
Pagi Ini Di meja makan Sudah ada Wenda dan juga Karan Yang akan Sarapan " Mbak, Dimana Maduku? " Tanya Wenda " Dan kenapa Sarapan kali ini sungguh berbeda " keluh Wenda karena tidak bisanya di meja makan Ada Nasi Goreng
" Panggil Istri kedua saya " Kata Karan dengan suara dingin
" Baru sehari saja sudah bikin Kita menunggu " keluh Wenda memanyunkan bibirnya
" Aku di sini " Kata Kanaya yang keluar dari Dapur yang membawa Telor ceplok di piring
Karan Mengerutkan keningnya Ia Heran kenapa Kanaya keluar dari Dapur " Maaf Nyonya, Ini Nona Kanya yang memasak. Tadi Pagi sekali nona Kanaya Sudah berada di dapur dan Ingin Membuat Nasi goreng " jawab Mbak
Kanaya duduk di kursi yang kosong " Selamat pagi Tuan, Nyonya " sapa Kanaya Ramah Tidak ada Rasa cemburu atau iri kepada Nyonya Wenda karena Kanaya cukup sadar diri siapa dirinya.
" Kenapa kamu buat nasi goreng? Kita tidak ada yang suka Sarapan Nasi goreng " Protes Wenda
Kanaya Tersenyum " Maaf Nyonya, Jika Selera Aku Jauh berbeda dengan Nyonya. Aku terbiasa Sarapan dengan Nasi goreng Bukan Roti " Jawab Kanaya
Wenda berdecak " Chk... Dasar orang kampung " Pelan namun masih terdengar
Kanaya tidak ingin memasukkan kedalam hati Karena memang kenyataannya jika dirinya Adalah orang kampung.
" Sudah, biarkan saja dia makan dengan apa yang biasa ia makan " Kata Karan yang tidak ingin Ada keributan di pagi hari
Kanaya Melihat Piring Karan yang masih Kosong sedangkan Piring Wenda sudah di isi dengan Roti " Tuan, Anda ingin sarapan dengan Apa? Biar Aku ambilkan " Kata Kanaya
Walaupun pernikahan ini bukan pernikahan tanpa Cinta tapi Kanaya Akan tetap Melayani suaminya dengan sepenuh hati, Agar dirinya mendapatkan surga dari Sang suami.
Karan Langsung mematung baru kali ini Dirinya di layani Bahakan Wenda saja Yang sudah menikah Lima tahun belum pernah Melayani dirinya.
" Ambilkan Roti saja "
Kanaya Tersenyum " mau di kasih Selai Apa? "
" Kacang " Jawab Karan
__ADS_1
Dengan telaten Kanaya membuatkan Roti untuk Karan " Ini Cukup? " Tanya Kanaya yang langsung di balas anggukan oleh Karan
Wenda yang melihat Kanaya yang begitu ramah kepada Sang suami langsung menghentikan Sarapannya " Kenapa berhenti? " Tanya Karan kepada Wenda
" Aku tidak apa-apa Baby " Jawab Wenda Pelan
Karan yang Melihat Ekspresi Wenda yang sedih ia Langsung menatap Kanaya " lain kali, tidak perlu kamu melayani saya. Karena saya Masih punya Tangan " kata Karan dengan suara dingin
Kanaya langsung terdiam Ia langsung menunduk " Maaf " Lirih Kanaya. Kanaya Pikir Karan akan suka dengan Apa yang ia lakukan untuk Karan tapi ternyata Pikirannya salah
" Jangan di Ulangi Lagi " Kata Karan " Honey, Ayo kita berangkat Bukanya Kamu akan pergi berlibur " kata Karan tersenyum manis kepada Wenda
Wenda Langsung menganggukkan kepalanya lalu tersenyum " Iyah Baby " Jawab Wenda. Wenda tersenyum sinis kearah Kanaya " Mau main-main denganku, kau pikir kau siapa ingin mengambil hati suamiku " batin Wenda
Setelah kepergian Wenda dan Karan. Kanaya masih duduk di Meja makan Dan Melanjutkan Nasi goreng buatan dirinya sendiri " Tuan Karan, sangat menyayangi Nyonya Wenda tapi kenapa Ia malah menikahi ku " Lirih Batin Kanaya
Kayanya menahan Tangisnya ia Tidak ingin Ada yang melihat jika dirinya lemah " Kamu pasti Bisa Kanaya " Gumamnya Kepada dirinya sendiri
" Bibi tenang saja, Aku bisa ko lagian Tdiak akan ada yang marah " Keluh Kanaya
" Bibi takut Tuan Marah Non "
Kanaya tersenyum " Bi, Aku dan bibi tidak jauh beda kita sama-sama kerja di rumah ini jadi mana mungkin Tuan Karan marah, Hanya saja Kerjaan aku jauh berbeda dengan Bibi " Kata Kanaya sambil tersenyum
Bibi membuang Napasnya pelan " Baiklah kalo gitu " Jawab Bibi Pasrah Walaupun sebenarnya Bibi Bingung dengan Ucap Kanaya. Yang bibi tau Kanaya adalah istri kedua dari Tuan mereka.
Jam sudah menunjukan jam Sembilan Pagi. Karena tidak ada Kerjaan Kanaya Menyiram tanaman di Taman belakang
" Kamu siapa? "
Kanaya Langsung menghentikan Aktivitasnya " Dia pelayan baru di rumah ini mah " Jawab Karan yang baru saja Sampai
Wajah Kanaya langsung berubah menjadi sendu " Kanaya, Ini Ibu Saya " Ucap Karan yang memperkenalkan Kanaya kepada Erina Mamah Karan " Mah, Ini kanaya. dia baru saja Samapi dari kampung kemarin dan dia juga akan kerja di rumah ini " Lanjut Karana
__ADS_1
Mamah Erina Langsung mendekat kearah Kanaya " Kamu sepertinya masih Cukup kecil untuk berkerja " kata Mamah Erina " Apa kamu tidak bersekolah? "
Kanaya Tersenyum " Aku baru saja lulus sekolah Nyonya, dan Tujuan Aku bekerja karena ingin melanjutkan Pendidikan ke universitas " jawab Kanaya. Walaupun sedikit berbohong tapi Kanaya harap Jika Nyonya besarnya ini Percaya dengan apa yang ia ucapkan
Mamah Erina tersenyum " Saya suka dengan Anak muda yang sangat untuk Mencari Ilmu " kata Mamah Erina " Rencananya Kamu Akan Mengambil Jurusan apa? "
" Manajemen. Nyonya " jawab Kanaya
" Wah, kamu pasti sangat Pintar. Kalo begitu Nanti kamu Kuliah di Kampus milik Suami saya saja di sana Cukup Komplit dan Juga bagus " kata Mamah Erina yang suka dengan Anak muda Yang pintar dan Juga Semangat untuk belajar
sedangkan Karan dia masih diam, Ia tidak menyangka jika Kanaya benar-benar Ingin kuliah Karan Pikir Kanaya waktu itu hanya Becanda
" Terimakasih Atas tawarannya Nyonya, Tapi Aku ingin di Kampus kecil saja biar harganya terjangkau " Jawan Kanaya
" Karan mamah tidak mau tau Pokonya Kanaya harus kuliah di Kampus Kita " Ucap Mamah Erina sambil Menatap sang Putra
" Baik mamahku sayang. Sekarang Mamah Ada apa datang ke sini dengan Mendadak? " Tanya Karan " Tidak biasanya Mamah Datang tanpa Meminta di Jemput " tanya Karan Heran
" Kenapa? Apa kamu tidak suka jika Mamah Ke sini dengan Mendadak? lagian Diaman istrimu kenapa sedari tadi Mamah tidak melihatnya? " tanya Mamah Erina
Karan membuang Napasnya pelan Lalu menggaruk kepala yang tidak gatal " Istriku sedang pergi Mah, Ia sedang butuh Liburan " Jawab Karan
Mamah Erina langsung memalingkan wajahnya kearah lain " Kamu terlalu memanjakan Istrimu itu Karan, Mau kapan dia hamilnya jika terus saja bepergian seperti itu " Keluh Mamah Erina
" Sabar mah, Lagian aku dan Istriku juag sedang berusaha agar mendapatkan Momongan " jawab Karan melirik kearah Kanaya yang masih berdiri
" Mamah harus nunggu samapi kapan Karan, Kalian menikah sudah lima tahun Tapi kenapa Istrimu itu tidak kunjung hamil juga, Atau jangan-jangan... "
" Stop Mah. Kita sama-sama sehat lagian Mamah harus sabar semua itu butuh proses " kata Karan Yang sedikit meninggikan suaranya lalu ia pergi begitu saja.
Mamah Erina merasa tersentak oleh ucapan Putranya itu " Nyonya " kata Kanaya Yang merasa Kasian kepada Mamah Erina
" Saya baik-baik saja Kanaya " jawab Mamah Erina
__ADS_1