Rahim Bayaran Satu Miliar

Rahim Bayaran Satu Miliar
CERITA DI BALIK IKAN ASIN BAKAR


__ADS_3

Naya dan juga Karan langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa kantong kresek yang dibelikan Kanaya " Nek, ini Ayah sudah membelikan kalau mau untuk kita masak hari ini " Kata Naya " Karan simpan saja kantong kresek nya di sana " Pinta Naya kepada Karan


" Baiklah " Karan sama menerapkan Tong kresek di atas meja, wajah Karan masih menunjukkan bahwa dirinya masih kesal


" Kenapa kamu beli lauk pauk banyak sekali " Kata Nenek


" Tidak Apa-apa Nek, lagian Naya rindu dengan masakan Nenek " Jawab Kanaya yang mengelus lengan Nenek " tapi aku juga rindu dengan sayuran yang ada di belakang, apa boleh Naya memetiknya? " Tanya Naya


" Boleh Nak, kamu petik lah sayur yang ingin kamu masak " Ucap Nenek


Dengan senang hati Naya langsung pergi ke belakang rumah untuk memetik sayuran, Naya begitu senang ketika dirinya memetik sayuran yang ia suka " Naya "


" Astag! " Naya kaget " Karan ngapain kamu ke sini tiba-tiba bikin aku jantungan saja " Kata Naya


" Aku sengaja kesini karena ada yang ingin aku tanyakan " Bala Karan


" Nanya Apa? " Tanya Naya sambil memetik sayuran


" Siapa pria tadi? Dan kenapa kalian terlihat dekat sekali? " Tanya Karan


Naya tersenyum kecil " Dia Kak Irfan bukanya tadi aku sudah mengenalkan dengan mu " Balas Naya " Jika aku terlihat dekat ya wajar, karena sedari kecil kami sering main bersama bahkan Kak Irfan itu adalah kakak kelas aku " Jawab Naya apa adanya


" Yakin hanya teman, tapi aku lihat dari seperti mengharapkan lebih dari mu " Tuduh Karan


" Apa yang dia inginkan dari wanita hamil ini? " Tanya Naya yang menoleh kearah Karan " Siapa yang mau dengan wanita seperti ku? " Tanya Naya lagi " Apa akan ada pria yang mau menerima ku di saat kondisi ku seperti ini, dan apa akan ada pria yang akan menerimaku jika mereka tau kita menikah karena apa? " Tanya Naya dengan suara serak menahan tangis


" Cukup! " Karan langsung memeluk Naya, Karan tidak bisa melihat Naya menangis hatinya begitu sakit ketika melihat Naya menitihkan air matanya " Maafkan Aku karena aku sudah menuduh mu yang tidak-tidak. Aku hanya cemburu melihat mu bersama pria lain "

__ADS_1


Entah Naya harus bahagia atau tidak mendengar ucapan Karan, mungkin di sebagai wanita pasti akan bahagia karena suaminya cemburu kepada dirinya tapi bagi Naya, Apa harus dia cemburu dengan posisi dia tau jika Suaminya masih memiliki wanita lain? " Karan, Nenek pasti sudah menungguku " Ucap Naya yang menghapus air matanya dan mengulur pelukannya


" Jangan nangis lagi, Maafkan aku karena aku sudah merobek luka yang sudah lama mengering" Ucap Karan


" Bahkan luka yang kamu torehkan saja belum kering Karan, dan mungkin tidak akan pernah kering " Batin Naya


" Iyah, Ayok masuk " Ajak Naya dengan senyum yang ia paksakan


Karan mengecup kening Naya lalu ia meraih tangan Naya. Mereka berjalan kedalam rumah dengan saling bergandengan seolah di antara mereka tidak pernah terjadi keributan.


Nenek langsung memasak sayur yang di petik oleh Naya, Bahkan Nenek juga sudah membakar ikan asin yang di pesan oleh Naya tadi.


Nasi hangat, Ikan asin bakar, Sayur oseng sawi, tahu tempe dan jangan lupa Sambal terasi buatan Nenek yang tidak kalah enak dari sambal terasi buatan restoran.


" Nak Karan, Maaf jika makanan di sini kurang enak di lidah Nak karan " Ucap Nenek kepada Karan


" Kalo begitu Ayok di makan "


" Ayok Karan di makan " Ajak Naya " Ini enak banget loh, apa lagi ikan asin bakar nya " Seru Naya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" Ah baiklah, Aku makan ya " Karan pun dengan ragu memasukan makanan ke dalam mulutnya, pelan namun pasti yang awalnya ragu kini malah Karan yang lahap dengan makanannya " Ini enak sekali Nek, Nenek dapat resep dari mana ikan asin bakar ini? " Tanya Karan


Nenek Tersenyum " Nenek tidak mendapatkan resep dari siapa-siapa, Dulu ketika Naya masih sekolah Nenek harus menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk membeli kebutuhan sekolah Naya, Nah karena Waktu itu nenek sedang ngirit dan Nenek tidak memiliki minyak goreng akhirnya Nenek bakar saja hehehhe.. Dan Untungnya Naya menyukai nya " Curhat Nenek


" Nenek " Lirih Naya


" Hehehe.. Itu sudah berlalu " Balas Nenek

__ADS_1


Karan menatap Nenek lalu menatap istrinya, Ia tidak menyangka jika kehidupan Naya begitu sulit saat itu, sampai-sampai minyak goreng saja tidak terbeli.


" Nek, Apa Nenek tidak ingin ikut bersama kami ke kota? " Tawar Karan


" Kamu serius, Nenek boleh ikut? " Tanya Naya yang antusias


" Tentu boleh, kenapa tidak. lagian di sini juga tidak ada yang menjaga Nenek " Ucap Karan yang merasa tidak tega jika harus meninggalkan nenek seorang diri di sini


" Terimakasih Nak, Tapi Nenek lebih suka tinggal di desa lebih nyaman dan lebih asri. Jika Nenek ke kota, bisa-bisa Nenek tidak akan betah di sana karena tidak terbiasa " Tolak Halus Nenek


Hidup Nenek sudah bahagia karena Melihat Naya sudah bahagia, Apa lagi Nenek melihat jika Karan begitu mencintai Naya membuat Nenek semakin bahagia


 " Tapi Nanti Nenek tidak ada teman disini Nek, nanti siapa yang akan jagain Nenek " Kata Naya


" Kata siapa Nenek tidak ada teman, Nak Irfan dan Bu RW suka mampir ke sini untuk menenangkan Nenek jadi Nenek tidak merasa kesepian " Jawab Nenek " Kamu jangan khawatir ya Naya, Nak Karan. Nenek benar-benar baik-baik saja di sini "


" Irfan lagi " Gumam hati Karan. Karan merasa bosan dengan nama itu " kenapa pria itu malah masuk kedalam kehidupan kami, Apa dia tidak memiliki kerjaan sehingga sering main ke sini " gumam Karan dalam hati


" Baiklah kalo begitu, Tapi nanti jika ada apa-apa nenek langsung hubungi aku biar aku langsung datang ke sini menunggu Nenek " Kata Naya


" Iyah, Nenek pasti akan selalu mengabari mu tidak mungkin Nenek tidak mengabari kamu, Karena cuman kamu yang Nenek miliki " Ucap Nenek


Naya langsung memeluk Nenek karena ia merasa tidak tega harus meninggalkan nenek lagi disini seorang diri.


" Sudah Ayok makan lagi kasihan suamimu sudah menunggu " Ajak Nenek yang langsung dibalas anggukan oleh Naya


Mereka pun melanjutkan makan mereka dengan di selingi dengan candaan Dari Naya.

__ADS_1


Karan baru melihat senyuman manis milik sang istri selama ini Karan belum pernah melihat istrinya tersenyum Bahagia seperti saat ini.


__ADS_2