Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 10


__ADS_3

“Bruk.” Kepala Lily terbentur pagar tangga, untungnya ia tidak sampai jatuh ke bawah. Tapi kepalanya berdarah akibat benturan itu.


“Astaga! Astaga! Cucuku terluka.” Tiba-tiba sifat nenek berubah 180 derajat.


“....”Lily merasa heran dengan perubahan sifar nenek yang tiba-tiba itu.


“Bi! Bi! Cepat kemari!” Teriak Nenek keras. Kemudian datanglah seorang dua orang pelayan dengan wajah yang panik.


“Iya Nyonya.” Jawab pelayan itu.


“Tolong bantu aku untuk membawa cucuku ke kamarnya. ia terluka.” Ucap Nenek dengan wajah panik.


“Baik Nyonya.” Lily pun dibantu oleh mereka berdua untuk masuk ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Lily berbaring di atas ranjangnya. Sementara pelayan mengobati dan memebrsihkan lukanya.


“Ah!” Keluh Lily kesakitan.


“Pelan-pelan, cucuku kesakitan.” Ucap nenek dengan wajah yang tampak khawatir.


“Iya Nyonya.” Pelayan itu tampak takut dengan Nenek.


Pelayan itu kemudian pergi setelah selesai mengobati Lily. Kini, tinggal Lily dan Nenek yang ada di kamar itu.


“Sekarang kau istirahat ya. biar luka mu cepat sembuh.” Nenek kemudian menyelimuti Lily.


“Iya Nek.” Jawab Lily dengan perasaan yang masih aneh.


“Selamat beristirahat.” Ucap Nenek kemudian mengecup pipi Lily.


Nenek kemudian keluar kamar.


“Aneh sekali, apa itu yang Kai maksud sebagai kepribadian ganda?” Lily merinding membayangkannya. Kembali mengingat kejadian tadi, saat sikap nenek berubah seratus delapan puluh derajat. Lily tak sanggup mengingatnya lagi. Ia pun tertidur tanpa disadari.


“Baguun! Bagun dasar bodoh!”


Tiba-tiba Nenek kembali ke kamarnya Lily dengan marah-marah.


“Nenek..”Lily tampak ketakutan.


“Beraninya kau tidur ketika aku sedang sibuk di bawah! Beginikah menantu dari Nyonya Kim bersikap?” Nenek tampak murka.


“Tapi Nenek yang menyuruhku untuk beristirahat.” Lily gemetar ketakutan.

__ADS_1


“jangan banyak alasan! Sekarang kau bangun dan bereskan semua kekacauan di bawah! Kau tidak kami beli untuk melakukan hal ini! kau kami beli untuk melayani suamimu, measak, dan melayani rumah ini juga!” Ucap Nenek dengan mata yang melotot.


“Nek...”


“Ayo cepat turun!” Nenek kemudian menyeret Lily dengan kasar.


“Tolong lepaskan aku nek, kumohon.” Lily mencoba melepaskan dirinya dari Nenek.


“Diam kau!” Nenek terus menyeretnya.


Lily terus melawan, ia menarik diri dari tarikan nenek. Hingga di dekat tangga nenek terus menariknya dengan kencang.


“Nek, kumohon lepaskan aku dulu. Biar aku berjalan sendirian di tangga ini. akan sangat berbahaya jika nenek terus menarikku seperti ini.” Ucap Lily.


“Tidak akan! Jika aku melepaskanmu maka kau akan kabur dan kembali ke kamarmu. Jadi jangan harap bisa lolos dariku.” Ucap Nenek.


Nenek terus bersikeras menarik Lily hingga menuruni tangga. Perasaan Lily sudah tak enak. Nenek terlalu kencang menariknya. Mungkin tak lama lagi akan terjadi sesuatu.


Dan ...


“Bruk.” Nenek terpeleset. Lily dan nenek kemudian sama-sama terjatuh dan terguling dari tangga itu. Tangga dengan ketinggian sama dengan tiga lantai. Adegan itu rasanya begitu cepat, hingga Lily tak bisa mengingat lagi kejadian itu. Yang ia tahu, setelah itu ia tak sadarkan diri.


Dalam ketidaksadarannya itu, sayup-sayup Lily mendengar suara bisikan seseorang. Nampaknya ia kenal siapa suara itu.


“Dreeyana.” Ucap ibunya lirih.


“Ibu.” Lily kini dapat melihat dengan jelas wajah ibunya.


“Syukurlah kau sudah sadar. Ibu mengira kau akan koma lebih lama lagi. Tapi sudahlah, sekarang kau sudah pulih. Apa yang perlu ibu cemaskan lagi?” Ibunya kini menyeka air mata yang menggenang di kelopak matanya. Terlihat bahwa ibunya sudah menangis untuk waktu yang lama.


“Koma? Berapa lama?” tanya Lily.


“Dua bulan nak. Ibu bahkan hampir putus asa. Tapi, itu semua kini tak berarti lagi. Melihat kau sudah sadar dan kau mengenali ibu, semuanya sudah lebih dari cukup.” Ucap Ibu sambil mencium tangan Lily.


“dua bulan? Aku...aku tak menyadarinya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Lily mencoba mengingat-ingat semua kenangan yang masih tersimpan dalam kepalanya. Tapi tak ada satupun yang sama dengan kejadian yang mengakibatkan ia sampai koma hingga dua bulan.


“Apa kau tak mengingatnya? Kejadian itu? Yang mengakibatkan kau sampai di sini?” Ibu mencoba memastikan.


“Tidak. Aku hanya mengingat terakhir kali aku diantarkan oleh ibu untuk naik bus jemputan sekolah. Apa aku lulus ujian masuk universitas? Oh, aku pasti tidak lolos karena sudah koma selama ini.” Lily kini mulai khawatir.


“....”Ibu menangis tersedu-sedu. Benar apa kata dokter, bahwa Lily akan hilang ingatan. Andai kata Lily selamat dan bangun dari koma pun, Lily akan kehilangan ingatannya. Dan itu kini terbukti, puterinya kini hanya memiliki ingatan di masa SMA nya.


“Mengapa ibu menangis? Bukankah ibu sudah bilang bahwa semua akn baik—baik saja setelah aku sadar?” Lily masih tak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian dokter datang. Lily diperiksa secara keseluruhan.


“Semuanya normal, organ vitalnya, alat gerak dan sensorinya. Normal semua, hanya saja, seperti dugaanku.... ia kehilangan sebagian dari ingatannya.” Ucap Dokter itu pada ibu.


“Oh Tuhan...bagaimana aku akan menjelaskannya pada suaminya.” Ibu penuh kekhawatiran.


Usai berbicara dengan dokter, ibu duduk di kursi lorong rumah sakit cukup lama. Ia melamun, banyak hal yang berkelebat dalam ingatannya. Tentang puterinya, suaminya, dan masa depan puterinya. Apakah ia bisa mengembalikan ingatan yang hilang itu? Lalu bagaimana dengan pernikahan? Apa suaminya akan menceraikannya jika tahu bahwa Lily suah kehilangan ingatannya? Ibu merasa semakin resah.


Apa yang ibu takutkan kemudian terjadi. Keesokan harinya, suami Lily, Kai datang ke rumah sakit setelah mendengar bahwa Lily sudah siuman.


“Kai.” Ucap Ibu. Kai kemudian bersalaman dengannya.


“Dia benar-benar sudah sadar?” Tanya Kai tampak antusias.


“Ya. tapi...,” Ibu tak mampu mengatakannya.


“Tapi apa?” Perasan Kai mulai tak enak.


“Kau lihat saja sendiri ke dalam.” Ucap Ibu.


Kai pun masuk ke ruangan. Ia bisa melihat Lily yang tengah duduk di atas ranjangnya. Kai merasa lega saat melihat Lily yang sudah sadar. Tampaknya tidak ada apapun yang salah.


Hingga Kai menyapa Lily...


“Lily...”Kai mendekati wanita itu.


“Oh, hai. Apa aku mengenalmu?” Tanya Lily dengan polos.


Saat itu juga Kai mengerti maksud kata tapi dari perkataan Ibu barusan.


“Apa kau tahu siapa aku?” Tanya Kai dengan hati yang getir.


“Mungkin aku lupa, tapi jangan sedih. Kau bisa memperkenalkan dirimu lagi, mungkin aku akan mengingatnya.” Kata Lily dengan wajah lugunya.


“Lily... kau benar-benar tidak mengingatnya? Kau tidak mengingat semua hal yang menyebabkan kau di sini?” Kai kembali memastikan.


“Maaf, aku benar-benar tidak ingat. Aku juga bingung mengapa semua orang begitu cemas terhadapku. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padaku?” Lily mulai cemas.


“Lily... kumohon ingat-ingat lagi. Kau harus bisa mengingat kejadian itu lagi, ada suatu kasus yang membuat kau harus bersaksi atasnya. Kumohon ingat-ingat lagi kejadian itu.” Kai tampaknya mendesak Lily.


“Tapi aku benar-benar tidak ingat. Jangan paksa aku.” Lily mulai ketakutan.


“Tidak, jangan menyerah dulu, kumohon.” Kai masih ngotot.

__ADS_1


“Tidaaaak!” Lily berteriak histeris. Ibunya kemudian masuk ke dalam karena mendengar jeritan Lily yang keras.


__ADS_2