Rahim Bayaran Satu Miliar

Rahim Bayaran Satu Miliar
KEDATANGAN WENDA


__ADS_3

Karan pulang dengan membawa tiga mangga muda yang ia berhasil meminta kepada si pemilik pohon mangga, dengan susah payah Karan mencari pemilik pohon mangga itu, bahkan Karan memanjat sendiri untuk mengambil mangga muda.


" Sayang, Ini aku bawa permintaan mu. " Ucap Karan yang menaruh Mangga muda di atas meja


" Loh Nak Karan, Habis dari mana? Ko wajahnya merah-merah " Tanya Nenek yang melihat Wajah Karan yang merah-merah


Karan menggaruk tangannya " Ini tadi Aku habis Manjat pohon Mangga Nek, dan kayanya ini gara-gara semut yang ada di pohon mangga " Jawab Karan yang masih menggaruk


" Nek, Karan kamu kenapa? " Tanya Naya yang berjalan kearah Karan


" Katanya di gigit semut di pohon Mangga " Timbal Nenek sambil menoleh kearah Naya " Kanya, Kamu kasih obat dulu untuk suamimu, Kasian dia " Ucap nenek


Kanaya langsung menganggukkan kepalanya " Baik Nek. Karan, Ayok ikut denganku biar aku kasih obat " Ajak Naya kepada Karan


Karan langsung berjalan di belakang Naya, Dan mereka masuk kedalam kamar " Buka Bajunya, Biar aku oleskan salep anti gatal " Pinta Naya kepada Karan


Karan Langsung mengangguk patuh, ia langsung membuka pakaian nya dan duduk di atas tempat tidur.


Naya begitu telaten mengoles obat di bagian yang gatal " Maafkan Aku ya, gara-gara aku, kamu jadi gatal-gatal seperti ini " Ucap Naya yang merasa bersalah kepada Karan


" Tidak Apa-apa, lagian yang aku lakukan untukmu dan juga anak kita " Balas Karan " Ini tidak seberapa dengan luka yang pernah aku torehkan kepadamu Naya " batin Karan


" Tetap saja, seharusnya aku tidak meminta yang tidak-tidak kepadamu "


Karan Langsung memutarkan tubuhnya agar dia bisa menatap wajah sang istri. Karan mendekap wajah Naya lalu ia tersenyum " Aku baik-baik saja Sayang, kamu tidak perlu Khawatir " Ucap Karan yang membenarkan anak rambut Yang menghalangi wajah Naya

__ADS_1


Entah kenapa Naya malah terpesona dengan wajah tampan sang suami apa lagi, Bi bir merah milik sang suami. Naya menggigit bibir bawahnya


Karan yang melihat Naya menggigit bi bir bawah nya, ia langsung mendekati Bi bir Naya dan Men cium Bi bir Naya.


Naya tidak bisa menolak karena ia juga sangat tergiur dengan sen tuhan yang di berikan oleh sang suami, toh gak ada salahnya juga jika Dirinya melayani sang suami.


Ciu man itu berbuah menjadi Ciu man panas dan bahkan saat ini tangan Karan sudah bermain di balik Dress milik Naya.


Karan membimbing Naya sampai Naya terbaring di atas tempat tidur, Karan Bermain dengan Melon kembar yang memiliki ceri merah, Melon itu sangat montok dari biasanya.


Leng guhan Naya mulai terdengar ketika Karan bermain dengan ceri merah dan sebelah tangannya bermain di lembah gunung yang memiliki tanaman lembut selembut sutra. Karan sangat menyukai lembah gunung milik Naya karena lebah Gunung milik Naya tidak seperti milik Wenda yang lebat dengan rambat pikirnya.


Permainan Karan untuk berjalan-jalan ke lembah gunung dengan menikmati Melon kembar yang memiliki ceri akhirnya ia Samapi di ujung perjalanan yaitu menengok Calon anaknya. Setelah sekian lama akhirnya Karan bisa menengok calon anaknya juga.n


Karan begitu lembut bahkan sangat lembut karena tidak ingin menyakiti Calon anaknya dan juga tidak ingin membuat Ibu dari anaknya kelelahan.


" Terimakasih sayang " Karan mengecup kening sang istri dengan lembut lalu menyelimuti tubuh sang istri yang polos.


Karan tidak langsung membersihkan diri, ia menemani Kanaya untuk beristirahat. biasanya Wenda yang akan sangat aktif namun jika dengan Naya, Karan tidak ingin membuat calon ibu dari anaknya itu kelelahan makanya biar dirinya saja yang merasa lelah yang penting istrinya nyaman.


~ DI KOTA


Ibu Erina yang sedang menyiram tanaman di kejutakan dengan kesayangan Wenda yang menggunakan kursi roda " Mah "


" Wenda " Ibu Erina cukup terkejut ketika melihat Wenda berada di rumah nya, pasal nya dirinya tau jika Wenda hilang ingatan dan yang Wenda ingat hanya suaminya saja.

__ADS_1


Wenda tersenyum " Mamah bagaimana kabar mamah, Apa kabar Mamah baik? " Tanya Wenda


" Ba.. Baik. Kabar Mamah baik " Jawab Ibu Erina dengan gugup


" Syukurlah kalo begitu " balas Wenda " Oh iya, Aku ke sini karena Selama Karan tidak pulang, apa Karan ada di sini mah, dan dimana sekarang? " Tanya Wenda yang mencari keberadaan suaminya


" Wenda, bukannya kamu hilang ingatan, lalu bagaimana mungkin kamu ingat dengan Mamah? " Tanya Bu Erina yang penasaran


Wenda tersenyum lalu ia mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah sang ibu mertua " Dewi kebaikan begitu baik kepadaku Mah, Walaupun aku tidak ingat Apa-apa tapi Aku masih ingat kepada Mamah yang begitu menyayangi Aku " Ucap Wenda " Terimakasih ya Mah, karena Mamah sudah menyayangi aku, dan demi memori ku kembali aku pun memutuskan untuk tinggal bersama Mamah dan juga Karan, Aku ingin kita tinggal satu rumah " Seru Wenda dengan wajah yang berbinar


Bu Erina mengerutkan keningnya, di pikirannya banyak tanda tanya, apa benar jika Wenda saat ini sedang hilang ingatan atau...


" Mah " Panggil Wenda dengan lembut


" Ah Iya " Jawab Bu Erina yang langsung menoleh kearah Wenda


" Tidak Apa-apa kan jika aku dan suamiku tinggal di sini? " Tanya Wenda


" Eum.. Giman ya " Bu Erina bingung, mana mungkin dirinya membiarkan Wenda tinggal di sini sedangkan di sini ada Naya. Bu Erina tidak ingin menyakiti perasaan Naya yang sedang mengandung cucu pertamanya, ia juga tidak ingin kehilangan menantu kesayangan hanya karena ada Wenda.


" Kalo Mamah diam, pasti Mamah sangat setuju. Yaudah kalo begitu aku mau mencari suamiku dulu ke kamar nya, Pasti suamiku ada kan di kamarnya " Wenda membawa kursi roda ke arah Kamar sang suami.


sedangkan Bu Erina masih bingung, ia bingung harus Melakukan apa saat ini, Bisa saja Bu Erina mengusir Wenda namun Bu Erina tidak ingin Rencana putranya Gagal.


" Aduh, bagaimana ini. Aku harus segera menghubungi Karan sebelum ia membawa Naya ke sini " Gumam Ibu Erina yang langsung mencari keberadaan Handphone miliknya dan langsung menghubungi No Karan namun nihil no putranya itu malah tidak aktif, tidak kehabisan Ide, Bu Erina langsung mengirim pesan kepada Karan " Mudah-mudahan Karan akan membaca nya "Gumam Bu Erina.

__ADS_1


Di dalam Kamar, Wenda mencari keberadaan Karan " Honey " Panggil Wenda " Kamu di mana? Apa Karan tidak ada di sini, lalu kalo tidak di sini Karan kemana? " Gumam Wenda bingung.


__ADS_2