Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 16


__ADS_3

“Lily, sadarlah!” Ucap Ibu sambil mengguncangkan bahu Lily.


Tapi Lily tak bangun sama sekali.


“Bagaimana ini?” Ibu begitu cemas. Ia bingung harus melakukan apa. Puterinya tak sadarkan diri dan hanya ia seorang bersama puterinya di apartemen ini. ia tak mengenali tetangga apartemen-nya. mereka adalah orang kaya dengan kesibukan yang super tinggi. Mungkin saat ini mereka tak ada di rumah.


Ibunya Lily juga tak memiliki kerabat di kota ini. sebagian besar keluarganya tinggal di desa. Lalu harus kepada siapa ia minta tolong? Oh, ada satu. Ibunya baru ingat. Tak lain dan tak bukan adalah menantunya sendiri. Kai, mungkin pria itu bisa menolongnya.


Ibu lalu mengambil ponsel. Ia segera menghubungi Kai. Lama sekali Kai mengangkat telpon dari Ibu.


“Hallo.” Terdengar suara Kai dari telpon.


“Hallo. Kai, Ibu butuh bantuanmu sekarang juga. Ini penting.” Ucap Ibu dengan tangan yang gemetar memegang ponsel miliknya.


“Apa ini terkait Lily?” Kai juga memiliki perasaan yang tidak enak terhadap Lily.


“Iya, Lily tak sadarkan diri. Panjang ceritanya, ku harap kau bisa segera ke sini.” Ucap Ibu.


“Baik Bu. Aku akan segera ke sana. Ibu tolong tenanglah dulu.” Ucap Kai.


“Baik, Ibu tunggu.”


Telpon pun berhenti.


Beberapa menit kemudian Kai datang, untunglah rumah Kai tak jauh dari apartemen Lily. Ibu langsung membukakan pintu begitu Kai datang. Kai ternyata tidak datang dengan tangan kosong. ia membawa kotak P3K karena ia pikir terjadi sesuatu yang buruk terhadap Lily.


“Ia ada di kamar ibu sekarang.” Ucap Ibu sembari menunjukkan Kai dimana letak kamarnya.


“Lily.” Kai langsung menghampiri Lily.


“Dia tak sadarkan diri setelah Ibu menceritakan beberapa kenangan dari masa lalunya. Apa ia akan baik-baik saja?” Tanya Ibu dengan cemas.

__ADS_1


“Aku akan memeriksanya terlebih dahulu. Tenanglah, aku memiliki ijazah kedokteran. Walah S2 ku bukan spesialis dan malah mengambil bisnis, tapi tolong percayakan hal ini padaku.” Ucap Kai sembari mengeluarkan beberapa alat dari kotak P3K nya. ia mengeluarkan senetr dan stetoskop. Ia memeriksa detak jantung Lily dan beberapa hal lainnya. Setelah selesai ia baru meghembuskan napas dengan lega.


“Ia hanya pingsan, tak kenapa-kenapa Kok. Mungkin ia syok atau kepalanya tengah merangkai kembali beberapa ingatan yang sudah terputus. Ia akan segera sadar. Mungkin dengan menghirupkan minyak aroma terapi ke dekat hidungnya akan bisa membuatnya segera sadar.” Jelas Kai.


“Ternyata, selain CEO dan pembisnis yang hebat kau juga seorang dokter yang baik. Ibu bersyukur memiliki menantu sepertimu.” Ucap Ibu dengan lega.


“Aku bukan CEO lagi. Dan aku juga bukan dokter. aku bahkan takut darah. Maka dari itu aku tak melanjutkan kuliah kedokteranku ke tingkat spesialis. Jangan tanya bagaimana aku bisa lulus S1 kedokteran. Aku hanya pandai teori dan berkat pengaruh dari kakekku aku bisa lulus.” Ucap Kai dengan putus asa.


“Kau sudah tidak menjadi CEO lagi? Tapi mengapa? Ibu lihat di tv Kasablanca Grup masih dalam kejayaannya. Bagaimana bisa?” Tanya Ibu heran.


“Paman tiriku yang mengambil alih semuanya. Termasuk semua aset keluarga kami. Aku sekarang tak punya apapun, hanya sebuah rumah yang kutempati saat ini yang kupunya. Itu satu-satunya peninggalan dari orag tuaku dan atas namaku.” Jelas Kai.


“Oh, astaga. Ibu turut prihatin mendengarnya. Kau ditimpa musibah bertubi-tubi. Istrimu sekarang kehilangan ingatannya dan kau juga kehilangan pekerjaan dan hartamu, pasti berat bagimu untuk melewati semua ini. maafkan Ibu karena selama ini ibu terlalu keras kepadamu dan malah menjauhkanmu dari istrimu sendiri.” Ucap Ibu dengan penuh penyesalan.


“Ya, tak apa bu. Aku akan terbiasa dengan semua ini. yang terpenting bagiku sekarang adalah kesembuhan Lily. Aku terus berdoa setiap malam agar ingatannya segera kembali.” Ucap Kai.


“Ibu juga begitu.” Ucap Ibu sambil memandangi wajah puterinya yang kini tengah terbaring.


“Kalau begitu aku pamit dulu ya Bu.” Ucap Kai.


“Iya nak. Padahal kau menginap saja di sini. rumah ini juga sudah menjadi rumahmu. Kau kan suami anak ibu, berarti kau juga anak ibu.” Ucap Ibu.


“Iya Bu, kapan-kapan aku akan menginap di rumah ini. tapi hari ini aku harus pulang au ada janji temu dengan HRD besok. Doakan aku supaya bisa segera memperoleh pekerjaan baru ya bu.” Ucap Kai.


“Ah, benarkah? Ibu turut senang mendengarnya. Pasti Nak, Ibu pasti akan mendoakanmu. Semoga besok semuanya lancar. Hati-hati ya nak, hari sudah tengah malam dan hampir dini hari, segera pulang ke rumah, tak usah mampir ke sana ke sini. ibu takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Rumornya di daerah sini banyak aksi kejatahatan di jam segini.” Ucap Ibu.


“Iya Bu. Kalau begitu aku pamit.” Kai pun pergi.


“Ya, hati-hati di jalan.” Ucap Ibu.


Ibu kemudian menutup pintu. Ia kembali masuk ke kamar. Lily tampaknya tengah mengigau. Apa sesuatu muncul dalam ingatannya? Pikir Ibu. Ibu langsung menghampiri Lily.

__ADS_1


“Kau mau kemana? Tunggu aku! Aku juga ingin ikut! Jangan pergi!” Ucap Lily dengan mata terpejam.


“Lily! Lily! Kau kenapa?” Ibu mencoba membangunkan Lily.


“Aku ingin ikut denganmu, jangan pergi. Apa kau akan kembali lagi ke sini?” Ucap Lily.


“Lily! Bagun Nak.” Ibu menggoncangkan tubuh Lily.


“Tunggu! Will! Aku ingin ikut denganmu!” Teriak Lily dengan kencang hingga ia terbangun.


“Lily! Tenanglah.” Ucap Ibu kini memeluk Lily.


“Aku...aku di mana?” Tanya Lily.


“Kau di rumah nak. Ini Ibu. Lihatlah, ini Ibu. Apa kau mengenalinya?” Tanya Ibu.


“Ibu, aku takut.” Lily kemudian mendekap Ibunya.


“Tenanglah, kau pasti mengalami mimpi buruk.” Ucap Ibu memeluk Lily dengan erat.


“Bu, aku mengingat sesuatu.” Ucap Lily sambil menatap dengan penuh kesungguhan.


“Sungguh? Apa yang kau ingat nak?” Tanya Ibu dengan begitu penasaran.


“Aku mengingat suatu kejadian di masa kecilku. Saat itu aku tengah terjatuh ke jurang, tapi seorang anak lelaki datang menolongku. Dia menggenggam erat tanganku hingga aku berhasil naik kembali ke atas. aku begitu takut dan menggigil saat itu tapi bocah kecil itu memelukku dan menenangkanku. Dia bilang “Tidak apa, bukankah kau gadis pemberani?” Ucap anak lelaki itu. Lalu dia mengantarku hingga pulang.”


“Kemudian setelah itu ia pergi dan bilang bahwa ia tak bisa lagi bertemu denganku. Aku ingin ikut bersamanya tapi dia melarangku. Apa ibu tahu siapa anak lelaki itu?” Tanya Lily penasaran.


“Ibu tak pernah melihatmu bermain dengan anak lelaki semasa kecil. Mungkin kau hanya bermimpi. Sudahlah, ibu lega kau sudah sadar. Sekarang sudah larut malam. lebih baik kita istirahat.” Ucap Ibu.


“Tapi aku merasa itu bukan mimpi. Tapi sudahlah, selamat malam Bu.” Ucap Lily.

__ADS_1


“Selamat malam. tidur yang nyenyak ya nak.” Ucap Ibu sembari menyelimuti Lily.


__ADS_2