan keputusan moral yang sulit bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tapi tetap penting untuk menghormati etika dan menjaga batas-batas yang tepat.

__ADS_1


Dalam keadaan nyata, mungkin tidak semudah itu untuk mengambil keputusan yang benar, terutama ketika ada perasaan yang mendalam terlibat.


Namun, adegan ini menjadi pengingat bagi mereka dan penonton bahwa integritas dan prinsip akan selalu menjadi prioritas utama.


Disela-sela waktu istirahat aku mencoba mengobrol dengan Sintia. Aku ingin meminta maaf tentang hal kemarin dan membahas tentang adegan kami selanjutnya.


Tampaknya Sintia tidak memikirkan apa yang sudah terjadi kemarin, tapi dia masih berusaha menunjukkan soal perasaannya yang tulus.


Waktu untuk adegan syuting selanjutnya pun dimulai. Aku dan Sintia akan akting di kolam renang.


Kali ini, kami juga akan kembali mengambil adegan yang cukup intim.


Ketika kamera sudah siap, Sintia langsung merangkulku mengikuti skenario. Meski pun kami sedang berendam di air kolam renang, aku dapat merasakan suhu hangat tubuhnya.


Ketika kami saling merangkul, aku berbisik pada Sintia. "Ini hanyalah akting, jadi kita harus profesional."


Aku tidak tahu mengapa alur ceritanya seperti ini, tapi aku harus tetap mengikutinya dan mulai melakukan adegan panas tersebut.


Ketika kami saling rangkul di kolam renang, aku dan Sintia mulai berciuman kembali.


Adegan tersebut memang terasa intens, tapi kami berusaha menjalankannya dengan penuh profesionalisme.


Kami berusaha menghidupkan karakter yang sedang kami perankan, meskipun sebenarnya hanya akting belaka.


Walau tubuh kami terendam dalam air, kami tetap fokus pada setiap detail agar adegan terasa sejalan dengan skenario.


Namun, Night tiba-tiba mengambil kendali atas tubuhku lagi. Entah bagaimana caranya, tapi aku dan Sintia malah menjadi beneran bersatu.


Sutradara tidak menghentikan kami karena mengira semua itu karena kemampuan kamilah yang membuat adegannya begitu realistis.


Sintia tampak menikmati setiap momen yang kami habiskan bersama di dalam air. Sintia dengan senang hati menyerahkan dirinya padaku, seperti seekor burung yang terbang bebas di langit.


Kami berdua terpesona dengan kehangatan dan kelembutan air. Sintia tersenyum, matanya berbinar, dan terserap dalam suasana romantis yang kami ciptakan.


Kolam renang ini menjadi saksi bisu hubungan kami yang tak terucapkan.


Kita bermain-main dengan sentuhan dan ciuman yang penuh gairah.


Di bawah permukaan air, sinar matahari telah membuat warna-warni yang cantik dan menawan.

__ADS_1


Sintia terlihat seperti bidadari yang terlelap dalam pelukanku. Dia merasakan setiap denyutan jantungku yang semakin kencang, menyatu dengan irama yang kami ciptakan dalam air.


Sintia menyuarakan isi hatinya dalam tatapan matanya yang penuh gairah. "Akhirnya kamu tidak menahan diri lagi dan mau menerimaku."


Kami terus mengalir bersama air, menyatu dalam kedamaian dan keintiman.


Rasanya hanya ada Sintia, aku, dan kolam renang ini. Seakan saat ini tidak ada yang lain yang penting saat ini, kecuali hubungan kami yang begitu kuat dan intim.


"Cut!" ujar Sutradara, bersamaan dengan permainan kami yang akhirnya mencapai puncaknya.


Semua orang tampak senang karena mengira aku dan Sintia berakting dengan sangat baik. Karena posisinya berada di dalam air kolam renang, mereka tidak tahu bahwa kami berdua sudah lagi tidak berakting belaka.


Syuting hari ini telah selesai dan semua orang telah berbenah untuk meninggalkan lokasi syuting. Namun, aku dan Sintia melanjutkan hal yang tadi di ruang ganti.


Aku sudah tidak peduli lagi apakah masih dalam pengaruh Night atau tidak.


Di ruang ganti, aku dan Sintia sudah tidak menahan diri lagi.


"Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama," ungkap Sintia yang saat ini berada di bawahku.


"Aku pun demikian," jawabku yang sudah melepas semua pakaian kami.


Kami berdua saling menyentuh dan merasakan keintiman yang luar biasa. Kami menikmati setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap erangan kenikmatan yang kami rasakan bersama.


Kami terus bergerak dengan penuh gairah dan keinginan yang membara.


Tak ada yang bisa menghalangi hasrat kami saat ini. Kami merindukan untuk saling memiliki dan menciptakan momen yang tak terlupakan.


Tubuh kami berdua saling menempel, berpadu dalam satu irama. Kami saling melengkapi, melupakan segala rasa malu dan menyerahkan diri sepenuhnya pada keinginan ini.


Waktu berlalu dengan cepat. Kami saling merasakan puncak kenikmatan yang sama-sama membawa kami ke surga.


Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa indahnya momen ini. Kami merasa begitu lengkap dan puas.


"Aku sangat bahagia," ucap Sintia dengan matanya sudah berair.


"Aku juga sangat senang. Meskipun kamu masih muda, kamu mampu mengimbangi permainanku," ungkapku seraya mencium keningnya.


Setelah itu, tak ada penyesalan yang muncul di antara kami. Kami berdua tahu bahwa apa yang terjadi di ruang ganti ini akan menjadi kenangan yang tak akan pernah kami lupakan.

__ADS_1


Dan kami berjanji untuk mempertahankan hubungan ini dengan segala yang kami miliki.


Bersambung.


__ADS_2