
Aku pergi ke rumah Tuan Van Walton setelah kembali dari Paris. Setelah meminta izin untuk masuk, aku duduk di kursi di depannya yang ditempatkan dengan rapi di ruang tamu mereka. Tuan Van Walton, seorang pria tua dengan rambut putih dan sorot mata tajam, memandangku dengan ramah.
"Selamat sore, Tuan Walton," sapaku dengan hormat. "Saya berharap Anda memiliki waktu untuk berbicara dengan saya."
Tuan Walton tersenyum dan mengangguk. "Tentu, silakan duduk," jawabnya, menunjuk ke kursi di dekatnya. "Oh iya, bagaimana liburanmu dengan Anita?"
Aku tersenyum dan mengangguk. "Ya, sangat menyenangkan. Paris adalah kota yang indah dan kami memiliki waktu yang luar biasa bersama. Aku dan Anita sangat terkesan dengan Menara Eiffel dan Louvre."
Tuan Walton tersenyum, mengingat masa mudanya. "Ahh, Paris, kota yang memikat. Saya juga memiliki kenangan yang indah di sana saat saya muda. Bagaimana pengalamanmu mengunjungi sepanjang waktu di Paris?"
"Saya sangat menikmati mengunjungi landmark seperti Menara Eiffel dan Louvre. Kami juga mencoba berbagai makanan khas Prancis yang lezat. Tetapi yang paling berkesan adalah merasakan kehidupan budaya dan seni di sana. Ada begitu banyak pameran seni dan pertunjukan yang mengagumkan."
Tuan Walton tertarik dengan ceritaku dan bertanya, "Apakah ada hal lain yang menarik tentang perjalananmu? Bagaimana dengan orang-orang di Paris?"
"Saya menemukan orang-orang di Paris ramah dan hangat. Saya merasa sangat diterima dan mereka bersedia membantu ketika saya membutuhkannya. Meskipun sempat ada sedikit kesulitan bahasa, kita masih bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan senyum."
Tuan Walton mengangguk setuju. "Orang Prancis memang dikenal dengan keramahan mereka. Saya senang Anda memiliki pengalaman yang menyenangkan di sana. Apakah ada hal lain yang ingin Anda ceritakan tentang perjalanan Anda?"
"Saya juga menjelajahi daerah sekitarnya seperti Versailles dan Montmartre. Versailles adalah istana yang luar biasa indah, dan Monmartre memiliki pesona khusus dengan seniman jalanan dan kafe-kafe yang menyenangkan. Kami benar-benar menikmati jelajah dan mengetahui lebih banyak tentang sejarah dan budaya Prancis."
Tuan Walton mengangguk penuh minat. "Itu semua terdengar menakjubkan. Saya senang kamu menikmati liburanmu di Paris dan memiliki pengalaman yang begitu beragam."
__ADS_1
"Terima kasih telah mendengar dan mendiskusikan perjalanan saya. Saya senang dapat berbagi pengalaman ini dengan Anda."
Setelah percakapan kami tentang Paris yang menyenangkan, saling bertukar cerita dan kenangan. Aku mulai berbicara dengan hati-hati. "Seperti yang Anda ketahui, Anita dan aku telah bertunangan dalam waktu yang cukup lama. Tapi, setelah perjalanan ke Paris baru-baru ini, aku merasa perlu untuk fokus terlebih dahulu sebelum kita menikah."
Tuan Walton mengangguk, mengerti. "Jadi, apa yang ingin kamu fokuskan, Nak?"
"Aku ingin fokus pada pekerjaan dan karierku," jelasku. "Aku merasa masih ada banyak hal yang harus aku capai dan pelajari sebelum aku benar-benar siap untuk menikah dan menjalani kehidupan bersama Anita."
Tuan Walton meletakkan tangannya di pangkuannya dan memikirkan kata-kataku sejenak sebelum dia akhirnya mengangguk. "Aku mengerti perasaanmu, Nak. Menjadi fokus pada diri sendiri dan masa depanmu adalah hal yang penting. Jika kamu merasa belum siap, maka kamu berhak untuk mengambil waktu yang kamu butuhkan."
Aku merasa lega mendengarnya. "Terima kasih, Tuan Walton. Aku khawatir bahwa keputusan ini mungkin mengecewakan Anita dan keluarga Anda."
Tuan Walton tersenyum lagi. "Anita adalah cucuku yang paling kuat dan bijaksana. Aku yakin dia akan mendukungmu sepenuhnya dalam keputusanmu ini. Dan sebagai kakeknya, aku akan mendukungmu juga."
Aku menghubungi Maya untuk mengatur jadwal pertemuan kami. Kami berdua sepakat untuk bertemu di sebuah studio rekaman yang telah kami booking sebelumnya. Kami tiba di studio dengan semangat tinggi, siap untuk merekam lagu yang telah Maya ciptakan.
Kami duduk bersama di ruang kontrol, mendengarkan lagu yang telah direkam sebelumnya. Maya memperlihatkan keahliannya dalam mencipta lagu, dengan melodi yang indah dan lirik yang menyentuh hati. Aku benar-benar terkesan dengan karya-karya Maya dan merasa terhormat bisa menjadi bagian dari proyek ini.
Setelah mendengarkan lagu-lagu yang ada, kami mulai membahas bagaimana cara kami akan menyampaikan lagu ini secara terbaik. Kami berdiskusi mengenai gaya vokal, harmoni, dan aransemen musik yang akan digunakan. Kami saling memberikan masukan dan saran satu sama lain, untuk mencapai hasil yang maksimal.
Kami kemudian memasuki ruang rekaman dan mulai merekam lagu. Aku merasa gugup pada awalnya, namun dengan bantuan Maya yang memberikan semangat dan dukungan, aku bisa mengatasi rasa gugup tersebut. Kami saling menginspirasi satu sama lain saat merekam, mencoba memberikan emosi yang tepat sesuai dengan lirik lagu.
__ADS_1
“Suara kamu memang sangat bagus, Prince," kata Maya.
Aku tersenyum malu mendengarnya. "Terima kasih, Maya. Tapi aku masih perlu banyak belajar untuk bisa sehebatmu."
Maya menggelengkan kepala. "Tidak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain, Prince. Setiap orang memiliki keunikan dan keistimewaannya sendiri dalam bermusik. Yang penting adalah kamu menyalurkan emosimu dengan sungguh-sungguh saat menyanyikan lagu ini."
Aku mengangguk, memahami apa yang Maya maksudkan. Bersama-sama, kami terus merekam lagu dengan penuh semangat dan dedikasi. Setiap kali kami mendengar ulang rekaman, kami memberikan masukan satu sama lain untuk meningkatkan kualitas lagu.
Beberapa jam kemudian, kami akhirnya selesai merekam lagu. Kami duduk bersama di ruang kontrol, menunggu hasil mix dan mastering selesai. Sambil menunggu, Maya menepuk bahuku dengan penuh kebanggaan.
"Apa yang kamu lakukan di sini benar-benar luar biasa, Prince," katanya dengan tulus. "Aku yakin lagu ini akan menjadi sesuatu yang istimewa."
Aku tersenyum lebar mendengarnya. Maya tidak hanya memberikan semangat dan dukungan, tetapi juga membuatku percaya pada kemampuanku sendiri. Bersamanya, aku merasa lebih berani untuk mengeksplorasi bakatku di dunia musik.
Ketika hasil mastering selesai, kami mendengarkan lagu tersebut bersama-sama. Suasana ruang rekaman diisi dengan emosi dan kebanggaan. Lagu itu terdengar sempurna dengan lirik yang mengena dan vokal yang penuh dengan nuansa.
"Kita berhasil, Prince," kata Maya dengan mata berbinar. "Kita membuat sesuatu yang begitu spesial."
Hari-hari berikutnya, kami berdua sibuk dengan kesibukan masing-masing. Namun, kami selalu mencuri waktu untuk melanjutkan proses rekaman lagu ini. Kami menghabiskan malam-malam di studio rekaman, mencoba mencapai hasil yang sempurna.
Akhirnya, lagu ini siap untuk dipublikasikan dan dibagikan kepada dunia. Kami berharap lagu ini bisa diterima dengan baik oleh pendengar dan menjadi monumen kebersamaan kami. Dengan ini, aku benar-benar merasa terpenuhi karena telah berhasil melanjutkan rencanaku untuk berduet dengan Maya dan membawakan lagu ciptaannya.
__ADS_1
Namun, setelah cukup lama terlihat menahan diri, akhirnya Maya mulai bertanya tentang hubunganku dengan Anita.
Bersambung.