Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 38


__ADS_3

“Aaaaa!” mereka berdua berlari panik karena macan itu tepat berada di belakang mereka.


Untungnya pohon itu sudah di depan mereka. Kai langsung naik ke pohon itu. Ia menggendong Lily, dengan susah payah Kai memanjat sambil menggendong Lily. Untunglah ia menggunakan peralatan yang tepat.


“Fyuh...akhirnya kita berhasil naik.” Ucap Kai.


“Kai..apa kau lupa sesuatu?” Tanya Lily dengan begitu takut.


“Apa?” Kai bingung.


“Macan kumbang juga bisa memanjat Kai.” Jelas Lily.


“Astaga! Aku lupa! Kalau begitu ayo. Kita harus segera berpindah dari pohon ini. mesipun macan bisa memanjat, tapi dapat kupastikan tidak akan secepat alat kita saat melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Toh jarak pohon ang lainnya juga berjauhan.” Ucap Kai.


“Tapi tetap saja Kai, kita tidak tahu. lebih baik kita bergegas.” Ucap Lily.


“Ya, baiklah.” Mereka pun berpindah pohon.


“Akhirnya....” Mereka berdua turun dari pohon terakhir dan keluar dari kandang macan itu.


“Belum selesai.” Ucap Kai.


“Apa maksudmu belum selesai?” Lily panik kembali.


“Titik ini, menurut informasi dari Pengacara Jo, adalah titik dimana para penyerang jitu bersembunyi. Anggap saja ini benteng lapisan satu mereka. Kita harus melewati keamanan yang dipasang di sini baru kita bisa masuk ke tempat itu.” Kai menunjuk ke sebuah hunian yang terang.


“Apa kau bisa bertarung?” Tanya Kai.


“Entahlah...”Jawab Lily dengan ragu.


“Kalau begitu tetaplah berada di sampingku dan jangan sampai tertangkap. Karena sebentar lagi mereka akan keluar menyerang kita.” Jelas Kai.


“Oh, tidak.” Lily melihat segerombolan orang bermunculan dari titik-titik persembunyiannya dan mulai mendekati mereka.


“Kita kalah jumlah Kai.” Ucap Lily.


“Tidak, jangan langsung takut, meskipun mereka menang di jumlah tetapi mereka tidak menggunakan senjata api. Entah apa maksud nenek dalam negatur semua ini. mungkin itu dibuat agar aku bisa sampai ke sana tanpa terluka tetapi kondiku sudah lema karena di serang oleh mereka.” Ucap Kai.


“Untunglah aku membawa alat yang tepat.” Kai mengeluarkan tiga buah pistol dari tasnya.


“Pistol?” Tanya Lily heran saat Kai memberikan salah satu pistol kepada Lily.


“Bukan pistol senapan. Itu pistol bius dan pistol sengatan listrik. Tekan sekali maka akan eluar sengatan listrik, tekan dua kali maka akan keluar biusan. Itu sangat berguna untuk melumpuhkan mereka.” Jelas Kai.

__ADS_1


“Baiklah, aku mengerti.” Ucap Lily.


“Hyaaaa!” segerombolan orang itu pun mendekati mereka. Mereka pun ebrtarung satu sama lain.


Kai dengan mudah mengalahkan mereka, tetapi Lily tampak eksulitan dalam melawan mereka. Untungnya Lily masih bisa bertahan sejauh ini.


“Rasakkan ini!” Ucap Kai pada salah seorang pria yang meninju mukanya.


Kai berhasil melumpuhkan banyak orang. Sementara Lily berhasil bertahan sejauh ini.


“Bagus Lily.” Ucap Kai.


“Kai! Di belakangmu!” Teriak Lily. Ia langsung menembakkan bius ke orang itu.s eketika ornag itu pun tidak tersadar.


“Hampir saja.” Ucap Lily.


Kai kembali menyerang dan melumpuhkan orang-orang itu. Sedikit demi sedikit pasukan penerang itu pun kalah.


“Kita berhasil Kai!” Ucap Lily kegiragan.


“Ya, kita berhasil. Sekarang kita hanya perlu memasuki tempat itu. Ayo!” Ucap Kai.


“Ayo!” Mereka berjalan menuju hunian itu. Nampaknya, satu-satunya tempat yang berpenerangan di pulau ini hanya tempat itu. Atau mereka sengaja mensettingnya seperti itu.


“Ya. kai!” Lily tiba-tiba menatap Kai dengan cemas.


“Apa?” Tanya Kai bingung.


“Kepalamu! Jahitan di kepalamu terbuka. oh, aku harus segera menutup lukanya agar darah tidak banyak keluar.” Ucap Lily. Ia langsung mengambil tas Kai dan mencari obat-obatan.


“Aku tidak menyadarinya. Baiklah, lain kalia aku akan berhati-hati.” Ucap Kai.


“tidak! Kau memang tidak seharusnya melakukan ini Kai. Kondisi tubuhmu sedang lemah, kau malah ke sini untuk melakukan semua ini. aku tak yakin jika kau mampu bertaha hingga akhir.” Ucap Lily dengan mata yang berkaca-kaca.


“Hey! Jangan bilang begitu. Kau baik-baik saja Lily. Kau tak usah cemas. Tinggal beberapa langkah lagi maka rencana kita akan berhasil. Kita akan hidup dengan tenang setelah ini. kau janji padaku ya akan bertahan hingga ahhir.” Ucap Kai.


“Ya, aku janji.” Jawab Lily.


“Baiklah, ayo, kita lanjutkan langah kita.” Ucap Kai kembali bangkit.


Mereka pun berjalan ke tempat itu. Anehnya, tempat itu begitu sepi. Tidak ada jebakan, tidak ada keamanan apapun. Tapi Kai tahu, biasanya, tempat yang seperti ini, terlihat sepi di dalam padahal menyimpan mara bahaya di dalamnya.


“Setelah pintu itu terbuka maka bersiaplah.” Jelas Kai mendekati pu tu hunian itu.

__ADS_1


“Ya.” Jawab Lily.


Mereka berjalan masuk ke pintu itu. Langsung terlihat suasana dalam hunian itu. Semuanya gelap gulita. Hanya berpenerangan lilin yang menyala temaram. Tampak sunyi. Tapi mereka tahu, kesunyian ini menyimpan bahaya.


Mereka melangkah pelan-pelan. Masih tak ada pergerakan apapun. Lalu mereka melangkah masuk jauh lebih dalam. Masih tak ada tanda-tanda penyerangan apapun.


“Buk!” Ada yang memukul Kai dari belakang.


“Arrrgghh!” Ada yang menarik Lily dari belakang.


Ternyata sekaranglah serangan itu. Kai kembali bangkit. Ia mengeluarkan senjatanya. Begitu pun dengan Lily, ia balik melawan sekuat tenanga. Lily mulai ahli dengan senjata itu. Ia berhasil mengalahkan beberapa penyerang.


“Dengar, begitu kita selesai dengan ini kita harus cepat bergerak ke tangga abwah tanah. karena serangan ini tidak akan ada habisnya. Kita harus terus bergerak sambil menyerang.” Jelas Kai kepada Lily sambil menyerang beberapa orang.


“Ya, baiklah.” Ucap Lily.


Mereka hampir kewalahan karena jumlah penyerang semakin banyak. Kai memutuskan untuk terus bergerak maju, ternyata berhasil. Meski mereka harus bergerak sambil meyerang, setidakya mereka semakin dekat dengan tujuan.


“Buk!” Kai dipukul di bagian kepalanya.


“Tidak! Kai....” lily berteriak. Ia langsung menghampiri Kai.


“Kai.” Lily melindungi Kai dari para penyerang itu.


“Aku baik-baik saja. Kau tenanglah.” Jelas Kai. Ia kembali bangkit berdiri dengan kepala yang mulai mengucurkan darah.


“Lukamu, semakin parah Kai.” Ucap Lily dengan panik.


“Sudah kubilang jangan khawatir. Ayo terus bergerak atau kita tidak akan pernah samapi.” Ucap Kai sambil menyerang.


“Baiklah.” Jawab Lily dengan cemas.


Mereka terus maju hingga sampai di depan pintu yang mengarah ke tangga bawah tanah.


“Dengar Lily, kau bukalah pintu itu sementara aku menahan mereka. Cepat!” Ucap Kai.


“Ya,” Dengan panik Lily langsung menghampiri pintu itu dan mencoba membukanya. Tidak ada kunci atau apapun. Bagaimana ia bisa membukanya. Ia berpikir keras. Ia dikejar waktu, Kai sudah kewalahan dalam menghentikan mereka. Lily harus bergegas dalam membuka pintu itu.


“Ayolah,” Ucap Lily dengan tak sabar.


“Klik.” Akhirnya pintu itu pun terbuka.


“Ayo Kai!” Ucap Lily. Mereka pun masuk ke dlaam pintu. Pintu itu dikunci kembali. Mereka mulai menuruni tangga yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2