
Selama proses produksi, Anita pun tahu bahwa aku harus mengutamakan karir dan fokus sepenuhnya pada film ini. Meskipun begitu, kami berdua saling mendukung dan berkomitmen untuk menjaga hubungan kita tetap profesional dan tidak membiarkan perasaan pribadi mengganggu tujuan karir masing-masing.
Setiap hari, kami berdua menjalani latihan akting yang intensif dan mempelajari karakteristik masing-masing untuk memahami bagaimana kami dapat memerankan pasangan ini dengan baik di layar. Dalam proses ini, aku semakin mengagumi Anita dan menghargai kerja kerasnya sebagai seorang aktris.
Tiba-tiba, kabar tentang hubunganku dengan Anita tersebar di media dan membuat sorotan publik yang intens. Kami berdua terkejut dengan reaksi yang begitu besar, tetapi kami berkomitmen untuk tetap fokus pada pekerjaan kami dan tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain.
Kami berdua menyadari bahwa industri hiburan adalah dunia yang penuh dengan gosip dan intrik, dan kami memiliki tugas untuk melindungi privasi kami. Kami memutuskan untuk tidak memberikan pernyataan resmi tentang hubungan kami, dan berusaha untuk menjaga profesionalisme di depan umum.
Namun, di balik layar, kami berdua merasa bahagia dapat berada dalam hubungan yang saling mendukung dan memahami. Kami mendiskusikan perasaan kami secara terbuka dan mencoba untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kami.
Jadi, kami tetap fokus pada tujuan karir kami dan berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam proyek ini.
Dalam proses produksi, kami berhasil membawakan karakter kami dengan baik di layar. Kekompakan kami sebagai pasangan di film ini tercermin dalam kemampuan kami untuk membangun chemistry yang kuat. Meskipun ada berbagai rintangan dan tekanan dari media, aku dan Anita berhasil menghadapi semuanya dengan matang. Kami dapat memisahkan kehidupan profesional kami di lokasi syuting dari kehidupan pribadi kami di luar sana.
Namun, keluarga Van Walton, keluarganya Anita, yang merupakan keluarga terkaya di negara ini, mulai mendesak kami untuk segera meresmikan hubungan kami.
“Maafkan aku ya, Prince. Semua ini adalah salahku karena meminta bantuan kamu untuk pura-pura menjadi kekasihku," ungkap Anita merasa bersalah.
Aku memegang tangan Anita dengan lembut. "Tidak, ini bukan kesalahanmu, Anita. Kita berdua melakukan ini sebagai tim. Aku tahu bahwa media dan tekanan dari keluargamu telah menempatkan kita dalam situasi sulit ini, tapi kita akan melaluinya bersama-sama."
Anita menatapku dengan wajah penuh keraguan. "Tapi bagaimana dengan desakan keluargaku agar kita menikah? Aku tidak ingin kau terjebak dalam pernikahan yang hanya didasari pada pengaruh dan kepentingan mereka."
Aku pun mengelus pipinya dengan lembut. "Tenanglah, Anita, kita sudah berhasil sejauh ini. Aku akan terus membantumu apa pun yang terjadi ke depannya."
__ADS_1
Keluarga Van Walton akhirnya mengumumkan tentang pertunangan kami setelah Anita mengatakan bahwa kami berdua memutuskan untuk bertunangan terlebih dahulu.
Mereka pun mengundang seluruh keluarga dan teman-teman dekat untuk sebuah acara perayaan pertunangan di rumah keluarga Van Walton. Acara tersebut menjadi momen yang penuh kegembiraan dan keceriaan bagi semua orang yang hadir.
Meskipun sebenarnya tidak ada yang tahu aku dan Anita hanya berpura-pura bertunangan, tetapi segala persiapan acara tersebut memang dilakukan dengan serius. Pernikahan palsu ini diatur dengan begitu rapi dan dihiasi dengan keindahan yang sangat nyata. Kami menyewa perencana acara profesional untuk mengurus semua detailnya, mulai dari dekorasi, makanan, baju pengantin, hingga hiburan.
Acara dimulai dengan kata sambutan dari kedua keluarga yang menyampaikan kegembiraan mereka dan harapan agar kami berdua memiliki kehidupan yang bahagia bersama. Kemudian, di antara kami dipasangkan cincin pertunangan palsu yang dipersiapkan sebelumnya.
Selama acara berlangsung, kami berdua berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain. Kami berpose dengan senyum kebahagiaan di setiap sudut ruangan, berdansa bersama di tengah-tengah kerumunan yang riuh.
Namun, di balik senyum dan tawa yang kami tunjukkan, ada perasaan bertentangan yang menghantui pikiran kami. Kami berdua sadar bahwa ini hanyalah sebuah drama yang kami ciptakan untuk menyenangkan orang-orang di sekitar kami. Tapi apa yang kami teruskan membuat hubungan kami semakin rumit.
Sebenarnya, aku dan Anita menyadari bahwa pura-pura bertunangan tidak akan lama bertahan. Masa depan kami masih belum jelas. Kami harus mengambil keputusan yang mengarah pada arah yang benar, meskipun hal itu mungkin mengecewakan banyak orang.
"Apa yang kamu inginkan, Luna?" tanyaku dengan hati-hati, mencoba menenangkan suara gugup dalam diriku.
Suara di seberang telepon terdengar bergetar. "Aku ingin tahu mengapa kamu melakukan ini, Prince?"
Selain dengan Anita, aku memang masih menjalin hubungan yang baik dengan Luna dan Maya.
“Baiklah, Luna, bisakah kita bertemu? Aku ingin menjelaskan semuanya padamu secara detail. Aku ingin memberikan penjelasan dan meminta maaf jika ada kesalahpahaman yang terjadi. Apakah kamu bersedia memberiku kesempatan untuk itu?" jawabku.
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe yang tenang di tengah kota pada hari Minggu mendatang. Aku senang dia bersedia memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya dan berdamai.
__ADS_1
“Jadi, kamu hanya membantu Anita untuk pura-pura menjadi kekasihnya?” Luna mengangguk perlahan sambil menatapku dengan penuh kekhawatiran. "Ya, benar. Anita meminta tolong padaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya agar keluarganya tidak terus mendesaknya menikah."
Aku merasa sedikit canggung dan bersalah karena telah menyembunyikan ini darinya sejak awal. "Aku minta maaf, Luna. Aku tahu ini tidak pantas dan bodoh, tapi Anita adalah sahabatku dan dia sangat terpuruk karena tekanan keluarganya.”
Luna menatapku dengan pandangan tajam, tetapi kemudian wajahnya melunak. "Sungguh, kamu bodoh, tapi hatimu benar-benar baik, kan?" Luna berkata dengan senyum lembut.
Aku merasa lega mendengar itu dan tersenyum balik kepadanya. "Terima kasih, Luna. Aku tahu ini tidak etis, tapi aku berusaha membantu temanku sebaik mungkin."
Luna menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu meminta maaf padaku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu bisa jujur pada teman-temanmu. Ada banyak cara untuk membantu seseorang tanpa harus berbohong."
Perlakuan Luna membuatku merasa bersyukur atas kehadirannya dalam hidupku. Apa pun yang terjadi, aku harus belajar dari kebaikan hatinya dan menjadi lebih baik di masa depan.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Luna pun meminta agar diantar pulang. Tentu saja, aku pun mengantar Luna pulang. Ketika kami tiba di depan rumahnya, Luna mengucapkan terima kasih atas segalanya dan berkata bahwa dia sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan ku. Aku memberikan senyuman dan mengatakan bahwa aku pun merasa sama.
Namun, Luna meminta dan memaksa agar aku mampir ke rumahnya. Aku pun mengangguk dan mengikuti Luna masuk ke dalam rumahnya. Rumah Luna terlihat hangat dan nyaman. Kami duduk di ruang keluarga, sambil minum teh dan melanjutkan percakapan kami.
Luna bercerita lebih banyak tentang kehidupannya, hobinya, dan impian-impiannya. Aku pun berbagi cerita-cerita seru dari kehidupanku juga. Kami tertawa dan saling mengenal lebih dalam.
“Ah, jadi kamu suka mengkoleksi barang-barang seperti buku dan karya seni seniman terkenal," ucapku kagum.
Tiba-tiba, Luna menyampaikan satu permintaan lagi.
Bersambung.
__ADS_1