
Esok harinya, ketika aku bangun, Maya sudah tidak ada di sampingku. Dia sudah pergi pagi-pagi sekali dan meninggalkan secarik kertas berisi pesan. "Prince, terima kasih sudah menyelamatkan aku kemarin. Namun, aku memutuskan untuk kembali ke keluargaku. Aku rasa kembali ke tempat keluargaku akan lebih aman dari si bajing*n Alvin itu."
Sungguh, hatiku begitu terpukul saat membaca pesan itu. Aku tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa Maya di sisiku. Tetapi, aku harus menghormati keputusannya. Dalam hati, aku berharap semoga ia tetap aman di tempat keluarganya.
Untuk saat ini, aku sudah merasa lega karena Maya sudah aman, begitu juga dengan Luna yang tinggal bersamaku. Namun, aku mulai khawatir terhadap Anita dan memintanya agar pergi dari tempatnya tinggal sekarang. Aku ingin agar Anita tinggal bersama keluarganya, seperti apa yang dilakukan Maya.
Tiba-tiba, Anita menghubungiku agar aku segera datang ke tempatnya. "Prince, kita tidak bisa menundanya lagi dan harus segera melangsungkan pernikahan kita."
Aku terkejut mendengar kata-kata Anita dan tidak bisa mempercayainya. Aku memang sudah menerima bahwa hubungan kami mulai serius, tetapi aku tidak pernah berpikir bahwa pernikahan akan segera terjadi. Tetapi, aku tahu betapa seriusnya Anita dan betapa pentingnya hubungan kami baginya.
Aku segera merespons Anita, "Anita, aku takut aku belum siap untuk melangsungkan pernikahan. Kita masih harus membicarakannya lebih lanjut."
Anita menghela napas panjang, "Prince, aku mengerti kekhawatiranmu. Tetapi, aku merasa bahwa kita sudah cukup lama bersama dan sudah mengenal satu sama lain dengan baik. Selain itu, kakekku sudah semakin mendesakku agar segera menikah denganmu."
Pernyataannya membuatku terdiam sesaat. Anita memiliki alasan yang masuk akal, dan aku tidak bisa mengabaikan perasaannya. Aku menyadari bahwa mungkin sudah waktunya bagi kami untuk melangkah ke jenjang berikutnya dalam hubungan kami.
Setelah beberapa saat, aku menjawab dengan hati-hati, "Anita, aku mencintaimu dan sangat berharga bagiku. Aku setuju untuk melangsungkan pernikahan kita, tetapi aku juga ingin kita melakukan persiapan dengan baik. Kita harus memikirkan tanggal, tempat, dan semua detail lainnya."
Anita tersenyum dengan senang hati, "Aku bersedia merencanakan semuanya bersama-sama. Yang penting, aku senang bahwa kita akhirnya berada dalam tahap ini. Aku yakin kita akan membuat pernikahan yang indah dan bahagia."
Perasaan lega mulai mengisi hatiku saat aku memperhatikan senyumannya. Meskipun awalnya terkejut, aku yakin bahwa keputusan ini adalah langkah yang tepat untuk kami berdua. Kami berdua telah menemukan cinta sejati dalam satu sama lain, dan saatnya untuk mengabadikannya dalam pernikahan.
Dengan waktu yang telah ditentukan bersama, kami mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kami. Kami bersama-sama menghadapi setiap tantangan dan keputusan dengan kecerdasan dan rasa cinta yang mendalam.
Meski begitu, aku merasa sangat bersalah kepada Luna. Dia masih menganggap aku hanya menjalin hubungan pura-pura dengan Anita. Aku mengatakan akan mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan palsu tersebut.
__ADS_1
Malam harinya, Luna tampak sedikit marah dan cemburu mendengar kabar aku akan menikah dengan Anita. Meski hanya pura-pura, Luna merasa itu sebagai pengkhianatan besar. Dia merasa bahwa aku mendua dan tidak setia padanya. Luna sulit menerima kenyataan bahwa aku memilih untuk menikahi orang lain.
Selama berbulan-bulan, Luna dan aku telah menjalin hubungan yang erat. Kami saling memahami dan saling mendukung. Namun, kehidupan kami berubah ketika Anita tiba-tiba muncul dalam kehidupanku. Luna merasa cemburu dan takut kehilangan aku.
Luna mencoba untuk menyembunyikan kekesalannya, tetapi ekspresi wajahnya yang tegang dan tatapannya yang tajam tidak dapat disembunyikan. Dia terus bertanya tentang hubunganku dengan Anita, mencari tahu apa yang membuatku tertarik padanya. Luna ingin tahu apa yang membuat Anita berbeda dari dirinya.
Aku mencoba menenangkan hati Luna dan meyakinkannya bahwa Anita hanya teman dekat dan tidak ada yang lebih dari itu. Namun, Luna tidak bisa meyakinkan hatinya sendiri. Pandangannya tetap penuh dengan keraguan dan ketidakpercayaan. Dia merasa terancam dan takut kehilangan aku.
Malam itu, Luna akhirnya melepaskan emosinya. Dia mengungkapkan kekecewaannya dan perasaan cemburunya secara terbuka. Dia merasa bahwa aku tidak menghargai hubungan kami dan memilih untuk menikah dengan orang lain. Merasa terluka, Luna menyatakan bahwa dia tidak ingin berbicara denganku untuk sementara waktu.
"Sayang, aku sudah terlanjur melangkah terlalu jauh dan harus bertanggung jawab. Aku tidak keberatan jika kamu memilih untuk mengakhiri hubungan ini," kataku dengan penuh penyesalan di dalam hatiku.
Aku tahu bahwa aku telah menyakiti perasaannya dan membuatnya merasa tidak dihargai. Meskipun aku menjelaskan bahwa keputusanku untuk menikah dengan orang lain bukan berarti aku tidak menghargai hubungan kami, kesalahpahaman itu tetap ada.
"Kamu tahu betapa besar cintaku padamu, Luna. Aku berharap kamu juga bisa memahami situasiku," kataku dengan lembut, berusaha meredakan emosinya yang meledak-ledak.
"Tapi apa artinya cinta jika kamu memilih orang lain?" gumam Luna dengan suara serak, air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak ingin terus-terusan merasakan sakit seperti ini. Aku perlu waktu untuk menyembuhkan diri."
Aku menatap matanya yang penuh luka dengan kebingungan di dalam hati. Aku tidak pernah menginginkan dia merasakan sakit seperti ini, tapi keadaan memaksa.
"Luna, aku benar-benar minta maaf. Jika aku bisa mengubah segalanya, aku akan melakukannya. Tapi, ini adalah pilihan yang berat bagiku juga," kataku dengan suara terguncang.
Dalam diam, kita saling memandang, menyadari bahwa hubungan kita telah terluka parah. Aku tidak tahu apakah kita bisa memperbaikinya atau tidak. Mungkin waktu memang yang bisa menyembuhkan semua luka ini.
Namun, Night tiba-tiba berkata sesuatu dalam pikiranku dan mengatakan akan membantuku.
__ADS_1
Kemudian, Luna akhirnya menerima penjelasan dan permintaan maafku. Dia melihat rasa bersalah di wajahku dan tahu bahwa aku benar-benar menyesal atas perbuatanku. Meskipun masih ada ketidakpastian dalam hatinya, Luna memutuskan untuk mempercayai aku dan memberi kami kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami.
Setelah perdebatan ini, akhirnya aku memeluk Luna dengan erat. Kami berdua merasa lega dan bahagia bahwa kita bisa melampaui masalah kami dan memilih untuk saling memaafkan. Pelukan itu memberi kami perasaan kenyamanan dan kedekatan yang sudah lama hilang.
Dalam pelukan itu, aku merasakan kehangatan tubuh Luna dan mendengarkan detak jantungnya yang tenang. Kami saling bertatap mata dengan penuh kepercayaan dan keyakinan bahwa kami akan bekerja keras untuk membuat hubungan kami lebih baik.
Setelah melengkapi momen yang penuh kedamaian itu, aku menyatakan dengan tulus, "Luna, aku benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi dan aku berjanji untuk melakukan segala yang aku bisa untuk memperbaiki hubungan kita."
Luna tersenyum dan menjawab, "Aku percaya padamu. Tapi kita harus saling mendukung dan menjaga komunikasi terbuka. Kita harus belajar dari kesalahan kita dan selalu berusaha menjadi pasangan yang saling memperkuat dan mendukung."
Aku mengangguk setuju. Kemudian, aku menggendong tubuh Luna ke tempat tidur sambil berciuman dengannya.
Kami berdua menciptakan keintiman yang hangat dan penuh cinta di antara kami. Tiap sentuhan dan kecupan adalah ungkapan dari rasa cinta dan keinginan yang tulus untuk menghidupi hubungan ini.
Saat kami berdua berbaring di tempat tidur, aku menatap wajah Luna dengan penuh kasih sayang. Aku merasa bersyukur bahwa kami masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami yang sempat terguncang.
"Aku ingin kita menjadi pasangan yang saling memahami dan selalu bertahan satu sama lain, Luna," ucapku dengan tulus. "Kita bisa mengatasi setiap rintangan dan masalah asalkan kita berkomitmen untuk saling mendukung dan saling berbicara dengan jujur."
Luna tersenyum dan mencium pipiku lembut. "Aku menyadari bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, tapi aku ingin kita bersama-sama mengatasi setiap halangan dan tumbuh bersama dalam proses itu. Aku percaya kita bisa melakukannya."
Ketika kami berciuman dengan penuh kasih sayang, aku merasakan semangat baru yang membara di dalam diriku. Kami berdua telah melewati masa yang sulit, tetapi kami mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki diri kami sendiri dan hubungan kami.
Dalam pelukan itu, kami menyerah kepada perasaan cinta dan keyakinan bahwa bersama-sama, kita bisa mengatasi segala hal. Kami merencanakan masa depan yang lebih baik dengan harapan bahwa kasih sayang kami akan terus tumbuh dan menguat seiring berjalannya waktu.
Bersambung.
__ADS_1