Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 6


__ADS_3

Lily dan Kai dalam perjalanan pulang dari butik tadi. Mereka berdua saling bungkam satu sama lain. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, mereka ingin mengutarakan satu hal.


“Kau...”Ucap mereka bersamaan.


“Kau dulu.” Ucap Kai.


“Tidak. Kau dulu saja.” Jawab Lily sama.


“Kau saja.” Kai makin memaksa.


“Hah! Mana ada selesai-selesainya kalau begini. Baiklah. Aku duluan.”


“Dengar, aku ingin bertanya satu hal padamu. Dan kau harus menjawabnya dengan jujur.” Ucap Lily dengan serius.


“seakan perkataanmu penting saja.” Kai malah meledek.


“Aku serius!” Lily kesal.


“Ya, ya. akan ku jawab dengan jujur. Apa?” Tanya Kai sambil fokus menyetir.


“Aku sudah curiga dari awal. Ada beberapa gelagatmu yang aneh dan aku rasa mencurigakan. Apa kau benar-benar bisa mendengar suara hatiku?” Tanya Lily dengan sangat serius.


“Apa? Ahahaha! Aku kira kau benar-benar serius.” Kai menganggap itu adalah lelucon belaka.


“Ini bukan lelucon! Aku serius. Apa kau benar-benar bisa mendengar isi hatiku?” Lily malah makin mencondongkan badannya ke arah Kai. Membuat jarak anatara mereka berdua semakin dekat.


“Menjauhlah. Jangan terlalu dekat. aku tidak bisa menyetir.” Jawab Kai.


“Ya..ya, tapi jawab dulu pertanyaanku.” Lily bersikeras.


“Baiklah. Aku jawab. Tentu saja tidak! Kau ini benar-benar.”Kai tampak sedikit kesal.


“Aku masih tidak percaya. bagaimana mungkin kau menjawab perkataanku, maksudku isi hatiku dengan tepat. Seperti tadi di butik. Aku bergumam dan kau membalas gumaman dalam hatiku dengan tepat.” Ucap Lily.


“Ah, itu mungkin hanya kebetulan belaka. Kau ini, ku kira kau hanya seorang idol saja. Ternyata kau juga tukang imajinasi yang handal.” Balas Kai dengan senyuman meledek.


“Aku tidak sedang ebrimajinasi.” Lily tak terima dikatai oleh Kai.


“Terserah kau saja. Nah, kita sudah sampai.” Kai menghentikan mobilnya dekat gedung agensi Lily. Kai memarkir mobilnya di tempat tertutup sehingga tidak ada orang lain yang tahu.

__ADS_1


“Turunlah. Aku tahu kau pasti tak ingin berlama-lama berada di mobil ini kan?” ucap Kai.


“Ya, aku memang ingin segera menjauh darimu. Kalau bisa sejauh mungkin.” Lily mendumel.


“Itu tidak akan pernah terjadi. Karena sebentar lagi kau akan menikah denganku.” Jawab Kai tak mau kalah.


“Aaaarrrgggh! Terserah kau saja! Aku capek.” Lily kemudian turun dari mobil.


Usai mengantar Lily kembali ke agensinya Kai pun kembali pulang.


Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa waktu pernikahan Lily akan segera tiba.


Di hari itu, Lily pulang lebih awal. Ia sengaja mengatur jadwalnya sesedikit mungkin untuk hari ini karena ia ingin menghabiskan waktu yang lebih lama bersama ibunya malam ini.


Sore itu, setelah membeli bahan makanan bersama managernya, Lily kemudian pulang ke rumah. Ibunya menyambutnya dengan hangat.


“Ibu, aku pulang.” Lily melepas sepatunya dan menggantinya dengan sendal selip untuk di rumah.


“Aaah, kau sudah pulang. Pas sekali, apa kau membawa bahan-bahan yang sudah ibu catat?” Tanya Ibunya sambil menghampiri Lily.


“Tentu Bu. Tapi Pak Manager memakan selai acang merahnya di jalan. Entah masih ada sisa atau tidak.” Ucap Lily sambil menatap managernya dengan sinis.


“Aku hanya memakannya sedikit bu. Tenang saja.” Pak Manager membela diri.


“Ah, aku ragu dengan keahlian masakku. Nampaknya lebih baik aku menunggu di sofa empuk ini dan duduk dengan tenang sambil menonton Running Man saja, hehe. beri tahu aku jika masakannya sudah matang.” Ucap Pak manager langsung melarikan diri.


“Dasar pemalas! Bilang saja Pak manager tidak mau membantu kami, huh!” Ucap Lily dengan wajah cemebrut.


“Sudah, tidak apa. Lagian masaknya juga tak terlalu banyak dan susah. Kita hanya akan memotong beberapa bahan dan memasukannya ke dalam panci rebusan dan menggoreng bebrapa makanan. Tidak sulit kan? Ayo! Lebih baik kita lakukan sekarang.” Ibu pun mulai berjalan ke dapur di susul Lily.


Mereka beruda bahu membahu memasak banyak makanan. Ada kimci, ayam saus pedas, ada sup rumput laut juga, daging sapi, Ramyoen, gimbab, kudapan manis seperti kue beras, kue ikan kacang merah, dan amsih banyak lagi. Malam ini mereka memang sengaja mengadakan acara makan-makan untuk menyambut hari pernikahan Lily.


Semua makanan pun sudah siap. Begitu makanan selesai di tata di meja makan, Manager langsung berlari ke arah meja dan mengambil beberapa makanan.


“Giliran makan-makan saja kau cepat sekali Pak manager.” Ledek Lily.


“Ah, kalau soal itu kau tak usah ragukan aku lagi. Hehe.” Jawab Manager dengan girang.


“yasudah ayo kita makan. tapi sebelumnya, kita berdoa dulu untuk Lily. Semoga pernikahannya lancar, Lily juga akan mendapatkan suami yang menyayanginya dan mertua yang juga menyayanginya. Semoga pernikahannya bahagia, langgeng, dan dikaruniai rezeki yang melimpah ruah.” Ucap Ibu sambil berkaca-kaca.

__ADS_1


Mendengar harapan yang terucap dari mulut ibunya, Lily tak kuasa membendung air matanya dan langsung memeluk ibunya.


“Ibu, aku tak ingin pisah dari ibu.” Gumam Lily.


“Kau tidak akan pisah dengan ibu nak. Kau hanya pindah rumah saja. Kau masih bisa mengunjungi ibu kapanpun kau mau.” Ibu lalu mengusap lembut kepala Lily.


“Aku menyayangi ibu.” Ucap Lily sambil terisak tangis.


“Ibu juga menyayangimu nak.” Sebenarnya ibu juga tak ingin pisah dari Lily, tapi Ibu harus terlihat kuat di depan mata anaknya, agar anaknya juga tak ragu dengan keputusanya. Mau tak mau, suatu saat Ibunya tahu bahwa ia harus melepas Lily, anak satu-satunya untuk dinikahkan dengan seorang pria. Dan tak sangka jika waktunya sudah tiba.


“Emmm, maaf, bukannya aku bermaksud mengganggu momen haru kalian, tapi...apakah kita bisa memulai acara makan-makannya sekarang?” Tanya manager dengan tak enak.


“Kau benar-benar mengacaukan momen haru ku pak manager.” Ucap Lily kemudian melepaskan pelukan ibunya.


“Hehe, mau bagaimana lagi. Perutku sudah berteriak lapar.”


“Dasar.” Lily mendengus pelan.


“Yasudah, ayo makan sekarang.” Ucap Ibu. Mereka pun makan sepuasnya.


Usai acara makan-makan itu selesai, Pak Manager pun kembali pulang ke rumahnya. Lili dan Ibu kemudian beres-beres bekas makan sebentar lalu pergi tidur. Malam ini, Lily tiba-tiba ingin tidur bersama ibunya.


“Ibu...”Lily mengetuk pelan pintu kamar Ibunya.


“Ya, masuklah nak.” Jawab Ibu.


“apakah aku boleh tidur bersama ibu untuk malam ini?” Tanya Lily ragu.


“Tentu Nak. Kapan pun kau mau. Ibu senang kau mau tidur bersama ibu.” Jawab Ibu.


Lily pu tidur di samping ibunya. Ibunya kemudian memeluk Lily dengan erat.


“Ternyata anak ibu sudah besar ya. tak terasa sekarang sudah mau jadi istri orang. Padahal ibu rasa baru kemarin ibu mengantarmu pergi ke sekolah untuk yang pertama kalinya. Waktu itu, kau begitu pemalu dan takut bertemu dengan orang banyak. Eh, malah sekarang pekerjaanu bertemu dengan banyak orang. Itu tandanya kau sudah tumbuh besar nak.” Gumam Ibu pada Lily.


“Tapi, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi gadis kecil kesayangan ibu.” Lily memeluk ibunya.


“Ya, ibu tahu. ngomong-ngomong. Ibu ingat satu hal.”


“Apa?”

__ADS_1


“Apa kau sudah memberi tahu Junho bahwa kau akan menikah?” Tanya Ibu.


“Astaga, belum bu.” Lily baru ingat. Ya, Junho, kekasihnya. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan kekasihnya begitu saja tanpa penjelasan apapun.


__ADS_2