
Aku pun mulai melepas bajuku dan menggaruk punggungnya dengan lembut. Kami saling membantu melepas pakaian satu sama lain, sementara sentuhan dan ciuman semakin intens.
"Akan kubuat kamu tidak bisa tidur malam ini," bisikku di telinganya.
Tubuh kami semakin terjalin dalam gairah dan nafsu yang tak tertahankan. Anita mengerang dalam kenikmatan saat aku menyentuh dan merayap di sepanjang tubuhnya.
Setiap sentuhan dan rabaan yang kami berikan satu sama lain, hanya menambah gairah yang semakin meledak.
Kami terus bersatu dalam kehangatan dan aliran sentuhan sensual. Anita memohon padaku untuk mengambil kendali, dan aku dengan senang hati memenuhi keinginannya.
"Baiklah, Sayang. Jika bayi kita nanti adalah perempuan, aku yakin dia akan sangat imut seperti kamu," ucapku seraya sedikit merapatkan tubuhku.
"Aku mulai ya, Sayang," lanjutku, dan Anita hanya mengangguk pasrah.
Aku pun memasukkan diriku ke dalamnya dengan lembut, mengisi dirinya dengan cinta dan keinginan kami.
Perlahan-lahan, kami bergerak dalam irama yang sempurna, saling menggali kenikmatan satu sama lain.
Tak ada kata-kata yang perlu diucapkan, tubuh kami saling berbicara dengan bahasa keintiman yang hanya kami yang pahami.
Kami terus bergairah, mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.
Magic moment itu semakin dekat, dan saat itu tiba, kami melepaskan diri dalam ekstase dan kepuasan yang tak tergambarkan.
Kami berpelukan erat, merasakan kehangatan dan kebersamaan yang hanya bisa ditemukan satu sama lain.
"Tapi Sayang, aku ingin anak laki-laki agar dia bisa menjadi pewaris keluarga Walton dan setampan dirimu," ucap Anita sambil memelukku makin erat.
Namun sebenarnya, Anita dan aku hanya menginginkan satu hal setelah ini, yaitu keluarga yang bahagia dan anak-anak yang akan melengkapi hidup kami.
Kami tahu bahwa perjalanan menuju memiliki anak bukanlah hal yang mudah, namun kami berjanji untuk bersama-sama melaluinya.
Keinginan kami untuk menjadi orang tua akan menggerakkan langkah-langkah kami berikutnya.
Dalam pembicaraan dan rencana kami, kami menyadari bahwa punya anak adalah tanggung jawab besar.
Kami harus siap secara fisik dan mental untuk menghadapi setiap perjalanan yang akan kami lalui.
"Luna, apa kau akan terus sembunyi di sana?" ujarku menyadari Luna yang mengintip dari belakang pintu.
__ADS_1
Luna mungkin terkejut, tetapi dia akhirnya membuka pintu untuk menunjukkan dirinya.
"Tak apa, Luna. Masuklah dan bergabung dengan kami," ujar Anita yang tidak keberatan dengan kemunculan Luna.
Luna ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya dia masuk dan duduk bersama kami. Meskipun awalnya Luna merasa canggung, kami berusaha untuk menciptakan lingkungan yang hangat dan terbuka.
"Sayang, sepertinya kamu sudah basah juga," ucapku membuatnya sedikit malu.
Tanpa Luna sempat menjawab, aku langsung mendorong dan menindih tubuhnya ke tempat tidur.
"Sayang, apakah kamu tidak lelah?" tanya Luna terkejut.
"Apakah terlihat lelah?" jawabku menunjukkan bahwa aku masih belum puas.
Akhirnya, Luna hanya pasrah dan membiarkan aku untuk melanjutkan. Aku mulai mencium bibirnya yang halus dan lembut, dan tanganku mulai menyusuri tubuhnya.
Luna mengecap bibirku dengan gairah, membalas setiap kecupan yang kuberikan dengan keinginan yang sama.
Kami saling memeluk erat, cinta dan keinginan tak terbendung antara kami.
Sementara, Anita hanya tersenyum dan berusaha mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal-sengal.
"Hey, Luna. Bagaimana perasaanmu? tanya Anita sedikit menggodanya.
"Ini sedikit memalukan, tapi ..." Ucapan Luna terhenti karena aku membenamkan diriku dalam-dalam.
Luna itu bertubuh mungil. Meski usianya sudah 20 tahun, tapi dia masih terlihat seperti anak kecil.
Tingginya hanya sekitar 150 cm dan beratnya kurang dari 40 kg. Meskipun memiliki tubuh yang kecil, Luna memiliki energi dan semangat yang cukup besar.
Wajah Luna juga terlihat imut dengan pipi yang sedikit tembam dan mata yang besar. Rambutnya yang panjang dan lembut selalu terurai dengan rapi, membuatnya terlihat lebih feminim.
Dia suka mengenakan pakaian yang lucu dan berwarna cerah, sehingga penampilannya selalu mencuri perhatian.
Namun, malam ini Luna sedang memakai baju piyama kemeja putih polos. Ini memberi daya tarik tersendiri untukku. Sebelumnya, aku bahkan sempat memintanya memakai seragam sekolah demi kepuasan pribadiku.
Kemudian, mata kami bertemu, dan aku melihat senyum lembut menghiasi wajahnya. Kami berbaring berdampingan, merasakan denyutan-denyutan yang masih tersisa di tubuh kami.
Anita di sebelah kiri dan Luna di sisi satunya. Setelah beristirahat sejenak, kami bertiga melanjutkan sampai akhirnya benar-benar puas dan kemudian tidur.
__ADS_1
Di pertengahan, suara Night samar-samar selalu terdengar di dalam pikiranku. Dia mengatakan bahwa semua ini berkat kekuatannya sehingga aku sanggup melayani wanita-wanitaku dengan sangat memuaskan.
Esok harinya, aku bangun cukup siang. Sementara, Luna dan Anita sudah bangun dan menjalankan aktifitasnya masing-masing.
Aku melihat jam dan itu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku tidak terlalu khawatir karena hari ini pekerjaanku hanya menghadiri syuting film terbaruku dan itu sejam lagi.
Meski aku sekarang menjabat sebagai CEO perusahaan, tetapi aku masih diberi keringanan untuk bisa tetap melakoni karirku sebagai aktor.
Setelah aku siap berangkat ke lokasi syuting, aku berpamitan dengan ketiga istriku yang sedang mengasuh bayi kami.
Nama bayi kami adalah Devan Vladimir, sesuai nama belakang dari keluarga Maya yang sebenarnya adalah putri dari seorang tentara veteran Rusia, Ivan Vladimir.
"Selamat siang, Tuan Prince. Apa kita siap berangkat?" sapa Hana, sudah menunggu di depan rumahku.
Begitu kami sudah masuk dan duduk di kursi mobil, Hana sedikit menggodaku sehingga aku pun langsung mencium bibirnya.
"Tuan Prince, kita harus segera berangkat. aku harus fokus menyetir," kata Hana sambil tersenyum nakal.
Aku tersentak kaget dan segera melepaskan ciuman tersebut. "Maafkan aku, Hana. Aku terlalu terbawa suasana."
Hana tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Tuan Prince. Tapi kita harus berangkat sekarang agar tidak terlambat."
Aku mengangguk dan Hana segera menghidupkan mesin mobil. Kami pun melaju meninggalkan rumahku menuju tujuan kami.
Hana adalah gadis blasteran Amerika. Rambutnya pirang dan panjang. Matanya biru seperti langit. Kulitnya putih dan bersinar. Dia adalah gadis yang cantik dan menawan.
Hana memiliki senyum yang manis dan sikap yang ramah. Dia sangat jago berbahasa Inggris dan Indonesia.
Setiba di lokasi tujuan, aku masih penasaran dan kembali mencoba mencium Hana. Kali ini, Hana tidak menolak dan membalas ciumanku dengan penuh gairah.
Kami terlibat dalam ciuman yang semakin dalam dan intens. Rasanya seperti dunia hanya terdiri dari kita berdua saat itu.
Detak jantungku semakin cepat, menggambarkan keinginan yang tak terbendung.
Dalam kehangatan ciuman kami, aku merasakan kelembutan bibir Hana yang membuatku semakin terpesona. Bagaimana mungkin aku bisa begitu tergila-gila padanya dalam waktu yang singkat?
Setelah beberapa saat, kami berhenti ciuman dan saling menatap dengan napas tersengal-sengal. Kemudian, Hana menggenggam tanganku erat dan berkata dengan lirih, "Tuan, masih ada pekerjaan hari ini dan kita bisa melanjutkannya nanti."
Aku mengangguk dan kami pun segera merapikan pakaian kami kembali sebelum keluar dari mobil.
__ADS_1
Bersambung.