Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 21


__ADS_3

Hujan itu belum reda, sudah hampir tengah malam. Kai mencemaskan mereka berdua. Tidak mungkin mereka tidur di halte ini. tetapi hujan tak mau bernegosiasi dengan mereka. Lily tampaknya sudah mengantuk, beberapa kalia ia menguap hingga membuat matanya berair.


“Apa aku boleh bersender di pundak mu ?” Tanya Lily setelah menguap untuk yang kesekian kalinya.


“Ya, boleh.” Jawab Kai. Ia pun membenarkan posisi duduknya.


“Aku ingin segera sampai di rumah.” Ucap Lily sambil menyenderkan kepalanya di pundak Kai.


“Kita akan segera pulang, setelah hujan ini reda.” Ucap Kai sambil mengelus kepala Lily.


Hujan perlahan mereda, tetapi itu satu jam setelah Lily menyenderkan kepalanya di pundak Kai. Sekarang, wanita itu sudah terlelap tidur di pundak Kai. Kai tak tega untuk membangunkannya.


“Mungkin aku akan membangunkannya setelah hujan benar-benar reda.” Ucap Kai dalam hatinya.


Hujan mulai reda, Kai bersiap untuk pulang. Ia ingin membangunkan Lily. Tapi saat melihat wajahnya, Kai menjadi tak tega. Ia pun memutuskan untuk menggendong Lily hingga sampai ke rumahnya.


“Aigoo, kau berat juga.” Gumam Kai sambil menaikkan tubuh Lily di punggungnya.


Kai berjalan sambil menggendong Lily hingga ke ruamahnya. Untungnya hari sudah larut malam jadi tak ada yang memperhatikannya. Kai tak merasa keberatan melakukan hal itu, ia justru merasa senang. Akhirnya, setelah sekian lama, istrinya kembali ke pangkuannya. Walau ingatannya belum pulih sepenuhnya, tapi Kai bersyukur karena Lily kembali menerimanya dan berada di sampingnya.


“Kai...”Terdengar suara Lily.


“Kau sudah bangun?” Tanya Kai.


“Em. Kita ada di mana?” Tanya Lily kembali.


“Kita sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku. Kau belum tahu rumahku kan? Tentu saja karena aku belum pernah mengajakmu ke sana.” Jawab Kai.


“....”Lily hanya terdiam.


“Apa kau mau turun?” Kai kembali bertanya.


“Tidak. Aku suka seperti ini. aku ingin digendong sampai ke rumah.” Jawab Lily dengan manja.


“Baiklah Tuan Puteri.” Jawab Kai. Ia membenarkan posisi gendongannya. Ia pun meneruskan jalannya.


Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah. Kai pun menurunkan Lily. Tampak Lily begitu senang saat sampai di sana. Ia begitu antusias melihat rumah Kai.


“Waah, rumahnya tampak sangat nyaman. Aku akan betah tinggal di sini. terutama tinggal berdua bersamamu.” Ucap Lily sambil tersenyum manis kepada Kai.


“Yang mendesain rumah ini adalah kedua orang tuaku. Ini adalah rumah impian mereka. Tetapi sayang sekali, mereka hanya tinggal di sini sebentar. Tapi sekarang, rumah ini akan menjadi tempat tinggal kita. syukurlah jika kau menyukainya. Tampak sangat hangat kan nuansanya?” Jawab Kai.


“Em. Aku sangat suka interiornya. Orang tuamu memang pandai dalam mendekor rumah. Eh, ngomong-ngomong di mana mereka sekarang? Aku tak sabar ingin bertemu kembali dengan mereka.” Ungkap Lily dengan lugu.

__ADS_1


“Kau tidak pernah bertemu dengan mereka Lily. Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Aku dulu pernah menjelaskannya padamu. Tapi mungkin kau sudah lupa. Tak apa.” Ujar Kai.


“Oh, astaga. Aku minta maaf, aku benar-benar tidak tahu. Ingatanku begitu buruk sekali.” Keluh Lily pada dirinya sendiri.


“Tak usah menyalahkan dirimu sendiri. Ingatanmu memang belum pulih. Ya sudah, hari sudah tengah malam, kita istirahat ya. besok aku harus masuk ke kantor.” Ucap Kai.


“Baiklah.” Jawab Lily dengan riang.


“Kamarnya ada di lantai atas.” Kai menunjukkan kepada Lily.


“Tidak.” Lily tampak ketakutan.


“Kau kenapa Lily?” Kai terheran dengan sikap Lily.


“Aku trauma dengan tangga Kai.” Jawab Lily dengan wajah ketakutan.


“Ah, iya. Aku lupa. Baiklah, kalau begitu kita tidur di kamar depan dekat ruang keluarga saja ya. Kau tunggu di sini sebentar, aku akan merapikan kamarnya terlebih dahulu.” Ucap Kai.


“Baiklah.” Jawab Lily.


Kai pun bergegas untuk merapikan kamar depan sementara Lily menunggu di sofa ruang keluarga.


Beberapa saat kemudian Kai kembali.


“Wah, terima kasih ya. seharusnya aku yang merapikannya untukmu. Aku kan istrimu, aku malah tidka membantu sama sekali.” Ucap Lily kini mengikuti Kai.


“Tak apa. kau kan baru sembuh.” Jawab Kai.


“....”Kai membuka pintu kamar.


“Wih.” Lily pun masuk dengan senang.


“Kau seperti anak kecil.” Ucap Kai sambil tertawa melihat Lily yang melompat di kasur.


“Kasurnya benar-benar nyaman dan empuk. Aku bisa bangun kesiangan jika begini.” Ucap Lily.


“Kau tak boleh kesiangan, karena besok aku masuk ke kantor. Nanti saat kau bangun aku sudah pergi. Jadi bangunlah lebih awal agar aku bisa berpamitan kerja padamu.” Jawab Kai.


“Ya, dan aku akan menyiapkan sarapan dan bekal untukmu.” Ucap Lily.


“Em. Tapi untuk saat ini kita tidur ya.” Kai pun merebahkan badannya di kasur yang empuk itu.


Ini malam pertama Kai kembali tidur satu kasur bersama istrinya setelah beberapa bulan terpisah. Kai merasa bahagia, ia bahkan bisa terlelap dengan cepat.

__ADS_1


“Kai.” Tiba-tiba Lily bersuara. Kai pun bangun dari tidurnya.


“Ya, ada apa Lily?” Kai membalikkan badannya menghadap lily.


“Aku tidak bisa tidur. Biasanya di rumah, sebelum tidur ibu menceritakan beberapa kenangan dari masa laluku. Itu juga membantuku dalam mengembalikan ingatanku. Dan sambil mendengarkan cerita, Ibu memelukku.” Ucap Lily.


“Baiklah, kalau begitu kemarilah.” Ucap Kai. Lily pun mendekatkan badannya ke Kai. Kai pun memeluknya.


“Kau ingin aku ceritakan apa?” Tanya Kai sambil mengusap rambut Lily dengan lembut.


“Terserah Kau. yang jelas, aku ingin mengingat lagi kenangan indah yang pernah kuhabiskan bersamamu.” Jawab Lily.


“Emmm, kalau begitu apa ya...” Ucap Kai sambil berpikir.


“Oh, aku tahu.” Ucap Kai.


“Ini cerita tentang masa kecilmu. Entah kau mengingatnya atau tidak.” Gumam Kai.


“Kau dan aku adalah teman di masa kecil? Tapi ibu tidak pernah bilang begitu padaku. Setahu ku, ibu hanya bilang bahwa aku dan kau pertama kali bertemu saat di konser itu. Apa kita juga pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Lily penasaran.


“Oh, Emmm....” Kai salah bicara.


“Begini, aku mendengarnya dari cerita temanmu. Jadi aku di sini sebagai pihak ke tiga dalam meceritakan masa kecilmu. Kau mengerti?” Kai beralibi.


“Oh, aku paham sekarang. Baiklah. Aku akan mendengarkan kisahnya sekarang.” Jawab Lily.


“Baiklah, jadi saat kau kecil, kau adalah anak yang pemberani. Berbeda denganku, dulu, saat kecil aku adalah seorang anak yang cengeng, lemah, pemalu dan pendiam.” Ucap Kai mengawali ceritanya.


“Pernah suatu ketika, ada seorang anak lelaki, dia datang sebagai murid baru di kelasmu.” Jelas Kai.


“Siapa nama anak lelaki itu?” Tanya Lily penasaran.


“Namanya Bogeum. Dia anak lelaki paling lemah dan cengeng yang pernah kau temui.” Jawab Kai.


“Apa dia lebih cengeng darimu?” Lily kembali bertanya.


“Aku tidak bisa membedakannya. Aku kan dengar cerita ini dari temanmu.” Kai hampir kebingungan dan tak bisa menjawab pertanyaan dari Lily.


“Oh, Iya. Aku lupa. Lanjutkan.” Ucap Lily.


“Malangnya anak laki-laki itu tak mendapatkan seorang teman pun di kelas itu. Tentu saja, siapa yang ingin berteman dengan laki-laki yang cengeng dan lemah. Hingga suatu hari, anak lelaki itu mendapatkan seorang teman. Teman yang baik dan selalu melindunginya. Ketika anak lelaki itu jadi bulan-bulanan anak lainnya, teman baiknya itu melindunginya.”


“Siapa teman baiknya itu?”

__ADS_1


“Kau Lily. Kau lah satu-satunya teman yang anak lelaki itu punya.” Jawab Kai dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2