
“Pelan-pelan, pijakan kita rapuh, jangan sampai kau salah pijak. Aku takut ada jebakan lagi di sini.” Ucap Kai sambil mengelap wajahnya yang bercucuran dengan darah.
“Kai, kau terluka parah, aku tak bisa membiarkanmu seperti ini.” Ucap Lily yang tak tega melihat suaminya bermandikan darah.
“Kita sudah tidak punya banyak waktu Lily. Kita juga tidak bisa kembali. Kau masih ingat kan dengan rencana yang telah kita buat? Percayalah, pasti berhasil. Tinggal sedikit lagi. Kita pasti bisa.” Ucap Kai.
“Tapi kondisi tubuhmu Kai.” Ucap Lily sambil merintih kasihan.
“Tak apa. ayo, terus jalan.” Ucap Kai.
Mereka terus berjalan hingga tiba di depan pintu besar yang terbuat dari kayu ek dengan penerangan obor yang berada di sisi kanan dan kirinya.
“Lihat, kita sudah sampai. Ibu ada di balik pintu ini. siapkan diri kita, kita akan dengan Nenek dan paman tiriku secara langsung.” Ucap Kai.
“Ya, aku harap kita berhasil.” Gumama Lily dengan cemas.
“Pasti.” Ucap Kai.
Mereka pun menbuka pintu itu secara bersamaan. Pintu itu tidak dikunci. Nampaknya mereka sengaja membuatnya seperti itu.
Pintu pun terbuka, baik Kai maupun Lily kini bisa melihat kondisi di balik pintu itu. Ada Ibunya Lily yang tengah diikat kedua lengannya dengan rantai yang dikaitkan dalam sebuah tiang besar. Lalu ada nenek dan paman tirinya yang tampaknya sudah menunggu kedatangan mereka. Dan satu orang misterius yang menegenakan topeng hitam lengkap dengan jubah hitamnya. Apa itu semacam algojo?
Mereka masuk ke dalam ruangan itu dengan berhati-hati.
“Selamat datang tamu istimewaku.” Ucap Nenek dengan senyum liciknya.
“Ah, menantu, nampaknya kau sudah ingat siapa aku?” Ucap nenek sambil menatap ke arah Lily dengan tatapan yang keji.
“Lepaskan ibuku!” Ucap Lily dengan kesal.
“Tentu...tentu. akan kulepaskan ibumu. Segera setelah kalian menandatangani surat ini.” Ucap Nenek sambil menunjukkan sebuah amplop besar berisi dokumen penting.
“Aku tidak akan pernah melakukannya.” Ucap Kai dengan bengis.
“Benarkah? Kau pasti berfikir kau bisa keluar lagi dari tempat ini. melarikan diri seperti sebelumnya kan? Tapi kali ini tidak bisa. jangan harap! Pengawal!” Nenek langsung menepukkan tangannya dengn keras. Tak lama beberapa orang mencekal Lily dan Kai hingga membuat mereka tidak bisa kabur kemana pun.
“Apa kau masih berpikir akan berhasil lolos dariku kali ini? kau sendiri yang sudah masuk ke kandang ini. jangan harap kau bisa lolos.” Ucap nenek.
“Lepaskan!” Mereka berdua memberontak. Kai dborgol kedua yangannya. Begitu pun dengan Lily. Kesempatan mereka untuk Lolos semakin kecil.
“Bu, bangun Bu! Apa kau mendengarku. Tolong bangunlah. Aku datang ke sini untuk membawa ibu pulang.” Ucap Lily sambil menangis.
“Dengar nona cantik, kau bisa pulang dengan selamat bersama ibumu jika suamimu mau menandatangi surat ini. lagi pula aku tidak ada kaitannya denganmu atau dengan ibumu. Aku menggunakan kalian hanya untuk emmancang Kai agar ke sini. jadi ayo, cepat paksa suamimu agar mau menandatangani surat ini.” Ucap Nenek.
__ADS_1
“Jangan dengarkan dia Lily, perkataanya hanyalah dusta belaka.” Ucap Kai.
“Diam Kau!” Jung Hwan meninju Kai dengan kencang.
“Kai!” Lily semakin panik saat melihat Kai dipukul.
“Jangan kau sentuh dia lagi! Apa kau tidak melihat kondisnya? Dia sudah sekarat! Jika dia kau habisi maka harta itu akan ajtuh ke tanganku!” Ucap Lily.
“Jung Hwan, hentikan.” Ucap Nenek.
“Cih!” Jung Hwan tampak kesal.
“Cepat tanda tangani surat ini bodoh!” Nenek menjambak wajah Kai.
“Jangan harap.” Ucap Kai dengan lemah.
“Kau ini memang perlu diberi pelajaran!” Nenek mengeluarkan senapannya. Senapan yang sama dnegan milik Kai.
“Arrrggghhh!” Kai diserang dengan sengatan listrik.
“Kai!” Lily tak kuasa melihat itu. Ia menjerit dengan sangat kencang.
“....”Kai langsung tak sadarkan diri.
“Tidak. Aku tidak mau.” Lily bersikeras.
“Oh, mungkin kau juga butuh dorongan.” Ucap nenek kemudian mendekati Ibu.
“Tidak! Janagn Ibuku!” Lily mulai panik.
“Baiklah. aku akan menandatanganinya.” Lily akhirnya menyerah.
“Bagus.” Dengan mata yang girang nenek langsung menghampiri Lily.
“Cepat tanda tangani sekarang!” Nenek menyodorkan kertas itu.
“....”Lily akhirnya menandatangi surat itu.
“Bagus...bagus...sekarang, kau! habisi wanita ini dan ibunya. Untuk Kai, aku sendiri yang akan mengurusnya.” Ucap Nenek.
“Tidak! Kau sudah berjanji tidak akan menyakiti Lily atau ibunya! Kau hanya akan menyerang Kai!” Tiba-tiba pria bertopeng hitam itu maju.
“Apa kau pikir aku akan benar-benar dalam negatakan hal itu? Tentu saja tidak! Tidak ada yang lebih penting daripada uang di dunia ini dasar bodoh!” Ucap Nenek.
__ADS_1
“Kau sudah berhianat!” Pria itu melepaskan topengnya.
“Junho!” Lily begitu kaget saat meihat wajah asli dari pria bertopeng itu.
“Mengapa kau tega melakukan ini padaku.” Ucap Lily.
“Kau tidak tahu apapun Lily.” Ucap Junho.
“Sekarang, kau harus menghabisi wanita itu dan ibunya dnegan tanganmu sendiri. Atau kau sendiri yang akan aku habisi dengan tanganku sendiri.” Ucap nenek dengan nada mengancam.
“Tidak akan! Aku tidak akan lagi menuruti perintahmu! Araargggh!” Junho tiba-tiba berbalik menyerang nenek. Jung Hwan langsung melindungi nenek dan melawan Junho.
Saat Junho kewalahan menyerang Jung Hwan tiba-tiba nenek mengangkat pistol dan menodongkannya ke arah Lily.
“Tidaaaak!” Junho berteriak.
“Dor!” Pistol itu sungguhan. Berisi peluru.
“Buk!” Lily terjatuh.
Lily sudah dapat membayangkan bahwa dirinya akan merasakan peluru yang panas itu. Tetapi sebaliknya, ia tak merasakan apapun. Ia hanya merasakan tubuhnya yang jatuh ke lantai yang keras. Ia masih hidup.
“Sudah cukup tangan kotormu itu memakan banyak korban lagi Nenek.” Tiba-tiba Pengacara Jo dan pasukan keamanannya muncul dari atas langit-langit.
“Aku memang masih hidup.” Gumam Lily dalam hatinya. Ternyata pengacara Jo yang menyelamatkannya. Peluru itu meleset mengenainya.
“Kau!” Nenek terlihat geram.
“Ya. apa kau masih mengingatku nek? Anak pungut dari kakek Park. Yang kau anggap sampah!” Ucap Pengacara Jo.
“Anak pungut?” Lily kaget saat menegtahu fakta bahwa pengaca jo ternyata paman angkat dari Kai.
“Na Jowang?” Nenek mulai mengingat siapa pengacara Jo sebenarnya.
“Ya, itu aku. Anak yang selalu kau coba untuk singkirkan. Tapi tenanglah, aku tidak bisa kau singkirkan.” Ucap Pengacara Jo.
“Tapi kau sudah mati bersama si tua Park!” Nenek masih tak percaya.
“Oh, ternyata kau mengira bahwa aku mati. Baguslah, kau jadi tidak tahu bahwa sebenarnya aku belum mati dan masih bertugas untuk melindungi keluarga ini. sekarang seluruh pasukanmu telah berhasil aku lumpuhkan dan kau telah dikepung. Kau tidak bisa lolos lagi. Bagus Lily, Junho, dan Tuan Kai, atau ku sebut sebagai keponakanku. Rencana kita berhasil.” Ucap Pengacara Jo.
“....”Kai tiba-tiba bangun.
“Junho, tangani Jung Hwan, aku dan Kai akan menangani nenek yang satu ini. sementara kau Lily, bawa ibumu keluar dari sini segera. Bala bantuan ada di luar, ibumu tampaknya dehidrasi.” Ucap Pengacara Jo.
__ADS_1
“Bbb—bb—baik Pengacara...maksudku paman Jo.” Lily masih tak percaya dengan kebenaran yang baru di terimanya.