
“Dasar tidak becus!”
“Plak!”
Nyonya Kim menampar puteranya sendiri dengan sangat keras.
“Dia bahkan dalam keadaan tak berdaya! Bagaimana kau bisa terkecoh!” Nyonya Kim kini menjambak baju Jung Hwan dengan tatapan mengintimidasi.
“Dia dibantu oleh tangan kanannya. Aku tak mengira jika bangunan ini memiliki semacam terowongan rahasia.” Jung Hwan mencoba membela dirinya.
“Mengapa Kau tak memeriksanya terlebih dahulu! Bagaimana kau bisa menyuruhku untuk tinggal di sini jika seluk-beluk tempat ini saja kau tidak tahu!” Nyonya Kim semakin murka.
“Ampuni aku Ibu! Aku telah ceroboh. Tolong ampuni aku.” Jung Hwan kini berlutut di depan ibunya.
“Enyah kau dari kakiku. Gara-gara kau rencana yang telah aku jalankan selama puluhan tahun kini nyaris gagal!” Ucap Nyonya Kim dengan kesal.
“Beri aku sekali lagi kesempatan Bu. Aku janji kali ini tidak akan gagal.” Jung Hwan memohon kepada Ibunya.
“Tidak lagi. Kau sudah membuatku kecewa. Ku pikir kau anak lelaki satu-satunya yang bisa kuandalkan. Kau sama saja seperti ayahmu!” nampaknya Nyonya Kim sudah kehabisan kesabarannya sehingga ia mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tak ia lontarkan pada anaknya.
“Apa maksud ibu berkata demikian hah?” Nampaknya Jung Hwan terpancing emosinya.
“Kau seperti ayahmu! Sama-sama pecundang!” Nyonya Kim ternyata tak gentar. Ia kembali mengucapkan kata itu lagi.
“Aku tidak sama dengan pria bajingan itu!” Jung Hwan tiba-tiba mencekik Ibunya sendiri.
“Lepaskan aku bodoh! Apa kau ingin menyakiti ibumu sendiri!” Nyonya Kim mencoba melepaskan diri dari cekikan anaknya sendiri.
“Aku bukan anak bodohmu lagi yang selalu kau caci maki saat berbuat salah. Aku juga bukan bocah tololmu lagi yang selalu takut dan tunduk pada semua perintahmu. Aku bisa saja menghabisimu saat ini juga.” Jung Hwan semakin menjadi. Ia malah mencekik ibunya semakin kencang.
“B—bbaik—lah. A—Aaku...aku—aa—aakan memberimu kesempatan kedu..a un...tuk...menghancur...kan....keluarga ...Park.” Ucap Nyonya Kim sambil sesak.
“....”Jung Hwan melepaskan cekikannya.
“argh!” Nyonya Kim membetulkan lehernya.
“Kau tega mencekik ibumu sendiri.” Ujar Nyomya Kim yang masih sesak.
__ADS_1
“.....” Jung Hwan tak menjawab. Sebaliknya, ia malah pergi meninggalkan ibunya begitu saja.
“Dasar tak tahu diuntung! Andai saja ia tahu bahwa ia bukan anak kandungku!” Gumam Nyonya Kim pada dirinya sendiri.
“Jika semua rencanaku sudah selesai maka aku tak akan segan untuk mendepaknya juga.” Tambahnya. Ia pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Nyonya Kim masuk ke kamarnya. ia mengganti pakaiannya yang sudah kusut gara-gara insiden tadi. Dengan wajah yang kesal ia bercermin.
“Orang-orang itu! Ingin aku segera melenyapkannya! Mereka adalah kutu busuk bagi hidupku!” Ucap Nyonya Kim pada dirinya sendiri.
Ia ternyata mengganti pakaian dengan pakaian bepergiannya. Entah mau kemana wanita itu pergi sendirian tanpa dikawal oleh anaknya. Padahal ia masih berstatus sebagai buronan. Mungkin ia sudah tidak memiliki rasa takut lagi.
Ia pergi dengan pakaian sebrba tertutup. Kacamata hitam besar yang hampir menutupi seluruh wajahnya juga masker dan topi untuk menutupi kepalanya. Ia ternyata didampingi oleh seorang supir kepercayaanya.
“Mau kemana kita kali ini Nyonya?” Tanya supir itu.
“Ke tempat waktu itu. Kau masih ingat?” Jawab Nyonya Kim.
“Ya, baiklah.” Jawab supir itu. Mobil pun melesat melewati tempat kumuh itu.
“Orang itu ad di depan mobil kita Nyonya.” Ucap sang supir.
“Ya, aku tahu. aku yang menyuruhnya.” Jawab Nyonya Kim. Ia pun turun dari mobil.
Nyonya Kim berjalan mendekati sosok misterius yang sudah menunggunya. Semakin dekat, semakin dekat. sosok itu pun semakin jelas rupanya.
“Kau sudah lama di sini?” Tanya Nyonya Kim.
“Aku hampir tidak mengenali anda. Jika saja bukan mobil itu yang berhenti, maka aku tidak bisa mengetahui siapa orang dibalik baju ini.” Jawab pria itu.
“Ya, aku memang sengaja tampil seperti ini.” Ucap Nyonya Kim.
“Jadi, apa ada sesuatu yang harus aku kerjakan?” Tanya pria itu.
“Ya. sebuah tugas yang amat penting. Anggap saja ini sebagai ajang balas dendam mu terhada Kai. Bukankah kau musuh bebuyutannya sedari kecil? Ia juga sudah merebut Lily darimu bukan?” Ujar Nyonya Kim.
“Oh, jadi itu tugasnya. Mudah sekali. Baiklah. Jadi aku harus melenyapkan pria itu? Akan dengan senang hati aku melakukannya.” Jawab Pria itu.
__ADS_1
“Bagus. Kau memang bisa kuandalkan. Tapi bukan itu tugasmu.” Ucap Nyonya Kim.
“Lalu apa?” Tanya pria itu dengan muka sedikit kecewa.
“Tugasmu adalah untuk menemukan keberadaan Kai dan Lily. Temukan titik lemahnya agar aku tahu kapan harus menyerang. Awasi terus mereka mulai saat ini.” Jelas Nyonya Kim.
“Baiklah. Aku mengerti. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali menghabisi Kai.” Uca pria itu dengan nada kecewa.
“Aku sendiri yang akan menghabisinya karena ini rencanaku.” Ucap Nyonya Kim.
“Ya, aku tahu. lalu untuk bayarannya? Apa aku boleh menawar? Bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis?” Pria itu memunculkan sifat aslinya.
“Kau memang seperti sebutanmu. Si kutu uang.” Ucap Nyonya Kim dengan mencemooh.
“buk!” Nyonya Kim mengeluarkan segepok uang dan memeberikannya pada pria itu.
“bagus.” Pria itu menyambar uang dari nyonya Kim bagaikan singa yang menyambar daging buruannya.
“Cih! Dasar budak uang!” Ucap Nyonya Kim.
“Apa bedanya aku dengan kau hah? Kita sama-sama budak uang. Mungkin tempat dan caranya saja yang berbeda, hahaha.” Ucap pria itu.
“Aku harus pergi sekarang. Jika aku berlama-lama di sini maka aku akan ajdi sama sepertimu.” Ucap Nyonya Kim mencemooh.
“Ya, silahkan pergi Nyonya. Aku ingin menikmati waktu berduaan dengan uang-uang kesayanganku ini.” Jawab pria itu.
Nyonya Kim lalu meninggalkan tempat itu. Ia kembali masuk ke mobilnya.
“Orang yang seperti itu yang nyonya temui?” Tanya sang supir.
“Ya, aku tahu dia memang pecundang. Tapi ia memiliki rasa benci yang lebih besar dari siapapun terhadap Kai. Aku bisa memanfaatkannya dengan mudah.” Jelas Nyonya Kim.
“Ya, tapi anda juga perlu berwaspada. Orang seperti itu, memiliki dua sisi, di satu sisi terlihat lugu dan liar seperti kucing, tapi di sisi lain, ia juga seorang heina.” Ucap sang supir.
“Aku tahu. tak payah mengguruiku semacam itu. Ayo jalan!” Ucap Nyonya Kim.
Mobil pun kembali jalan meninggalakn gang itu. Tampak cahaya kembali memasuki jendela mobil. Mereka kini melewati perkotaan yang semakin larut malah semakin ramai. Suasana kota berubah menjadi desa dan hutan saat mobil melesat menjauhi perkotaan. Mereka memasuki lagi tempat kumuh itu. Tempat yang nyonya Kim harap bisa segera keluar dan jauh-jauh dari sana.
__ADS_1