Rahim Bayaran Satu Miliar

Rahim Bayaran Satu Miliar
APARTEMEN


__ADS_3

Setelah dua hari di rawat di rumah sakit Akhirnya Naya pun di bawa ke Apartemen yang sudah di sediakan oleh Karan, Apartemen yang khusus untuk Naya.


" Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu, Tunggu aku sampai aku benar-benar menyelesaikan semuanya dengan Wenda "


Iyah, Karan akhirnya jujur kepada Naya. Karan tidak ingin ada kebohongan lagi apa lagi melihat Naya yang Samapi masuk rumah sakit gara-gara dirinya.


Naya bingung apa Naya harus percaya dengan ucapan Karan atau tidak tapi Naya lihat Ada ke jujuran di mata Karan.


Naya duduk di sofa dengan memegangi perut nya " Kenapa Apa perutmu sakit lagi? " Tanya Karan yang melihat Naya memegangi perut miliknya


" Aku baik-baik saja " Balas Naya


" Aku akan menaruh tiga pelayan di sini untuk menemani dan menjaga kamu, jangan membantah karena aku tidak menerima bantahan " Ucap Tegas Karan yang hanya di balas hembusan napas oleh Naya


Naya bisa apa saat ini, tidak mungkin dirinya menolak apa lagi Karan tidak pernah menerima bantahan.


" Tuan, Nona. Makan siang nya sudah siap " Ucap salah satu pelayan


" Hmm... kami akan langsung kesana " Balas Karan " Ayok sayang " Ajak Karan kepada Naya


Naya hanya bisa pasrah dan menurut saat ini, Naya mengikuti suaminya ke meja makan " Kamu mau makan Apa? biar aku ambilkan " Tawar Karan


" Tidak perlu biar aku saja " Balas Naya


Karan menggelengkan kepalanya " Kamu istriku, dan kamu ibu dari anakku jadi biarkan aku melayani kamu " Karan tidak menerima bantahan ia langsung mengisi piring milik Naya dengan lauk pauk dan juga sayur " Mbak " Panggil Karan


" Iyah Tuan "


" Tolong buatkan susu untuk istriku, Susu nya ada di dalam paper bag yang tadi saya bawa " Pinta Karan


" Baik Tuan "

__ADS_1


Apa Naya harus bahagia karena suaminya yang begitu perhatian kepada dirinya " Karan "


" Aaaa.... " Karan menyodorkan satu sendok makanan kedalam mulut Naya " Buka Mulutnya " Pinta Karan


Naya langsung membuka mulut miliknya dan menerima suapan dari sang suami. entah Suaminya sedang kerasukan apa karena ia tiba-tiba saja berubah.


Acara makan siang mereka di akhiri dengan makan buah potong yang sudah di potong oleh Bibi.


" Sudah Karan Aku sudah kenyang " Tolak Kanaya yang sudah merasakan kekenyangan


" Baiklah " Karan pun memilih untuk mengalah


Dreeetttt... Dreeettttt...


Naya mendengar suara Ponsel milik Karan " Handphone milikmu bunyi " Ucap Naya sambil menunjuk kearah Handphone Karan


Karan melirik kearah handphone miliknya " Biarkan saja " Karan tidak menghiraukan siapa yang menelpon bahkan ia tidak peduli dengan panggilan masuk ke handphone miliknya


Karan membuang napasnya pelan lalu ia Melihat kearah Handphone miliknya, Bukanya di angkat Karan malah Menonaktifkan handphone miliknya.


" Sudah, kamu tidak akan kebisingan lagi, sekarang kamu minum susu nya dan kita tidur siang. Kasian anak kita yang belum tidur siang " Ucap Karan


Naya tidak mampu untuk berkata lagi, ia tidak menyangka jika Karan akan menonaktifkan handphone miliknya apa lagi Naya yakin jika panggilan masuk itu dari Nyonya Wenda.


Karan yang tidak ingin di bantah ia langsung membawa Sang istri kedalam kamar milik mereka. Karan membaringkan tubuhnya Naya di atas tempat tidur di susul dengan Karan yang langsung membawa tubuh Naya kedalam pelukannya " Maafkan aku sayang " Ucap Karan mengecup kening istrinya.


Sedangkan di rumah Bu Erina, Wenda sedari tadi gelisah karena karena tidak bisa menghubungkan Karan " Karan kemana ya mah, Ko Aku telpon gak di angkat-angkat " Keluh Wenda


Bu Erina membentak kaca mata miliknya " Mungkin dia sedang sibuk " Balas Bu Erina tanpa melirik Wenda


Wenda memutarkan kedua bola matanya karena malas " Apa jangan-jangan Karan saat ini sedang bersama babu itu " Tebak Wenda

__ADS_1


Bu Erina melirik kearah Wenda sekilas " Kamu itu jangan so udon seperti itu, lagian dia bukan babu tapi namanya Kanaya " Ucap tegas Bu Erina yang tidak suka dengan ucapan Wenda kepada menantu kesayangan nya itu.


" Maaf mah, aku hanya kesal saja sama Karan yang susah untuk di hubungi " kilah Wenda


" Bagaimana Karan mau bersikap baik kepadamu jika kamu selalu menuduh nya "


Kemarin Wenda banyak cerita kepada Ibu mertuanya jika Karan selalu saja menghilang dan tidak pernah menghargai dirinya sebagai seorang istri bahkan Karan tidak pernah bersiap baik kepada dirinya.


" Maafkan Mamah Wenda, Mamah tidak bisa berkata jujur karena mamah tidak ingin kamu menyakiti menantu mamah lagi, Mamah tidak ingin terjadi kepada sesuatu kepada cucu dan menantu mamah " Batin Bu Erina.


" Bukannya hari ini kamu ada jadwal terapi? Ayok biar Mamah temani " Tawar Bu Erina kepada Wenda


Wenda seperti yang gelagapan " Eum.. itu.. " Wenda menggaruk kepala yang tidak gatal


" Kenapa, Apa kamu tidak suka jika Mamah temani kamu? " Tanya Bu Erina dengan penuh selidik


" Bukan begitu mah, hanya saja saat ini Aku sedang tidak ingin kemana-mana " Elak Wenda


" Hm.. Baiklah kalo gitu, Jika kamu tidak suka mamah temani tidak jadi masalah " Balas Bu Erina yang langsung fokus kepada majalah


Entah apa yang sedang di sembunyikan oleh Wenda, ia terlihat gugup ketika Bu Erina menawarkan diri untuk menemani nya terapi.


" Mah, Wenda ke kamar dulu " Ijin Wenda kepada Ibu mertuanya


" Hm... " Balas Bu Erina tanpa menoleh


Wenda menepati kamar tamu yang ada di bawah karena tidak mungkin Wenda naik ke kamar milik Karan dengan menggunakan kursi roda.


" Bagaimana ini, kenapa Karan tidak bisa di hubungi dan kenapa Mamah tiba-tiba saja ingin menemaniku ku terapi, dan Bagaimana jika aku ketahuan sebelum aku mendapatkan hati Karan lagi " Gumam Wenda " Aku harus bertindak cepat dan aku juga harus menyingkirkan wanita sialan itu, gara-gara dia Karan jadi tidak perhatian lagi kepadaku dan gara-gara dia aku hampir di ceraikan oleh Karan " Wenda turun dari kursi rodanya, ia berjalan kesan kemari mencari akal untuk menyingkirkan Kanaya.


iya selama ini Wenda ternyata berbohong soal hilang ingatan dan Wenda juga berbohong jika dirinya telah lumpuh padahal itu hanya untuk menarik simpati dari Ibu dan juga suaminya agar Karan tidak memberikan dirinya tapi sekarang Karan malah semakin cuek dan tidak peduli kepada dirinya.

__ADS_1


Wenda mengambil handphone miliknya lalu menghubungi orang kepercayaan, setelah beres menghubungi seseorang Wenda langsung tersenyum sinis " Aku tidak akan pernah bersaing dengan wanita murahan seperti mu, dan bahkan kamu tidak akan bisa hidup tenang selama kamu masih berada di lingkaran suamiku " Ucap Wenda yang melipatkan kedua tangannya di dada.


__ADS_2